Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
92. Pembuat onar


__ADS_3

Selesai mandi dipakailah jubah handuk. Melvin membuat kopi sendiri tanpa menyuruh Dinka. Sewaktu dulu dia selalu memerintahkan sang istri. Namun kini situasinya berbanding terbalik. Kini Melvin lah yang tidak berani pada sang istri. Bukan berarti suami takut istri. Namun lebih tepatnya Melvin menjaga mood Dinka.


Tangannya membawa secangkir kopi yang baru diseduh. Bau harum khas dari kopi membuat Dinka menengok.


Dinka menghampiri suaminya untuk sekedar mencicipi kopi. Padahal sebelum hamil dirinya tidak suka minum kopi sama sekali.


"Boleh nyicip?" tanya Dinka. "Nih" Melvin menyodorkan cangkir kopinya. Melvin mendudukan bokongnya disofa. Dan mulai membuka laptopnya kembali.


"Kok mati laptopnya, perasaan gak ku matiin deh" ucap Melvin pada sendiri. "Sayang kamu matiin laptop aku ya?" tanya Melvin. Dinka mengangguk.


"File nya udah kamu save kan?" tanya Melvin lagi. "Langsung aku pencet tombol power tadi" kata Dinka dengan entengnya. Seketika Melvin menepuk jidatnya. "Sayang aku lagi merevisi proposal yang mau aku ajuin buat kerjasama sama klien ku di dubai kenapa malah gak kamu save dulu sih. Harusnya dilihat dulu penting atau engganya baru kamu matiin" Melvin berkata dengan pelan dan halus.


"Kenapa juga gak di save sama kamu tadi sebelum pergi. Malah nyalahin aku" gerutu Dinka sambil meletakkan secangkir kopi. "Sayang aku pergi karena buru-buru banget, tadi aku udah kebelet udah di ujung tanduk. Jadi langsung aku tinggalin aja tanpa nge save dulu" penjelasan dari Melvin membuat Dinka meringis.


Mau tidak mau Melvin memulai revisi dari awal lagi. Terpaksa dirinya lembur malam ini. Padahal rencananya sang istri lah yang akan di lemburinya.


Dinka ikut duduk di sofa sambil membaca buku. Tak lama kemudian dirinya tertidur. Melvin memindahkan sang istri ke atas ranjang. Namun tanpa sengaja Dinka terbangun.


Dinka langsung mendorong tubuh suaminya yang dikiranya akan meminta dilayani. "Aku cuma pindahin kamu dari sofa, kenapa malah main dorong aja sih" gerutu Melvin. Kesabarannya benar-benar diuji oleh istrinya.


"Yaudah gak usah ngegas dong" gerutu Dinka. Melvin menunjukan senyuman manisnya. "Siapa juga yang ngomongnya ngegas sayang" ucapnya dengan halus.

__ADS_1


Dinka memiringkan tubuhnya ke kiri. Melvin mengambil nafasnya dalam-dalam dan kembali fokus menyelesaikan pekerjaannya.


Waktu telah menunjukan pukul tengah malam. Pekerjaannya pun selesai. Melvin merebahkan tubuhnya disamping Dinka. Memandangi wajah sang istri sebelum tidur memang sering dilakukannya.


Melvin meletakkan satu tangannya sebagai bantalan Dinka. Dan menggeser sedikit tubuh istrinya agar bisa memeluknya dengan nyaman. Posisi mereka saling berhadapan. Melvin meletakkan kepala Dinka didekat dada bidangnya. Tangan yang satunya memeluk pinggang sang istri.


Karena merasa nyaman Dinka tidak merubah posisi tidurnya sampai pagi. Dinka membuka kedua matanya. Terpampang jelas dada bidang Melvin dan itu sangat dekat. Matanya membulat sempurna. Dengan perlahan Dinka menggeser tubuhnya. Agar sang suami tidak terbangun.


