
Reta membuatkan bubur untuk kekasihnya dibantu oleh pelayan. "Bi tolong diaduk ya aku mau bangunin Bobby dulu" ucap Reta. Langkah kaki Reta berjalan menuju kamar tempat Bobby tertidur. "Beb, bangun" panggil Reta sambil mengetuk pintu kamar. Tak ada jawaban Reta pun melongok kedalam kamar. Namun sang kekasih sudah tidak ada didalam.
"Lah mana si Bobby" Reta terkejut melihat Bobby tidak ada. "Beb" panggil Reta dengan suara yang keras. Langkah kakinya dengan cepat menyusuri seisi rumah yang luas itu. "Beb" panggil Reta berulang kali. "Mana sih" gerutu Reta.
"Nona cari siapa?" tanya seorang pelayan yang bersisihan dengan Reta. "Bibi lihat Bobby gak?" tanya Reta. "Yang kaya apa ya non?" tanya si pelayan. "Haduh yang tinggi bi segini" jawab Reta sambil menunjuk dengan tangannya ke arah atas.
"Yang kaya tuan muda ya non?" tanya si pelayan. "Bukan lebih tinggi kak Melvin, daripada sama Bobby. Kira-kira segini" jawab Reta.
"Ah ya udah kalau gak tau, ribet deh sih bibi" ucap Reta dengan cepat sambil berjalan ke tempat lain. Bobby belum juga di temukan, membuat Reta semakin khawatir. Melvin masih asik bermesraan dengan Dinka didalam kamar. Reta mengetuk pintu kamar sang kakak.
"Kak lihat Bobby gak?" tanya Reta dari luar kamar. Mendengar suara Reta Dinka membuka pintu kamar.
"Bobby, emang dia kemana?" tanya Dinka. "Waktu aku bangunin udah gak ada kak di kamar, jadi aku cari dia" jawab Reta. Wajah Reta mulai cemas. "Ya udah ayo kita cari bareng" saran Dinka.
"Non Reta sama non Dinka ngapain?" tanya bi Nah. "Lihat Bobby gak bi?" tanya Reta.
"Tuan Bobby sama suami saya di taman belakang non" ungkap bi Nah. "Astaga dari tadi di cari malah lagi ditaman belakang" keluh Reta. "Ya udah sana samperin" Dinka mendorong badan Reta. Melvin sedari tadi memanggil-manggil sang istri. Membuat Dinka geram bila di panggil berulang kali.
"Iya-iya bentar" sahut Dinka. "Pasang dasi sendiri aja gak bisa" keluh Dinka sambil berjalan kembali ke kamarnya.
__ADS_1
"Sayang pasangin dasi dong" Melvin menyerahkan dasi bermotif garis-garis. "Gak cocok sayang sama warna jas kamu" ucap Dinka.
"Yaudah cariin sana mana yang cocok" Melvin menyuruh sang istri. "Kamu nyuruh aku" gerutu Dinka. "Ya tadikan kamu bilang gak cocok warnanya, ya kamu cariin lah dasinya" pungkas Melvin. Dinka memilih satu persatu dasi untuk dikenakan suaminya.
"Bobby dah ketemu?" tanya Melvin. "Udah" jawab Dinka sambil memasangkan dasi pada Melvin. "Tadi lihat gak wajah Reta kayanya tuh panik banget tau Bobby gak ada dikamarnya" ucap Dinka. "Ya wajar lah kalau dia khawatir" sahut Melvin.
"Tapi kalau kamu menghilang aku gak akan khawatir tuh" ujar Dinka dengan entengnya. "Yakin nih kalau aku hilang kamu gak khawatir?" tanya Melvin dengan tersenyum sebelah. Dinka menggeleng dengan cepat.
"Nah udah rapih udah tampan" Dinka mengusap kemeja sang suami. "Sayang yang ini tertinggal" Melvin menunjukan pipinya minta di cium. "Udah sana, udah siang juga" Dinka mengalihkan tubuh Melvin dari hadapannya. Tapi sang suami tidak berbalik. "Sayang satu kecupan aja deh" rayu Melvin. "Engga" Dinka memalingkan mukanya. Bibir Melvin maju kedepan mau mencium Dinka. Dengan sigap Dinka menutup bibir sang suami dengan tangannya. "Vin sana berangkat" gerutu Dinka.
