Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
Perlakuan Kasar


__ADS_3

Melvin tertidur diruang rawat ibundanya. Tanda peringatan berbunyi. Tiba-tiba kondisi ibundanya kritis lagi. Melvin memanggil dokter lewat telpon yang tersedia diruang inap vvip rumah sakit.


Tak lama kemudian dokter dan asistennya datang untuk memeriksa. Melvin sangat panik melihat kondisi bundanya. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan.


Arya datang bersama paman Jay. Dirinya melihat Melvin yang sedang cemas di luar ruang inap. "Bunda mu kenapa?" tanya Arya panik.


"Bunda sepertinya kembali kritis yah" jawab Melvin. Arya menengok istrinya yang sedang di periksa dokter.


Dokter keluar dan menganjurkan untuk dilakukan operasi mengingat pembuluh darah pada jantung pasien tersumbat. Lagi-lagi Dinka akan diambil darahnya untuk bunda Sarah. Mungkin Dinka sama sekali tidak keberatan. Walaupun setelah itu dia akan merasa lemas.


"Kamu jemput istri mu ya" bujuk Arya. Melvin mengangguk dia bergegas pergi ke kampus Dinka. Dia melajukan mobilnya dengan cepat.


Kemejanya dilipat sampai keatas siku. Dengan memakai celana jeans selutut. Rambutnya acak-acakan tapi itu menambah kesan tampan pada wajah Melvin. Namanya pria tampan mau penampilan seperti apapun tetap tampan.


Dinka dan Reta berjalan santai ke kantin kampus. Mereka tidak ada yang mendengar ponselnya berdering. Melvin sudah menghubungi Dinka namun tidak diangkat. Lalu menelpon adik angkatnya pun sama tidak ada yang mengangkat.


Melvin memukul kemudi mobil karena geram terhadap dua wanita itu. "Disaat genting begini tidak ada yang angkat telpon sama sekali" ucap nya pada diri sendiri.


Sampai didepan kampus Melvin memarkirkan mobilnya disembarang tempat. Dia berlari menuju kantor dosen. Para dosen disana terkejut melihat kedatangan anak dari pemilik Universitas tersebut.


"Bisa lihat jadwal dari jurusan IT semester satu?" tanya Melvin dengan nafas yang tersengal. Dia melihat jadwal yang diberikan petugas kampus.

__ADS_1


Setelah tau keberadaan istrinya Melvin langsung bergegas lari kearah kantin. Banyak mahasiswi yang curi-curi pandang melihat Melvin. Tidak sengaja Melvin menabrak Fahmi didepan pintu kantin. "Maaf" ucap Fahmi. Melvin tidak menggubrisnya dan kesana kemari mencari istrinya.


Dinka berada di sisi kanan pojok kantin karena itu tempat kesukaan mereka ketika makan di kantin. Reta memesan banyak makanan seperti biasa untuk dimakan Dinka.


Fahmi yang mengenali wajah Melvin langsung mengikuti kemana Melvin melangkah.


Melvin akhirnya melihat Dinka dan adiknya. Dia menarik tangan Dinka yang sedang makan. "Em kak Melvin" ucap Reta. Melvin juga tidak menggubris adiknya karena dirinya sedang benar-benar panik.


"Ada apa sih" keluh Dinka. "Kamu harus kerumah sakit" teriak Melvin. Seketika orang-orang yang berada di dalam kantin menengok kearah Dinka dan Melvin. Dia menarik tangan Dinka dan membawanya masuk kedalam mobil. Di ikuti oleh Reta yang duduk dikursi penumpang.


Fahmi melihat Dinka dibawa paksa oleh Melvin. "Sebenarnya apa hubungan mereka" ucap Fahmi. Para senior lelaki pun banyak yang penasaran dengan hubungan mereka. Karena banyak yang menyukai adik juniornya itu. Apalagi senior perempuan juga ikut penasaran.


Sampai dirumah sakit Dinka disuruh keruang donor seperti biasa. Dokter pun ikut mencari stok darah di bank darah. Tersedia satu kantong ditambah dengan kantong darah milik Dinka. Sekiranya cukup untuk persediaan dilakukanlah operasi siang itu juga.


"Kamu lihat keadaan bunda sana biar kakak yang disini" ucap Melvin. Reta meninggalkan Dinka berdua dengan kakaknya. Melvin melotot kearah Dinka. Tangannya mencengkeram dagu Dinka. "Apa yang kamu lakukan, lepas" mohon Dinka.


"Kamu masih tidak mengerti apa kesalahan mu?" tanya Melvin. Tangannya mulai mencengkeram dengan kuat. "Melvin sakit lepaskan" tangan Dinka mencoba melepaskan tangan besar Melvin.


Melvin melepaskan tangannya setelah melihat mata Dinka berkaca-kaca. Wajah Dinka juga sangat merah. Dinka mengusap areal dagu yang dicengkeram oleh suaminya.


Melvin pergi meninggalkan Dinka yang menangis. Dinka sama sekali tidak mengerti dengan kesalahannya pada Melvin.

__ADS_1


Setelah mengumpulkan energi Dinka mendudukan dirinya dan mengambil tas untuk pergi menemui mertuanya yang sedang dioperasi.


"Kakak ipar memang sudah tidak lemas lagi?" tanya Reta. Lidahnya sudah fasih memanggil Dinka dengan sebutan kakak ipar. Padahal umurnya satu tahun lebih tua dari Dinka.


"Kamu ajak Dinka pulang untuk beristirahat" ucap Arya pada Melvin. Namun Alfan menawarkan diri untuk mengantar Dinka dan Reta pulang.


"Ayah kalau ada apa-apa sama bunda kabari Reta ya" ucap Reta. Arya mengangguk.


+++


Dinka terbangun dari tidurnya. Dia melihat jam wekkernya yang menunjukan pukul 23.00 malam. Dinka tertidur dari siang hari sampai malam karena tubuhnya benar-benar lelah. Dia membasuh mukanya dan gosok gigi. Kemudian mengganti pakaiannya dengan baju tidur.


Dinka baru sempat mengecek ponselnya banyak panggilan tak terjawab dari suaminya. 'Jadi karena ini dia marah padaku' batinnya.


Pintu terbuka dari luar. Memperlihatkan wajah tampan sang suami. "Kamu baru pulang mas bagaimana keadaan bunda?" tanya Dinka. Melvin tidak meresponnya. Dia langsung mandi. Dinka jadi merasa bersalah.


Melvin mendekati Dinka yang sedang memainkan ponselnya. Menarik rambut Dinka secara tiba-tiba. "Melvin lepaskan" pinta Dinka.


Tanpa di aba-aba Melvin melumat bibir Dinka dengan buas dan kasar seperti biasa. Terjadilah perang diatas ranjang antara keduanya. Pemenangnya pastilah Melvin. Banyak tanda merah bercecer di tubuh Dinka akibat sentuhan buas suaminya. Melvin tertidur pulas setelah melakukan aksinya.


Dinka menangis dalam diam sampai cegukan. Dia turun kebawah karena air putih yang tersedia telah habis. Pak Mimin belum tertidur. Dia melihat istri majikannya membawa gelas kosong. "Adakah yang bisa saya bantu nona?" tanya pak Mimin. "Tidak ada pak" jawab Dinka.

__ADS_1


Dinka masuk kedalam kamar mandi yang berada didekat dapur. Dia kembali menangis didalam.


__ADS_2