
Alfan membawa sang ayah kembali kerumah sakit. Dinka bersikeras untuk ikut. Langkahnya dengan cepat mengikuti sang kakak dan ayah mertua. "Dinka please kamu jangan ikut ya" bujuk Alfan. Dinka menggelengkan kepalanya. "Aku mau ikut aku mau lihat kondisi bunda" Dinka membuka pintu mobil dan masuk kedalam.
"Baiklah kalo kamu masih kekeh pengen ikut" Alfan akhirnya menyerah. Dinka duduk bersama mertuanya dan Alfan yang mengemudi. Tangan Dinka mengelus tangan Arya. "Ayah pasti bunda bakal sembuh kok, ayah harus kuat ya" Dinka menggengam tangan Arya.
Tetap saja sama sekali tidak ada respon dari ayah mertuanya. Arya hanya memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong. Melihat kondisi mertuanya seperti itu membuat Dinka tidak tega.
"Sejak kapan ayah begini kak?" tanya Dinka. Alfan menghela nafasnya dalam. "Sejak dokter mengatakan bahwa bunda sudah tidak bisa bertahan lama lagi" jawab Alfan.
Arya tiba-tiba menarik baju Alfan dari belakang. Membuat Alfan dan Dinka terkejut. "Apa yang kamu katakan. Sarah pasti sembuh" bentak Arya. "Ayah lepas ya, iya pasti bunda sembuh karena bunda Sarah kuat menghadapi semua ini yah" Dinka berkata selembut mungkin. Tangannya memegangi tangan Arya agar melepaskan baju Alfan.
Melihat reaksi marah sang ayah mertua membuatnya berpikir keras. Ini saja baru mertuanya apalagi setelah Melvin tau. Bisa lebih parah dibandingkan dengan sang ayah. Itu semua yang ada di benaknya. Temperamen Melvin memang sama persis dengan Arya. Itu membuatnya cemas tidak bisa menjaga rahasia pada sang suami.
Sampailah mereka dirumah sakit. Dinka menuntun Arya berjalan dengan perlahan. Alfan berjalan didepannya. Masuklah mereka kedalam ruang rawat vvip rumah sakit. Dinka menyerahkan ayah mertua pada paman Jay.
Langkahnya mendekati sang ibunda mertua. Seketika airmata Dinka jatuh membasahi pipinya. Melihat kondisi bunda mertuanya yang terbaring lemah tak berdaya. Membuatnya benar-benar kalut. "Bunda harus kuat ya. Bunda harus bangun" Dinka meletakkan tangan Sarah di pipinya.
"Bunda katanya pengen punya cucukan. Bunda harus sembuh agar bisa menggendong cucu" ucap Dinka sembari menangis. Dia merasa sebuah tendangan dari si kecil di perutnya. Tangan Sarah kini diletakkan diperutnya.
__ADS_1
"Bunda bisa merasakan ada tendangan dari cucu bunda sama ayah. Jadi bunda harus bangun ya, bunda harus sembuh demi kita semua" imbuh Dinka. Airmatanya juga tak sengaja jatuh ketangan Sarah.
Dinka menggenggam erat tangan Sarah. Melihat airmata Sarah keluar, membuat Dinka tersenyum. "Kak bunda merespon ucapanku" jelas Dinka. Alfan segera mendekati adik iparnya untuk memastikan. Dia pun segera memanggil sang dokter. Arya ikut mendekat pada istri dan menantunya.
"Ini sebuah respon yang alami, pasien memang mendengar ucapan orang disekitar namun masih belum bisa siuman. Tapi ini kabar baik" jelas sang dokter. Arya tersenyum mendengar penjelasan dari dokter. "Apa bunda bisa siuman dengan cepat dok?" tanya Alfan.
"Saya belum bisa menjamin, tapi melihat pasien sepertinya sangat dekat dengan anda. Sering-seringlah mengajak berbicara dan menjenguknya" saran si dokter pada Dinka. "Baik dok" jawab Dinka antusias.
Alfan mengantar sang dokter keluar ruang rawat. Dinka mengekori dari belakang. "Kalau tidak ada hal yang ditanyakan saya permisi" ucap si dokter. "Terimakasih dok" sahut Alfan.
