Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
117. Kesadisan sang ayah


__ADS_3

Melvin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia sangat khawatir pada keadaan sang kakak. "Apa kak Melvin tau dimana kak Alfan?" tanya Bobby. "Ayah pasti bakal bawa kak Alfan ke markasnya" jawab Melvin. Bobby mengernyit mendengar jawaban Melvin.


'Om Arya memang kelihatan dingin sama seperti Melvin tapi apa segarang itu ya om Arya pada anaknya, aku jadi takut' batin Bobby.


Sampai di tempat tujuan Melvin memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari markas yang biasa ayahnya datangi. Sebuah gudang yang luas namun hanya di pakai untuk menyimpan logistik perusahaan. Melihat banyak penjaga yang lalu lalang di depan pintu. Melvin membuat sebuah rencana.


"Bob kamu ngawasin dari sini aku akan masuk lewat jalan pintas" ucap Melvin. "Baik kak" ujar Bobby. Dia mengintai dari balik mobil tua yang sudah usang.


Langkah kaki Melvin berjalan kearah belakang gudang. Dirinya memanjat tembok yang cukup tinggi. Matanya tercengang melihat Enzi di ikat. Dia tidak menemukan Alfan. "Pasti ayah menyembunyikan kak Alfan disuatu tempat" gumam Melvin lirih. Kakinya perlahan memasuki gudang lewat jalan yang diberada di belakang gudang.


"Sial mana kak Alfan" gerutu Melvin pada diri sendiri. Salah satu bodyguard yang berjaga melihat Melvin mengendap-endap. Dia berlari memberitahukan pada bosnya. Terdengar suara Enzi yang menangis meronta meminta pertolongan. Tangannya di ikat dan kedua matanya ditutup tapi mulutnya tidak dibungkam.


"Ayah cukup!" Melvin sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya. Melihat kedatangan sang anak Arya langsung sigap mendekat pada Enzi. "Kamu mau apa kesini?" tanya Arya dengan suara tinggi. "Ayah...Enzi tidak salah apa-apa ini salah aku udah buat mereka bersama" ungkap Melvin.


Tangannya langsung merebut pistol yang berada di tangan Arya. "Ayah berani menembak Enzi aku bakal bunuh semua bodyguard ayah" ancam Melvin. "Kamu tidak usah ikut campur!" bentak Arya.

__ADS_1


Arya memberikan sebuah kode pada salah satu anak buahnya. Keadaan semakin tidak terkendali. Dari belakang Melvin di pukul dengan balok kayu oleh salah satu atasan anak buah Arya. "Kenapa kamu pukul pake itu. Aku cuma menyuruh mu untuk membuat Melvin pingsan. Dasar bodoh!" teriak Arya.


Alfan yang sudah bonyok dibagian wajah melihat sang adik terkapar di bawah. "Melvin" Alfan berlari mendekati sang adik. Kedua tangannya di ikat kebelakang. "Apa yang ayah lakukan!" teriak Alfan.


Melihat si bungsu pingsan dia segera menyuruh dua bodyguardnya untuk membawa Melvin kerumah sakit. Dari kejauhan Bobby melihat ada dua pria berbadan kekar sedang membopong Melvin. Matanya terbelalak melihat seorang Melvin saja bisa pingsan.


"Kak Melvin aja udah kalah apalagi gue" ucapnya sendiri. Bobby menjadi gelisah dan kebingungan. Dia benar-benar takut menghadapi Arya sendirian.


"Ayah tega sudah celakai Melvin, dia tidak bersalah. Cukup aku aja yang ayah hajar!" keluh Alfan. Melihat wanitanya sedang menangis membuatnya tidak tega. Alfan ingin mendekat namun di pegangi oleh anak buah ayahnya. "Ayah sudah peringatkan berulang kali sama kamu masih tidak mendengarnya ini hukuman kamu atas apa yang terjadi" sahut Arya.


"Kalian semua berjaga disini dan bawa Enzi keluar" perintah Arya. "Ayah mau bawa Enzi kemana?" teriak Alfan. Wajah tampannya penuh luka. Apabila sang bunda melihat pasti sudah pingsan.


Sebuah tiket penerbangan diberikan pada Enzi. Ternyata dia akan di kirim keluar negeri agar bisa jauh dari Alfan. "Kali ini kamu saya lepaskan. Tapi kamu harus ke luar negeri dan jangan balik kesini lagi paham" ujar Arya dengan nada tinggi. Dagunya di cengkram oleh Arya. "Ba..baik" sahut Enzi.


Airmatanya mengalir deras membasahi pipi. Baru kali ini dia di perlakukan seperti itu. "Pak Alfan maaf, ini semua demi kebaikan kita" ucap Enzi sambil menangis. Penerbangannya malam ini juga. Dia juga tidak tau sampai kapan harus bersembunyi. Walaupun selama tinggal di luar negeri hidupnya ditanggung oleh Arya. Tetap itu bukan kemauannya.

__ADS_1


Dirumah sakit Melvin sudah siuman dengan sedikit luka di kepala. Untung saja lukanya tidak parah. Luka dibagian kepalanya di perban. Melihat tidak ada yang berjaga didepan pintu ruang inap, dia bergegas melarikan diri. Tanganya memegangi bagian kepala yang terluka karena masih pening.


"Aku harus bisa selamatkan kak Alfan" gumamnya. Melvin melangkahkan kakinya menjauh dari rumah sakit. Dia menyetop taksi dan menghubungi Reta untuk meminta bantuan.


Melvin menunggu di sebuah tempat yang tidak jauh dari gudang tadi. Melihat mobil Reta datang dia segera masuk kedalam mobil. "Kak Melvin kenapa kepalanya dan dimana Bobby?" tanya Reta tidak sabaran. "Bobby mungkin masih ditempat itu" jawab Melvin.


Reta bertukar posisi dengan Melvin. Yang kini mengemudikan mobil adalah Melvin. "Apa kakak tidak apa-apa menyetir?" tanya Reta. Melvin menggeleng sambil fokus ke depan.


Sampailah mereka di tempat yang tadi. Bobby mendengar suara mobil mendekat. Dia segera menghampiri mobil itu. "Kak Melvin Reta" panggilnya. "Kamu masih disini" sahut Melvin. "Ada apa dengan kepalamu kak?" tanya Bobby.


Melvin mengintai dari belakang mobil yang usang. Di depan gudang terlihat sepi. "Apa ada pergerakan dari mereka?" tanya Melvin. Dengan ragu Bobby menjawab "kurang tau kak tadi ketiduran".


Bobby cengengesan sambil melihat Melvin. "****!" Reta mengetok kepala Bobby. "Maaf tadi gak sengaja abis ngantuk" jawab Bobby cengengesan sambil mengelus kepalanya yang sakit. "Lagi keadaan genting kaya gini malah sempet-sempetnya loe tidur" Reta berkata sambil melotot dan berkacak pinggang.


"Sudah-sudah aku harus kembali melihat kedalam gudang untuk memastikan mereka masih ada di dalam atau tidak" ucap Melvin. Tangan Reta dan Bobby kompak menarik Melvin. "Kak bahaya" sahut Reta.

__ADS_1


Melvin melepaskan diri dari Bobby dan Reta. Dia tidak takut bila akan dipukuli lagi oleh sang ayah. Itu semua demi menyelamatkan sang kakak dan memastikan sang kakak aman. Melvin berjalan perlahan masuk kedalam gudang. Tapi pintu gudang sudah digembok.


"Sialan kenapa juga harus di gembok sih!" keluhnya.


__ADS_2