Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
168. Perseteruan antar mertua


__ADS_3

Sarapan sudah di hidangkan di meja makan. Semua orang sudah duduk di kursinya masing-masing. "Nak Melvin apa sudah merasa bugar kembali?" tanya ibu mertua. "Maksud ibu?" tanya Melvin balik di sertai mengangkat alisnya. "Kata nak Alfan kamu kelelahan karena bekerja. Jangan terlalu diforsir tenaganya, Nanti bisa sakit lho" nasehat sang ibu mertua.


Rama sedari tadi celingukan kesana kemari mencari putri kesayangannya. Walaupun Dinka hanya anak tiri namun Rama sangat menyayanginya seperti anak kandung. Justru sang ibu kandungnya lah yang sering menindas Dinka. Karena rasa dendamnya pada ayah kandung Dinka. Tapi semenjak Dinka menikah dengan Melvin justru sikap ibunya berubah secara drastis pada Dinka. Menjadi semakin baik.


"Nak Melvin, dari tadi bapak tidak melihat istrimu" sahut Rama. Melvin bingung mau menjelaskan dari mana. Sedangkan Alfan langsung mengambil sendoknya. Mata Melvin melirik pada sang kakak dan memberi kode meminta bantuan. Alfan menggeleng secara perlahan.


Abimanyu melihat ada sebuah kejanggalan. Dia menjadi penasaran apa yang sebenarnya sedang di sembunyikan oleh kakak beradik itu. "Bukannya sebentar lagi mendekati masa hpl nya Dinka ya bu?" tanya Abimanyu pada mertuanya. Dia sengaja memulai percakapan agar Melvin dan Alfan semakin terpojok. Dan mau berbicara apa yang terjadi.


"Oh iya benar, kapan tepatnya hpl Dinka?" tanya Siti pada Melvin. Melvin menjawab secara ragu "mungkin sekitar pertengahan bulan ini bu".


"Iya benar bu, pertengahan bulan ini. Dan Dinka sementara waktu ingin tinggal bersama papahnya" timpal Alfan yang akhirnya menjelaskan sedikit. "Apa? Papahnya?" tanya Siti yang terkejut. "Iya bu" jawab Melvin mengiyakan. Seketika ekspresi wajah Siti berubah menjadi marah. "Apa ada yang salah?" tanya Melvin dengan polosnya. Suasana menjadi tegang dan canggung. Alfan menyuruh Rama untuk mengambil nasi terlebih dulu. Melihat raut wajah mertuanya yang marah membuat Abimanyu tersenyum sebelah.


"Pak silahkan ambil nasinya terlebih dulu" Alfan mempersilahkan. "Iya pak sini biar aku ambilkan" Bella ikut menimpali. "Ibu sarapan nanti saja, kalian sarapan dulu" Siti berdiri dan pergi kedalam kamarnya. Semua pasang mata kompak melihat kepergian Siti.


Melihat istrinya seperti itu membuat Rama tidak enak pada tuan rumah. "Maaf ya nak Alfan dan nak Melvin. Mohon di maklumi" ucap Rama meminta maaf. Melvin merasa aneh karena ibu mertuanya tiba-tiba saja kesal. "Kak apa aku salah berkata-kata" bisik Melvin berkata lirih pada sang kakak. Alfan menggendikkan kedua bahunya. Abimanyu sedari tadi tersenyum tipis melihat kakak beradik itu.

__ADS_1


Abimanyu merasa senang karena ibu mertuanya kesal pada Melvin dan Alfan. "Ibu kalau ada yang mengungkit bapaknya kak Dinka ya begitu" ungkap Bella. Rama segera menjelaskan lebih detail agar tidak terjadi kesalahpahaman.


"Ibunya Dinka itu memang seperti itu bila sudah menyangkut tentang mantan suaminya. Dia sangat membenci mantan suaminya yang dulu. Apalagi sekarang Dinka sudah berhubungan baik dengan bapak kandungnya" jelas Rama.


Melvin dan Alfan kompak saling memandangi satu sama lain. "Makanya kalau ada ibu jangan membahas tentang mantan suaminya lagi" celetuk Abimanyu. Alfan sedari kemarin malam memang tidak menyukai keberadaan dan sikap Abimanyu yang semena-mena pada mereka. Dia lebih pemberani daripada dulu waktu hadir di hari pernikahan Melvin dan Dinka.


