
Melvin uring-uringan karena sang istri sama sekali tidak mau di ganggu. Boro-boro dirinya bisa menjelaskan. Dinka sengaja mengunci pintu kamar.
Melvin duduk di sofa di ruang keluarga. Kedua tangannya bertumpu pada lutut dan jemarinya menutupi wajah tampannya. Pak Mimin pun menghampirinya anak majikannya. "Tuan muda kenapa?" tanya pak Mimin. Melvin tidak merespon sama sekali. Bi Nah juga melihat sepertinya ada masalah diantara keduanya.
Bi Nah mencoba mengetuk pintu kamar Melvin. Karena merasa khawatir pada nonanya. "Non buka pintunya ini bibi" ucap bi Nah. Berulang kali mengetuk tetap saja tidak dibuka oleh Dinka. Terdengar suara Dinka yang menangis. Kembar juga mencoba untuk meminta Dinka agar keluar dari kamar. Tetap saja gagal.
Pelayan yang lain memberitahukan bahwa ada yang datang bertamu. Bi Nah menemui siapa yang datang. Karena merasa tamunya asing dirinya pun memanggil sang suami.
Setelah pak Mimin menemui siapa yang datang dia membisikkan sesuatu pada Melvin. Melvin pun beranjak dari sofa dan bergegas menemui mertuanya yang datang.
"Bapak ibu" sapa Melvin. Ayah tiri Dinka pun langsung memeluk menantunya. Melvin mencium tangan kedua mertuanya. Ibu Dinka begitu takjub melihat rumah menantunya yang sangat mewah. Sampai-sampai mulutnya terbuka.
"Seperti istana ya pak rumahnya" ucap Siti ibu Dinka. Pak Rama pun menyikut badan istrinya. Mereka memang baru pertama kali berkunjung ke rumah besannya. Bella juga melongo melihat rumah yang besar dan sangat mewah.
"Kita ini memang miskin bu tapi jangan malu-maluin" bisik pak Rama ayah tiri Dinka. Pak Rama melihat kesekitar tidak ada anak perempuannya. "Lho mana Adinka?" tanya pak Rama. Melvin bingung sendiri menjawabnya.
Melihat wajah tampan menantunya yang bingung pak Rama mengajak Melvin keluar dari ruang tamu. Melvin pun mengekori ayah mertuanya.
__ADS_1
"Ada apa ndo? Apa yang terjadi?" tanya pak Rama. Melvin masih terdiam sambil tersenyum. "Katakan saja sama bapak" sambung pak Rama. Melvin pun bercerita tentang Dinka yang sudah salah paham padanya.
Pak Rama menepuk-nepuk bahu Melvin dengan pelan. Dia pun bertanya disebelah mana kamar menantunya itu. Pak Mimin mengantarkan pak Rama ke lantai tiga. Karena kamar Melvin berada di sana.
Diketuklah pintu kamar. "Ndo ini bapak, buka ya pintunya" ucap pak Rama dengan lembut. Suara ayah tiri Dinka memang tergolong santai dan halus.
Mendengar suara itu Dinka langsung membuka pintu kamarnya. "Bapak" panggil Dinka dan langsung memeluknya. Pak Rama pun mengelus bahu sang anak. Mata Dinka terlihat sembab karena menangis.
Dinka mengusap airmatanya. "Bapak kapan dateng?" tanya Dinka. "Baru saja sampai" jawab pak Rama. Dinka tersenyum senang melihat sang ayah tiri datang mengunjunginya. "Mana ibu?" tanya Dinka. "Ada di bawah lagi ndopok sama suami mu" jawab Rama.
Rama turun terlebih dulu dan Dinka mencuci mukanya agar tidak terlihat habis menangis. Dirinya pun tersesat karena saking besarnya rumah Melvin. Rama bingung mencari ruang tamu. Setelah muter-muter tidak karuan. Keluarlah dirinya dari pintu belakang rumah yang dianggapnya sebagai depan rumah.
