Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
144. Serba salah jadi suami #2


__ADS_3

Dinka hanya mengangguk menanggapi ucapan suaminya. "Sayang kok gitu jawabannya" keluh Melvin. "Terus apa?" tanya Dinka tapi kali ini nada bicaranya tidak ketus lagi.


"Gak papa, lihat kamu gak jutek sama aku aja aku dah seneng kok sayang" sahut Melvin. Dinka tetap terdiam dan memakan coklatnya. "Karena kak Alfan sudah pulang biar dia dulu yang handle perusahaan. Aku mau nemenin kamu seharian besok" ucapan Melvin membuat Dinka senang. Tapi dia masih jual mahal pada sang suami.


"Bener nih?" tanya Dinka memastikan. "Iya sayang, kamu mau kemana besok? shopping, piknik atau mau ke salon?" tanya Melvin dengan antusias. "Biasanya kamu kan gila kerja, bener mau nemenin aku kemana aja?" tanya Dinka.


"Iya sayang, supaya kamu gak jenuh di rumah lagian yang biasanya nemenin kamu kan Reta tapi malah dia juga sibuk sama Bobby karena persiapan buat magang kerja di kantor" ucap Melvin panjang lebar.


"Iya belakangan ini Reta sibuk terus sama Bobby, kamu juga sibuk sama pekerjaan kantor. Sedangkan kembar gak tau mau kembali kerja lagi kapan" keluh Dinka. Keluhan sang istri ini membuat Melvin sedikit lega karena Dinka mau bercerita unek-uneknya.


"Iya sayang, apa mau aku carikan asisten baru lagi buat jagain kamu" timpal Melvin. "Gak usah aku udah sreg sama kembar" jawab Dinka. Tak terasa coklat yang dimakan habis. "Mau lagi" Dinka memberikan bungkusan coklat yang sudah dimakannya pada suami.


"Bentar ya aku ambilkan" Melvin meraih bungkusan kosong dari tangan Dinka. Dia berjalan keluar dari kamar untuk mengambil coklatnya kembali.


Terdengar suara bunyi ponsel milik Melvin. Dinka mencari sumber suara itu. "Siapa nih yang telpon?" tanya Dinka pada diri sendiri.


Tangannya meraih ponsel genggam milik sang suami. Terlihat nomor baru yang belum ada nama. Dinka pun mengangkat telepon itu tapi tak bicara. "Hallo" terdengar suara wanita dari balik telpon. "Hallo vin" ucap si wanita yang menelpon. Dinka tidak merespon suara wanita yang menelpon ponsel milik suaminya.

__ADS_1


"Vin kamu udah pulangkan? tadinya aku mau ngajak kamu makan bareng di kantin perusahaan tapi kamu malah pulang duluan" ucap si wanita lagi.


Dinka langsung mematikan sambungan telepon tadi. Dia paham dan kenal dengan suara wanita tersebut. Seketika dia langsung mematikan ponsel milik sang suami dan mengambil kartu SIM nya.


Setau dia suaminya sudah tidak berhubungan lagi dengan Serin. Namun dia merasa telah di bohongi dan di khianati untuk kesekian kalinya oleh Melvin. Tak terasa air matanya bercucuran membasahi pipi mulusnya.


Melvin melihat Dinka yang berdiri mematung sambil melihat tajam kearahnya. Fokusnya langsung tertuju pada mata sang istri yang menangis. "Sayang kamu kenapa? Apa perut kamu sakit?" tanya Melvin dengan bergerak cepat kearah Dinka.


Dinka sontak melayangkan tangannya dan menampar sang suami. Plakkk terdengar nyaring ditelinga. Melvin benar-benar terkejut dengan tindakan Dinka yang tiba-tiba menampar dirinya. Tanpa penjelasan atau kata apapun Dinka langsung pergi keluar dari kamar. "Sayang aku salah apa?" Melvin bertanya-tanya kebingungan.