"Santai dong bro kita gak tau" Alfan mencoba memudarkan suasana yang begitu tegang. "Kamu itu menantunya bu Siti kenapa tidak tau tentang hal itu" sahut Abimanyu berkata pada Melvin. "Memang ada kaitannya? Sepertinya tidak" Melvin membela diri.


"Sudah-sudah kenapa malah jadi mengobrol tidak jelas begini. Lebih baik makan saja dulu, bapak sudah lapar" keluh Rama. Dia sengaja memotong pembicaraan agar tidak terjadi sebuah pertengkaran dan lebih rumit lagi.


"Pelayan tolong antarkan makanan kedalam kamar ibu" perintah Melvin. "Baik tuan" jawab seorang pelayan yang sedang berdiri di dekat Melvin. "Aku harus berangkat kerja dulu pak sudah siang" Melvin melihat arlojinya yang mewah. Dan berdiri untuk menyalami tangan Rama. "Tapi kamu belum memakan sarapanmu nak Melvin" ujar Rama.


"Oiya pak maaf karena semalam tidak menyambut bapak dan sekeluarga" Melvin mengusap tangan ayah mertuanya. "Tidak apa-apa kamu pergilah sekarang nanti bisa terlambat" saran Rama.


Mereka sudah selesai sarapan dan kini tinggal Alfan yang berpamitan untuk berangkat. "Maaf ya pak aku tinggal kerja dulu. Kalian bersantailah dirumah bila ada keperluan langsung minta saja sama pelayan" ucap Alfan.

__ADS_1


"Dan maaf pak tidak bisa menemani dirumah karena hari ini ada klien yang datang dari dubai untuk meninjau kerjasama dengan perusahaan. Jadi aku harus menemani Melvin" imbuh Alfan. Baru saja Abimanyu akan berbicara namun sudah di dahului oleh Alfan.


Alfan berjalan melewati Abimanyu sambil menepuk bahunya. "Jangan melewati batas" ucap Alfan dengan lirih yang hanya bisa di dengar oleh Abimanyu.


Abimanyu hanya terdiam dan menatap lurus kedepan. "Ada apa mas?" tanya Bella. "Tidak apa-apa" Abimanyu beranjak pergi dari ruang makan.


Dinka tidak ikut sarapan bersama yang lain karena sengaja menghindari sang ayah. Dia sibuk memikirkan cara agar bisa kembali kerumah suaminya. "Bagaimana...aku harus apa" Dinka berbicara sendiri sambil mondar mandir bagaikan setrikaan.


Terdengar sebuah ketukan pintu. "Siapa?" tanya Dinka dari dalam kamar. Namun tidak ada yang menjawab membuatnya penasaran. Ketukan pintu terdengar lagi semakin keras. "Siapa sih" Dinka membukakan pintu dengan kesalnya. Sebuah wajah yang tak asing dengan polosnya tersenyum.


"Pagi kakak ipar yang cantik" Bobby menyapa Dinka. "Kamu kenapa kesini?" tanya Dinka. "Ada pesan dari kak Melvin dia akan datang ke sini nanti sore sebelum papah pulang. Dia akan menunggu di taman belakang rumah" jelas Bobby. "Baiklah" Dinka tersenyum manis mendengar ucapan dari Bobby.


Semalaman tidak bertemu dengan Melvin sudah seperti tidak bertemu sangat lama. Padahal sewaktu dirinya marah pada Melvin boro-boro kangen apalagi rindu, ketemu saja Dinka ogah.


Melvin sejak pagi tidak fokus bekerja. Pikirannya hanya berisikan sang istri. Dia khawatir kalau Dinka tiba-tiba merasakan kontraksi dan tak ada orang dirumah Armand yang membantunya. Padahal banyak pelayan yang berada disana. Armand juga sengaja menyuruh salah satu pelayan untuk mengawasi Dinka.

__ADS_1


"Vin fokus" ucap Alfan dengan lirih. Agar kliennya tidak mendengar mereka. "Iya kak" Melvin segera mencoba kembali fokus pada pekerjaan. Mereka sedang menandatangani kerjasama bisnis. Dan akan menemani klien dari dubai itu untuk meninjau pabrik dan perusahaan.


Walaupun sudah mencoba untuk konsentrasi pada pekerjaan tetap saja Melvin kepikiran dengan sang istri. Melvin undur diri dari ruang konferensi untuk pergi ke toilet. Dia menatap cermin besar di depannya. Dan menghubungi Bobby untuk memastikan bahwa Dinka bisa untuk di ajak bertemu tanpa ketahuan Armand.


__ADS_2