Sebenarnya dia takut melihat perawakan pria yang besar dan gagah seperti menantunya itu. Tapi Rama memberanikan diri bertanya. Sang bodyguard pun memandangi pria paruh baya didepannya.
"Punten pak mau tanya ruangan yang besar dirumah ini sebelah mana ya?" tanya Rama. Bodyguard itu bingung maksud dari pertanyaan pria paruh baya itu. Terdengar dari logatnya sang bodyguard mengira Rama sebagai tukang kebun baru yang tersesat.
Memang banyak orang yang baru bekerja menjadi pelayan dirumah itu sering tersesat dan kebingungan. "Bapak ini mencari ruangan apa?" tanya si bodyguard. "Itu yang banyak lukisan sama ada piano yang besar dan sofanya juga besar" jawab Rama.
__ADS_1
Sang bodyguard pun mengangguk paham dan mengantarkan ayah tiri Dinka. "Sudah lama bekerja disini mas?" tanya Rama. Si bodyguard tersenyum dan menjawab "sudah pak".
Melvin yang sedang mencari mertuanya pun akhirnya bertemu. "Bapak dari mana?" tanya Melvin. Bodyguard itu kaget mendengar bosnya memanggil pria paruh baya itu dengan sebutan bapak. Berarti dia itu mertua sang bos yang berasal dari desa.
"Ini bos tadi ayah mertua bos tersesat" jelas si bodyguard. Melvin manggut-manggut dan mempersilahkan Rama untuk berjalan duluan.
"Bapak kemana saja sih?" tanya Dinka sembari menghampiri sang ayah tiri. "Bapak bingung sama rumahnya jadi tersesat ndo" jawab Rama. Siti pun tersenyum dan berkata "ya bagaimana tidak tersesat rumah ini kan luas dan besar".
Kebetulan sekali mertuanya datang berkunjung. Itu akan membuat Dinka senang. Melvin duduk disofa sebelah Dinka. Tangannya merangkul sang istri agar terlihat mesra. "Wah tuh pak lihat anak kita sangat mesra ya" ucap Siti pada suaminya. Dinka pun mencoba untuk tersenyum.
"Tapi ndo kenapa sama mata mu itu?" tanya Siti. Rama mencoba mengalihkan perhatian istrinya. "Bu kita istirahat dulu ya bapak lelah" ucap Rama. Bi Nah pun mengantarkan kedua orangtua Dinka kekamar tamu.
Bella mengajak Abimanyu untuk berkeliling melihat seisi rumah diantar oleh si kembar. Dinka pun menyusul mereka berdua. Melihat keponakannya sudah lahir, membuat Dinka ingin sekali menggendongnya. "Bel boleh kaka gendong anak kamu?" tanya Dinka. Bella pun menyerahkan sang anak pada Dinka.
"Wah lucunya ponakan aunty" ucap Dinka sambil tersenyum. Abimanyu tampak melihat Dinka dengan tatapan khasnya sewaktu dulu. Baginya Dinka terlihat lebih cantik sekarang daripada yang dulu. Bella mencoba untuk bertanya. Rasa bencinya pada sang kakak berkurang seiring berjalannya waktu. "Kandungan kak Dinka udah usia berapa bulan?" tanya Bella.
"Jalan lima bulan dek" jawab Dinka. Bella melihat suaminya yang terus memandangi Dinka tanpa berkedip. Di cubitnya tangan sang suami.
__ADS_1
Alfan pun pulang kerumahnya. Melihat meja makan yang ramai membuatnya bertanya-tanya siapa yang datang. "Wah ini pasti den bagus yang satunya lagi ya" ucap Rama. Alfan paham siapa yang datang. Dirinya menyalami mertua Melvin.
"Ayo ndo duduk ikut makan malam" imbuh Rama. "Saya mau ganti baju dulu pak" sahut Alfan. Langkah kakinya beranjak pergi dari ruang makan menuju kekamar.