
Dinka akhirnya tersadar. Hal yang pertama di tanyakan adalah Melvin. "Bi Nah" panggil Dinka. Bi Nah sedang tertidur lelap karena semalaman berjaga. "Bi" panggil Dinka ulang sambil memegang tangan bi Nah yang memegangi tangannya sendiri.
"Nona sudah bangun" kata bi Nah dengan senang. "Melvin mana bi?" tanya Dinka dengan suara yang lemah dan lirih.
"Tuan muda ada didepan non, biar saya panggilkan dulu" bi Nah berjalan keluar dari ruang rawat untuk memanggil Melvin.
Setelah tau sang istri sudah sadar Melvin begitu girang dan masuk kedalam ruang rawat Dinka di ekori oleh bi Nah.
"Sayang kamu sudah bangun" ucap Melvin sembari mengelus rambut istrinya. "Aku mau ngomong sesuatu sama kamu" kata Dinka.
Tatapan Melvin beralih pada bi Nah yang menyuruhnya untuk keluar terlebih dulu tanpa bicara. "Saya tunggu diluar ya non tuan" ujar bi Nah.
"Mau ngomong apa sayang?" tanya Melvin penasaran. Dinka masih terdiam dengan mukanya yang terlihat sedikit pucat.
"Sayang mau ngomong apa? Apa mau minta sesuatu?" tanya Melvin lagi. "Aku mau pulang" jawab Dinka dengan lugas. Melvin membuka mulutnya sedikit mendengar ucapan Dinka yang membuatnya bingung. "Sayang mau pulang? Tapi kondisimu masih lemah" sahut Melvin sambil mengusap perut Dinka yang besar.
"Aku mau pulang ke kampung, aku mau melahirkan disana. Aku gak mau ketemu kamu lagi" jawab Dinka. Penjelasan dari Dinka sontak membuat Melvin kaget.
"Sayang maksud kamu apa?" tanya Melvin. Dinka tidak merespon pertanyaan sang suami dan membalikkan tubuhnya membelakangi Melvin. Dia masih trauma dengan perbuatan Melvin. Dan kini perbuatan itu diulanginya lagi.
"Sayang kamu mau ninggalin aku atau gimana sih?" tanya Melvin mencoba bersabar. "Aku tau aku salah, tapi gak pernah sekalipun aku menghianati kamu untuk kedua kalinya. Kamu harus percaya dong sama aku" Melvin berkata dengan pelan dan halus.
Dinka masih diam tidak menanggapi ucapan suaminya. Itu membuat Melvin bertambah bingung. Apalagi sang kakak tidak ada di sampingnya untuk membantu menjelaskan pada Dinka.
__ADS_1
Tanpa mengetuk Reta langsung masuk kedalam ruang rawat. Tangannya membawa bingkisan beberapa buah kesukaan kakak iparnya itu. Dia baru sadar bahwa atmosfir didalam ruang rawat tidak mengenakan. Terlihat Melvin memandangi sang istri dengan dalam.
Tanpa di aba-aba Reta langsung keluar dari dalam ruangan itu. Tidak lama kemudian dokter Mirna datang untuk memeriksa kondisi Dinka.
Melvin keluar dari ruang rawat sang istri dengan mata yang memerah. Namun hanya sedikit airmata di ujung matanya.
Pak Mimin segera mendekati anak majikannya itu dan bertanya apa yang terjadi. "Tuan muda ada apa?" tanya pak Mimin perlahan. Melvin hanya diam membisu memikirkan ucapan sang istri.
Setelah memeriksa kondisi Dinka, dokter Mirna keluar dan berbicara empat mata dengan Melvin. "Tadi saya dengar istri anda ingin pulang kerumahnya yang ada di kampung pak. Dia bertanya pada saya apakah aman melakukan perjalanan jauh dengan keadaan hamil besar" jelas sang dokter.