Tapi Melvin malah mengeratkan pelukannya. "Mau kemana" ucap Melvin masih menutup kedua matanya.


Dinka pun terdiam dipelukan suaminya. Bau parfum yang khas milik suami masuk ke hidung Dinka. Menambah rasa yang nyaman bagi dirinya.


"Sebentar ya aku pesen makanan dulu" ucap Melvin. Sehabis mandi Dinka langsung menyantap sarapannya. Melvin pun mengepak semua bajunya dan baju milik sang istri.


"Kenapa di packing emang mau pulang hari ini?" tanya Dinka. "Engga, kita akan pergi ke suatu tempat yang pastinya indah" jawab Melvin. Dinka menyodorkan sandwich yang disisakan untuk suaminya. Karena makanan bagian sang suami pun dilahap juga oleh Dinka. Bagaimana tidak cepat gendut makannya saja banyak.


"Nih" ucap Dinka. Melvin menengok ke meja hanya tersisa piring dan gelasnya saja. Tangannya menerima sandwich yang diberikan sang istri.


"Udah kenyang? Apa masih mau beli eskrim nih sebelum kita berangkat ketempat berikutnya" ucap Melvin. "Udah" jawab Dinka singkat dan jelas.


Mereka berdua dijemput oleh orang yang biasa melayani sang ayah ketika berkunjung ke hongkong. Melvin juga punya sebuah apartement di kawasan real estate di re***se bay beach.

__ADS_1


Dengan menempuh perjalanan satu jam dari pusat kota hongkong. Akhirnya mereka sampai di lokasi. Melvin membawa mobil ke pantai tujuannya. Sedangkan barang-barangnya dimasukan oleh pelayan yang menjemputnya tadi.


Dinka membuka kaca mobil dan menikmati terpaan angin yang cukup kencang. Ditutupnya kaca mobil itu oleh Melvin. Tapi Dinka membukanya kembali. Melvin juga menutupnya lagi. Dinka pun kesal dan menyilangkan kedua tangannya didada.


Kaca mata hitam dipakai Melvin menambah kesan cool diwajahnya. Tiupan angin cukup kencang. Untung saja Melvin membawakan jaket untuk sang istri. Takut kalau Dinka bisa masuk angin. Bisa gawat nantinya.


Dinka berlari kecil menuju ke bibir pantai. Pasir putih dan birunya air laut menambah indah pantai itu. Kebiasaan jahil sang suami pun kumat. Melvin menggendong Dinka dan membawanya masuk kedalam air. Tapi hanya sampai dipinggiran saja karena ombak cukup besar.


Melihat ada yang bermain speedboat membuat Dinka ingin menaikinya. Namun permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh Melvin. Dinka pun cemberut karena tidak di ijinkan naik speedboat.


"Sayang kamu lagi hamil gak usah macem-macem" jelas Melvin. Dinka masih berdiam diri sambil memandangi orang yang naik speedboat itu.


Melvin mengajak Dinka pergi untuk mengambil beberapa foto. Puas berfoto ria mereka berdua berjalan-jalan di pantai. Rasa lapar Dinka datang lagi. Melvin pun mengajak sang istri makan di cafe yang berada disekitaran pantai.


"Aku tadi lihat ada banyak toko souvenir nanti mampir ya" bujuk Dinka. "Iya, abisin dulu makanan mu" jawab Melvin dengan lembut.


Dengan cepat Dinka memakan hidangan yang kebanyakan makanan seafood itu. "Pelan-pelan sayang makannya nanti kesedak" ucap Melvin. Baru saja Melvin berucap Dinka pun langsung tersedak.


Melvin berdiri dan memberikan minum pada sang istri. Tangannya mengelus pundak Dinka. "Kasian bayinya sampai tersedak gitu" ledek Melvin.


"Yang tersedak aku bukan anak kita" gerutu Dinka. Melvin tersenyum lebar mendengar ucapan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2