Dinka langsung menghampiri kaka iparnya untuk memastikan sesuatu. "Kak Alfan apa bener kalau Serin kerja di perusahaan bersama dengan Melvin?" tanya Dinka yang masih menangis. Pertanyaan dari Dinka membuat Alfan kaget. "Serin kerja di perusahaan? mana mungkin" sahut Alfan. "Tapi tadi aku angkat telponnya Melvin itu suara Serin yang ngomong, dan nomornya gak di namai oleh Melvin kak" jelas Dinka. Alfan menyuruh Dinka untuk duduk agar emosinya tidak meledak-ledak. Melvin mendengar percakapan Dinka dan Alfan dari atas tangga. Dia jadi tau penyebab marahnya sang istri yang tiba-tiba.


Melvin berjalan mendekati Dinka namun Dinka beralih pada Alfan. "Sayang memang benar Serin kerja di perusahaan tapi bukan aku yang rekrut, aku juga gak tau kalau dia masih nyimpen nomor aku. Padahal udah aku blok nomornya dia, kamu percayakan sama aku" jelas Melvin panjang lebar.


"Iya kakak jamin Melvin gak akan bohong lagi sama kamu adik ipar" timpal Alfan menengahi. Dinka menangis sampai sesenggukan. Seketika perutnya terasa kencang dan sakit. "Aduh" keluh Dinka sembari tangannya memegang perut buncitnya.


Melvin dengan sigap menahan tubuh sang istri agar tidak terjatuh. "Sayang kenapa?" tanya Melvin panik. Dengan bergegas tangannya menggendong sang istri didepan dan membawanya kedalam mobil. Dinka masih terus mengerang kesakitan diarea perutnya.

__ADS_1


Sang kakak mengambil kunci mobil dan menyalakan mobil dengan cepat. "Kamu yang pegangin Dinka biar kakak yang nyetir" ucap Alfan dengan cepat. "Kamu beritahu bi Nah dan pak Mimin suruh menyusul ya" perintah Alfan terhadap pelayannya. "Baik tuan" jawab sang pelayan. Ada beberapa pelayan yang melihat Dinka di bawa kerumah sakit. Dan memberitahukan bi Nah sesuai perintah majikannya.


Karena tidak bisa menahan sakit di perutnya Dinka pun pingsan. Itu membuat Melvin begitu panik dan cemas. "Kak buruan Dinka pingsan" teriak Melvin yang sangat khawatir. Tanpa terasa air matanya keluar di pelupuk mata.


Mereka tiba dirumah sakit milik keluarga. Dan membawa Dinka masuk ke unit gawat darurat. Dokter Mirna sedari tadi sudah standby di depan rumah sakit menunggu Dinka. Selama kehamilan Dinka memang dia yang memantaunya.


"Suami boleh ikut masuk" ucap si dokter. Wajah Melvin benar-benar panik melihat Dinka yang tak sadarkan diri. "Sayang bangun" Melvin menepuk-nepuk lembut pipi sang istri dan memegangi tangan Dinka.


"Biar saya periksa dulu ya pak, anda jangan terlalu khawatir. Mudah-mudahan istri anda tidak apa-apa" ucap si dokter menenangkan Melvin. Dokter Mirna mulai memeriksa kandungan Dinka.


"Ini usia kandungan pasien baru memasuki 37 minggu pak, apa mau dilahirkan secara caesar atau menunggu lahiran normal saja?" tanya sang dokter.


"Baiknya bagaimana dok?" tanya Melvin balik. "Ini sepertinya karena sang ibu syok jadi berpengaruh pada kandungannya tapi biar saya kasih obat penguat kandungan. Mungkin belakangan ini istri anda banyak pikiran" jelas sang dokter.


Melvin masih terdiam sambil menatap wajah sang istri tanpa menjawab ucapan dokter Mirna. "Kalau begitu saran saya menunggu saja untuk di lahirkan normal juga bisa pak" ucap si dokter.


"Tapi janinnya sehatkan dok?" tanya Melvin. "Bayinya sehat cuma karena sang ibu syok jadi ada kontraksi terhadap kehamilannya. Tapi tidak apa-apa setelah ini akan saya berikan obat penguat. Kalau begitu saya permisi dulu" jelas sang dokter.

__ADS_1


"Terimakasih ya dok" sahut Melvin.


__ADS_2