Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
124. Menyembunyikan keadaan #2


__ADS_3

Sang pelayan mengetuk pintu kamar Melvin. Mereka berbaris sambil membawakan berbagai macam hidangan untuk Melvin dan Dinka. Melvin membukakan pintu kamarnya. "Tuan muda makanannya sudah siap" ucap si pelayan. Mereka bergilir masuk dan meletakkan makanan di meja dalam kamar. Dengan cepat Dinka mendekat kearah makanan. Penciumannya sungguh tajam bila perutnya lapar. Melvin mendudukan dirinya di sofa. Matanya melihat sang istri. Terlihat Dinka mengambil makanan dan memasukan makanannya dengan cepat ke mulut.


"Sayang pelan-pelan dong makannya nanti kesedak. Gak ada yang bakal ngrebut makanan mu kok" pinta Melvin. Baru Melvin berkata seperti itu Dinka pun langsung tersedak. "Tuh kan baru juga di bilangin" Melvin mengambil air putih untuk sang istri.


Melvin tertawa kecil melihat reaksi Dinka yang memanyunkan bibir. "Itu mulut minta di cium ya" ledek Melvin. Dinka tidak menggubris ucapan sang suami. Tangannya melanjutkan mengambil makanan.


Melvin ikut memakan makanan yang disediakan. Tanpa dia sadari sebuah minuman yang dia minum telah di masuki obat tidur. Setelah selesai makan matanya begitu berat minta dipejamkan. "Sayang aku tiba-tiba ngantuk banget" ucap Melvin. "Katanya mau kerumah sakit nengokin bunda. Kamu malah ngantuk" Dinka mengusap perut buncitnya yang sudah terisi makanan.


"Gak tau kenapa kayaknya ngantuk banget deh, kita istirahat dulu ya" Melvin beranjak dari sofa menuju keatas ranjang. Melvin membentangkan kedua tangannya meminta pelukan. "Sayang sini" ajak Melvin.


Dinka masih merasa kekenyangan. "Kamu tiduran dulu aja aku mau jalan-jalan ketaman" Dinka berjalan keluar dari kamar meninggalkan Melvin. Tapi Melvin menyusul Dinka dan meraih tangannya. Di gendongnya Dinka kembali kedalam kamar. "Vin turunin gak" gerutu Dinka.


Melvin meletakkan tubuh sang istri ke atas tempat tidur. Dia membuka baju sang istri dan mencium perut buncitnya. "Melvin aku masih kekenyangan" keluh Dinka. Melvin sama sekali tidak menyahuti ucapan Dinka. Bibirnya sibuk berkelana di tubuh sang istri. Bibirnya beralih ke bibir Dinka yang merah. Tangan Melvin melepaskan kemeja yang dikenakannya.


Melihat ulah sang suami Dinka hanya bisa mengikuti alur. Melvin mencium leher jenjang sang istri. Belum selesai sampai tahap selanjutnya terdengar nafas Melvin yang teratur. Dinka melihat ke wajah suaminya. Mata Melvin sudah terlelap. "Eh malah molor gimana sih" gerutu Dinka.

__ADS_1


Tubuh Melvin diangkatnya kesamping. "Tubuh kamu berat banget sih vin astaga" Dinka berusaha mendorong tubuh suaminya dari atas tubuhnya. Tangannya merapihkan rambut Melvin dari wajah tampannya itu. "Kamu emang tampan tapi kenapa nyebelin banget sih" gumam Dinka lirih.


Tangannya mengusap wajah Melvin. Timbul pikiran jahilnya untuk mengusili sang suami. Diambilnya ikat rambut dan menguncir poni Melvin. Beberapa kuciran telat dibuat oleh Dinka. Kini wajah tampan Melvin yang menjadi sasaran. Dinka memberikan riasan seperti badut pada wajah sang suami.


Melihat wajah tampan Melvin yang sudah amburadul Dinka tidak lupa mengambil beberapa jepretan dengan kamera ponsel milik Melvin. Dinka tersenyum sendiri melihat wajah Melvin yang tampan kini terlihat seperti badut. Setelah puas mengerjai sang suami dia pun turun ke lantai bawah.


