
Dinka menguap selebar mungkin sambil mengulat. Perutnya terasa sangat lapar. "Duh kamu kelaperan ya, bentar yaa mamah mau mandi dulu" ucapnya pada perut sendiri.
Setelah Dinka mandi dia menghampiri para pelayan didapur. Mengambil buah dan tidak ketinggalan madu pastinya.
"Apakah nona lapar?" tanya si pelayan. "Iya nih tapi sarapannya belum siap ya" keluh Dinka. "Sebentar lagi non" jawab si pelayan.
Kebetulan hari ini hari weekend jadi Dinka akan bermalas-malasan dirumah. Dia membawa ranjang buah ke keruang keluarga. Memakannya sembari menonton film kartun favoritnya yang tayang dihari libur. Dinka memposisikan badannya senyaman mungkin.
Mumpung tidak ada Melvin jadi dia bisa bebas mau melakukan apapun. Kakinya diletakkan di atas meja dan tubuhnya direbahkan diatas karpet tebal yang lembut. Dinka tertawa melihat kartun favoritnya.
Itu sedikit menghilangkan rasa gundahnya dalam hati. Cukup menghibur mood nya yang buruk.
Sikembar menghampiri dan duduk di sebelah Dinka. Bagi Dinka pengikut setianya dirumah yakni pelayan kembarnya. "Kalian mau?" Dinka menawarkan buah apel. Alini dan Arini menerimanya.
Alfan berjalan menuruni anak tangga menuju ke ruang makan. Telinganya mendengar suara Dinka tertawa dengan keras. Dia baru tau bahwa Dinka suka tertawa dan suaranya sekeras itu.
Alfan menghampiri Dinka sambil geleng-geleng. Dia lebih terheran bahwa Dinka masih suka menonton film kartun yang tayang di tv.
"Ternyata kau masih suka menonton kartun?" tanya Alfan heran. Ini kebiasaan Dinka yang diketahui lebih dulu oleh Alfan sebelum Melvin. Alfan duduk disofa ikut menonton film kartun.
"Ini film kartun kesukaan ku kak" jawab Dinka diselah tertawanya. Alfan merasa senang mengetahui kebiasaan Dinka. Walaupun itu seperti anak kecil. Namun itu yang membuatnya lebih tertarik lagi.
"Tuan nona sarapannya sudah siap" ucap pelayan. Alfan mengajak Dinka untuk sarapan "ayo adik ipar".
__ADS_1
Dinka menggeleng dan berkata "aku sudah kenyang makan buah kak". Alfan pun pergi keruang makan sendirian.
Pagi-pagi Bobby sudah dibuat repot oleh Reta. Disuruh menjemput keasrama. "Kita mau kemana sih" gerutu Bobby.
"Mumpung weekend gue mau ngajak Dinka piknik" ungkap Reta. Mendengar nama Dinka disebut Bobby menjadi semangat dan menambah laju kecepatan mobilnya.
Sampai dirumah keluarga Tama Bobby memarkirkan mobilnya disebelah garasi karena didalam garasi penuh mobil.
Reta langsung masuk kedalam rumah sembari berteriak memanggil Dinka. "Kaka ipar" panggil Reta. Dia menghampiri Dinka yang berada di ruang keluarga.
Bobby menyalami tangan Alfan terlebih dulu. "Pagi kak Mel..fan" sapa Bobby. "Kau lupa namaku, melfan apanya" gerutu Alfan. "Oiya kak Alfan" jawab Bobby cengengesan.
Reta memaksa Dinka agar mau pergi ke pantai. Namun karena Dinka sedang mager jadi menolak permintaan Reta. "Ayolah emang gak bunek apa dirumah terus, lihat nih rambut gue juga sampai mau keriting gara-gara gak pernah pergi piknik" bujuk Reta.
Alfan dan Bobby juga ikut membujuk Dinka. Mau tidak mau Dinka mengalahi mereka.
Perjalanan ke pantai memakan waktu sekitar dua sampai tiga jam bila tidak macet. Bobby membuka ponselnya setelah mendengar bunyi pesan masuk. Pandangannya tertuju pada Dinka.
Reta mendapati sorot mata Bobby memandang Dinka. Reta meninju lengan Bobby. "Apa yang kau lihat" ucap Reta. "Tidak ada" jawab Bobby dengan gugup.
Mereka sampai juga di tempat tujuan. Alfan memilih tempat yang terujung agar tidak terlalu ramai orang. Dia memarkirkan mobilnya di bawah pohon. Reta langsung menarik tangan Bobby menuju bibir pantai.
Dinka berjalan santai bersama kaka iparnya. Tangan Alfan dilipat kebelakang sembari berjalan. "Segar ya udaranya" ucap Alfan. Dinka mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Reta mendorong Bobby masuk kedalam ombak. Seketika baju Bobby menjadi basah semua. Padahal dirinya tidak membawa baju ganti. Reta tertawa terbahak-bahak.
"Heh tomboy kenapa malah dorong gue" teriak Bobby. Dia langsung mengangkat badan Reta dan menceburkannya kedalam air. Dinka dan Alfan tertawa melihat kelakuan mereka berdua.
"Kurang ajar kuping gue kemasukan air bego" gerutu Reta. Bobby dan Reta main kejar-kejaran di pinggiran pantai. Dinka tiba-tiba merasa mual dan mencari tempat untuk memuntahkannya.
Alfan yang melihat Dinka mual mendekatinya. "Kaka akan cari kelapa muda dulu ya kamu tunggu disini" ucap Alfan. Dinka tidak menjawab karena masih muntah.
Tidak lama kemudian Alfan datang dengan dua buah kelapa muda ditangannya. Dia memberikan satu pada Dinka. Reta merebut kelapa muda ditangan Alfan. "Reta itu punya kaka" ucap Alfan. Reta tidak peduli perkataan kakaknya. Dia berlari menghampiri Bobby yang sedang rebahan dipasir.
Dinka tertawa kecil melihat Alfan. "Dasar anak itu" ucap Alfan sambil geleng-geleng.
Mereka cukup lama menikmati pemandangan pantai. Kebetulan cuaca juga tidak terlalu terik seperti biasa. Baju Reta dan Bobby mengering karena angin yang berhembus cukup kencang.
"Kaka lapar nih ayo cari makan" ajak Alfan. "Kak Alfan gak salah ngajak makan di sekitar sini bukannya kaka itu alergi seafood" sahut Reta.
"Aku juga alergi udang" Bobby ikut menyahuti. Alfan mendesah benar juga ucapan adik tomboy-nya itu. Mereka kembali naik mobil dan mencari cafe atau restoran yang tidak jauh.
Setelah mengisi perut, mereka memutuskan untuk pulang. Kini Bobby yang mengambil alih setir mobil.
Dinka kelelahan dan tertidur selama perjalanan pulang. Begitu juga dengan Reta.
Sampai dirumah Alfan membuka pintu mobil dan hendak menggendong Dinka namun berebut dengan Bobby. "Apa yang mau kau lakukan?" tanya Alfan. Bobby cengengesan sembari menggaruk kepala. "Tidak jadi kak" ucapnya.
__ADS_1
Bobby akan menggendong Reta namun tidak di perbolehkan oleh Alfan. "Kau mau apa?" tanya Alfan lagi. "Mau mengangkat Reta kak" ujar Bobby. "Biarkan saja dulu aku yang akan menggendongnya" sahut Alfan.
"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu kak" Bobby pun berpamitan pulang pada Alfan.