"Kak berarti bunda bisa sembuh kan?" tanya Dinka. "Semoga saja bunda bisa cepat siuman, sebelum ada kamu keadaan bunda benar-benar kritis. Untuk sementara kita harus rahasiakan dulu dari Melvin ya" jelas Alfan.
Sampai di kediaman megah keluarga Tama, Dinka tertidur. Alfan menggendong sang adik ipar dan membawanya masuk kerumah. Melvin menuruni anak tangga sambil menguap. "Kak Alfan habis bawa Dinka kemana?" tanya Melvin yang tiba-tiba.
Suara sang adik membuat Alfan kaget. "Kamu dah bangun vin" ucap Alfan. Melvin menghampiri Alfan. "Sini biar aku yang gendong" Melvin merebut Dinka dari tangan Alfan.
"Dia kelelahan jadi tertidur sewaktu aku mengajaknya keluar jalan-jalan" ungkap Alfan. "Keadaan bunda bagaimana?" tanya Melvin.
__ADS_1
"Baik-baik saja. Sebaiknya kamu bawa Dinka dulu kekamar" Alfan menjawab dengan senyuman. Dia harus berpura-pura didepan Melvin.
+++
Malam pun tiba kini Reta dan Bobby yang datang kerumah sakit. Tanpa pulang kerumah terlebih dulu Reta langsung mengajak Bobby mengunjungi rumah sakit. Dia juga tidak mengabari Alfan maupun Melvin. "Ta pelan-pelan napah jalannya, nih koper berat banget tau" gerutu Bobby. "Siapa juga yang nyuruh loe bawa baju banyak, kita kesini mau jenguk bunda bukan mau piknik" ucap Reta berkacak pinggang.
"Ini gue bawa dua koper bukan cuma satu doang" keluh Bobby. Reta melotot menatap Bobby. "Jadi loe mau nyalahin gue karena gue nyuruh loe bawain koper gue" Reta merebut koper miliknya sendiri. "Enggak sayang bukan begitu maksud aku" ujar Bobby cengengesan. Tangannya kembali mengambil koper di tangan Reta.
"Kita sebaiknya ke rumah loe dulu ya, gue juga capek. Dari kampus langsung terbang kesini sama sekali belum istirahat lho" keluh Bobby merengek mencari keadilan. "Yaudah loe pulang kerumah gue mau langsung kerumah sakit" ucap Reta sambil berjalan. Bobby di tinggalkan sendirian.
"Kejam banget tuh cewek, teganya dikau padaku ta" gumam Bobby. Dia pun mau tidak mau menunggu Reta di depan rumah sakit. Seperti pengembara yang tersesat tanpa tujuan jelas. Pulang pun tidak tau alamat rumahnya Reta yang berada di Singapura.
Paman Jay tidak sengaja melihat Bobby yang sedang menunggu. Dia pun menghampiri Bobby. "Tuan Bobby kan?" tanya paman Jay. Bobby kurang begitu paham dengan asisten Arya. Tapi paman Jay masih ingat jelas wajah Bobby.
"Nak Bobby anaknya pak Armand kan?" tanya paman Jay memastikan. "Iya nih pak...ngomong-ngomong anda kok bisa tau saya" sahut Bobby.
"Saya asistennya pak Arya, kenapa anda bisa ada disini?" tanya paman Jay. Dapat bertemu dengan asistennya Arya membuat Bobby senang. "Saya kesini bersama Reta, dia lagi jenguk bundanya" ungkap Bobby. "Kenapa tidak ikut masuk kedalam?" tanya paman Jay lagi.
__ADS_1
"Emang boleh ya pak, tapi ini" Bobby menatap kedua koper didekatnya. "Baiklah saya akan membawanya pulang, kebetulan juga saya mau kembali ke kediaman pak Arya" jelas paman Jay.
"Aduh...gimana ya pak, jadi gak enak nih" Bobby menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tidak apa-apa" sahut paman Jay. "Maaf sudah merepotkan pak" ucap Bobby. Dia pun ikut membawakan koper dan memasukannya kedalam bagasi mobil.