Kali ini pelayan kembarnya tidak ikut. Jadi dia ditemani pelayan yang lain untuk berjalan-jalan. Karena bahasa inggris Dinka yang kurang fasih membuatnya sedikit kesulitan berbincang dengan pelayannya. Dia biasanya senang mengajak ngobrol para pelayan namun kali ini dia hanya tersenyum dan bertanya seperlunya.


Dinka tidak sengaja melihat sang ayah mertua yang melamun. "Wajah ayah terlihat pucat sekali" ucap Dinka pada diri sendiri. Pelayan yang menemaninya juga kurang paham bahasa indonesia. Dia hanya mengikuti tatapan mata Dinka.


"Aku tadi lihat ayah sedang melamun. Wajahnya juga terlihat pucat, apa ayah sakit kak?" tanya Dinka lagi. "Ayah baik-baik saja. Beliau hanya lelah dan butuh istirahat kok" jawab Alfan tersenyum. Melihat gelagat yang aneh dari Alfan, membuat Dinka bertambah penasaran. "Oh gitu ya" ucap Dinka.


Alfan berjalan menuju lantai atas. Dinka dengan hati-hati mengikuti langkah sang kakak. Alfan berjalan masuk kedalam kamar ayahnya. Pintunya ditutup dengan rapat. Dinka sama sekali tidak bisa mendengar pembicaraan antara Alfan dan ayah mertua. 'Pasti ada yang mereka sembunyikan dari aku dan Melvin, tapi apa ya' batin Dinka.


Dinka menempelkan telinganya ke pintu kamar. Dia benar-benar penasaran ingin sekali mendengar. Karena kamar yang di desain kedap suara Dinka sama sekali tidak bisa mendengarkan.

__ADS_1


Tak lama Alfan pun membuka pintu kamar. Sontak Dinka yang sedang menyender di pintu langsung terjatuh kepelukan Alfan. Dengan sigap tangan Alfan menangkap tubuh Dinka. "Kamu ngapain di sini? Mau nguping ya" ucap Alfan. Dinka hanya cengengesan. "Untung aja kakak tangkep coba kalo enggak kamu bisa jatuh kebawah" keluh Alfan.


Arya sama sekali tidak bereaksi apapun. Hanya melihat dengan tatapan kosong pada Dinka dan Alfan. "Ayah baik-baik aja kan?" tanya Dinka. Sama sekali tak ada respon dari Arya membuat Dinka cemas.


"Kak ayah kenapa?" tanya Dinka. Alfan segera membawa Arya turun ke lantai bawah. Dinka belum mendapat jawaban apapun dan mengikuti langkah kakak iparnya. "Kak kenapa ayah bisa kayak gini? Apa yang telah terjadi kak?" Dinka mencoba untuk mencari tau.


Alfan mendudukan sang ayah ke sofa terlebih dulu. Dinka masih terus mengikuti sang kakak ipar. "Karena kamu sudah lihat keadaan ayah seperti ini, jadi kakak akan jelaskan semuanya sama kamu" ucap Alfan. Alfan menjelaskan secara rinci pada Dinka.


"Bunda sebenarnya masih kritis dari semenjak dibawa kesini. Kondisi bunda yang membuat ayah seperti ini. Dia sama sekali tidak mau makan minum, diajak bicara juga menjawab seperlunya. Maka dari itu kamu harus rahasiakan semua ini dari suami kamu" jelas Alfan panjang lebar.


"Bukannya kak Alfan bilang kondisi bunda sudah mendingan. Apa selama ini kakak bohong sama Melvin" ungkap Dinka.


"Orang yang paling terpuruk dari keadaan ayah sama bunda saat ini pastilah Melvin. Apalagi kalau Melvin tau kondisi bunda yang hanya bergantung pada alat medis. Kamu tau sendiri kan Melvin kaya gimana sewaktu bunda pingsan" Alfan memegangi bahu Dinka.


"Kakak harap kamu rahasiakan semua ini dari Melvin" pinta Alfan. Dinka pun mengangguk perlahan.

__ADS_1


__ADS_2