"Iya dok dia juga bilang pada saya" sahut Melvin. "Saya menyarankan pada anda agar istri anda tidak boleh melakukan perjalanan jauh pada saat seperti ini, bisa saja istri anda malah melahirkan di waktu perjalanan pulang. Kalau boleh memberi saran sebaiknya kedua orangtuanya suruh saja kesini. Mungkin istri anda rindu pada orangtuanya" ucap sang dokter panjang lebar.
"Kalau hanya itu permintaan istri saya bakal saya turuti dok. Tapi ini..." Melvin tidak meneruskan perkataannya.
Melvin mengangguk mengerti ucapan sang dokter. "Mungkin hanya itu saja pak, anda sebagai suaminya harus menjadi suami siaga untuk sang istri" imbuh dokter Mirna dengan tersenyum.
"Kalau begitu terimakasih dok atas sarannya" Melvin berjalan keluar dari ruangan sang dokter.
Alfan sudah berada kembali di rumah sakit dengan Bobby dan Reta. "Nah itu kak Melvin" tunjuk Reta. Wajah Melvin terlihat lesu dan tak bersemangat. "Ada apa vin?" tanya Alfan.
"Kakak aku harus bagaimana? aku harus apa?" tanya Melvin balik. "Sebenarnya apa yang terjadi? Dinka baik-baik sajakan?" Alfan merasa khawatir.
"Dinka ingin kembali ke kampung halamannya dan ingin melahirkan disana, namun itu tidak baik karena perjalanannya yang jauh. Aku bingung kak dia sama sekali tidak mau mendengarkanku" jelas Melvin.
__ADS_1
Reta yang mendengar penjelasan sang kakak berinisiatif ingin membantunya. "Biar aku aja yang coba ngomong sama kakak ipar, siapa tau dia mau berubah pikiran setelah aku bicara dengannya" kata Reta. Bobby mengangguk-angguk mengiyakan ucapan Reta. "Iya tuh kak" ujar Bobby.
Reta menyikut perut Bobby agar tidak usah berbicara. "Ya sudah seperti itu saja, kalian kan sama-sama wanita. Biasanya kalau wanitakan menggunakan hati" timpal Alfan. Melvin hanya mengangguk menuruti ide dari Reta.
Reta pun masuk kedalam ruang rawat Dinka dan mengajak Dinka untuk berbicara. "Kakak ipar apa sudah mendingan?" tanya Reta. Dinka membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Reta.
"Sudah mendingan ta, kamu kapan datang?" tanya Dinka. Sepertinya Reta akan berhasil mengajak Dinka berbicara.
"Bagian mana yang sakit, apa keponakan ku ini nakal" Reta mengelus perut Dinka yang buncit. "Sayang kamu jangan buat mamahmu sakit perut lagi ya, jadi anak yang baik" ucap Reta sembari mengusap-usap perut Dinka.
Dinka tersenyum melihat ulah Reta yang mengajak anak dalam kandungan berbicara. "Kamu ini, mana denger dia" ujar Dinka.
"Kamu emang gak tau kalau bayi didalam kandungan juga bisa denger suara di luar kok" jawab Reta. Dinka menggelengkan kepalanya.
"Astaga kamu ini sudah hamil masa gak tau tentang ini. Bukannya kamu baca seputar kehamilan" imbuh Reta.
"Enggak, yang rajin baca seputar kehamilan Melvin bukan aku" sahut Dinka. "Ya elah yang hamil siapa yang baca seputar kehamilan siapa" Reta menggelengkan kepalanya memaklumi kepolosan Dinka.
"Pantesan Melvin sering ngajakin anaknya ini bicara, kirain aku Melvin hanya kurang kerjaan" kata Dinka.
"Makanya jangan makanan melulu yang dipikirin" ledek Reta. Dia masih belum berani membuka pembicaraan tentang maksudnya.
"Tapi udah gak ada yang kerasa sakit lagi di bagian perutnya?" tanya Reta. "Engga kok" jawab Dinka singkat dan sedikit tersenyum.
__ADS_1
Reta bingung mau memulai dari mana. Takut perkataannya akan menyinggung Dinka tentang masalahnya dengan Melvin.