"Satu kecupan aja sayang" Melvin masih belum menyerah. Dia mencuri ciuman di pipi sang istri ketika Dinka lengah. Kakinya berjalan cepat keluar dari kamar.
"Aku juga bisa sabar kok kalau nyuapin kamu, apalagi ngadepin temperamen kamu" sahut Melvin dengan senyuman santainya. Ditambahkan alis yang naik turun bermaksud merayu sang istri. "Apaan sih" Dinka berjalan lebih dulu dari Melvin.
"Sayang jalannya jangan cepet-cepet dong, kalau mau nurunin tangga. Inget kehamilan kamu" Melvin mensejajarkan langkah kakinya dengan Dinka. "Wih so sweet banget" ledek Dinka.
"Iya dong ka harus" sahut Reta. "Papah Armand semalam telpon nanyain kamu, aku bilang kamu nginep disini" kata Melvin. "Iya, aku juga ngecek ponsel banyak panggilan tidak terjawab dari papah" sahut Bobby.
"Kamu kenapa kemaren? Kenapa bisa pingsan?" tanya Dinka penasaran. "Kemaren tiba-tiba kepala ku pusing sewaktu mau pulang" jelas Bobby. "Nih aaaa" Reta menyambar pembicaraan Bobby dan Dinka.
__ADS_1
Dinka jadi ingin ikut menyuapi kekasih adiknya. Dia merebut sendok yang ada ditangan Reta dan mengambil sesendok bubur kemudian menyuapkan pada mulut Bobby yang masih penuh bubur.
Dinka sengaja membuat Melvin cemburu. Dirinya ingin melihat ekspresi wajah sang suami. Benar saja Melvin cemburu dan melirik tajam pada Bobby. Yang dilirik hanya bisa tersenyum dan gugup.
"Aku berangkat dulu ya sayang" Melvin mencium kening Dinka dan mengusap lembut rambutnya.
Sesampainya dikantor Melvin disambut oleh beberapa petinggi dan sekretarisnya di loby. Langkah kakinya masuk kedalam ruang kerjanya. "Bagaimana apa kamu sudah menemukan kandidat yang cocok untuk jadi rekan kerja mu?" tanya Melvin.
"Sudah pak, hari ini hari pertama dia masuk kerja" jawab Silma. "Baguslah lebih cepat lebih baik. Kamu bawa masuk dokumen untuk hari ini ya" ujar Melvin.
"Sudah saya siapkan semuanya pak, sudah rapih di meja anda" Silma berkata sambil tersenyum manis. Melvin manggut-manggut menatap sekretarisnya sambil berkata "tumben kerja kamu cepet". Silma merespon dengan senyumannya.
Penampilan dari sekretaris baru membuat para pria memandangnya karena terpesona. Rok span selutut dengan baju putih lengan pendek. Serta sepatu pantofel sedikit tinggi membungkus kaki seorang wanita yang berkaki jenjang nan mulus. Pemandangan yang membuat para kaum adam ingin memandangnya tanpa rasa bosan. Kacamata bening bulat menghiasi wajah cantiknya. Penampilan yang terkesan seksi menurut para lelaki.
Silma menatap dari atas sampai bawah tubuh seorang wanita didepannya. "Kamu sekretaris barunya?" tanya Silma. "Iya benar sekali" jawab si wanita. Silma kembali membuka resume yang kemaren di berikan oleh bagian Hrd.
'Kayanya aku pernah lihat wanita ini sebelumnya deh' batin Silma. "Dimana tempat kerja saya" ucap lembut si wanita. "Nama kamu Nikita Serinita?" tanya Silma lagi. "Benar sekali kamu bisa panggil saya Serin" si wanita membentangkan tangannya untuk berjabat tangan.
Silma mengingat-ingat wajah dari sang wanita. Karena dia merasa tidak asing dengan wajah tersebut. "Kamu bisa duduk di sebelah saya" Silma menunjukan tempat kerja pada rekan kerjanya. Tangannya tidak lupa bersalaman dengan teman barunya. Si wanita langsung duduk dengan menyilangkam kedua kakinya.
__ADS_1
Silma hanya bisa mengernyit melihat betapa indah tubuh rekan kerja barunya.