Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
157. Teman wanita sang kakak


__ADS_3

Sebelum Alfan sampai kerumah, sudah terlebih dulu ada seorang wanita cantik yang menunggunya. Alfan memarkirkan mobilnya masuk kedalam bagasi mobil. Melihat ada mobil asing yang terparkir membuatnya penasaran. Matanya melirik sekilas pada mobil tersebut. Dikiranya itu mobil yang baru di beli oleh sang adik. Terlihat di balkon rumah sedang ada beberapa orang yang asik mengobrol. "Siapa tuh?" Alfan berbicara sendiri. Semakin mendekat langkahnya semakin jelas melihat siapa yang datang bertamu. "Clarisa" sapa Alfan sembari memainkan kunci mobil di tangannya.


"Hai fan kamu pulang juga akhirnya" sahut Clarisa. Kini pandangan mata Alfan tertuju pada sang adik yang sudah membuatnya sedikit kesal. Alfan berjalan mendekat pada Melvin. Di jewer nya telinga sang adik karena sudah membuatnya kesal. "Kamu ini ya pulang dari rumah sakit gak ngasih kabar sama kakak" ucap Alfan sembari mencubit telinga Melvin. "Aduh kak sakit" gerutu Melvin mencoba melepaskan diri. "Kamu tau gak kakak takut kamu hilang lagi" keluh Alfan berkacak pinggang.


"Tuh ada yang cariin kakak malah di cuekin" Melvin mencoba mengalihkan pembicaraan. "Ada perlu apa nih?" tanya Alfan. "Aku mau ngajak kamu ke acara arisan keluarga aku, sebab papih maksa aku buat bawa kamu kesana. Mumpung keluarga aku lagi pada ngumpul jadi aku samperin rumah kamu" jelas Clarisa. Alfan tersenyum tipis menanggapi ucapan Clarisa. "Gimana fan kamu mau gak? Papih aku maksa lho" imbuh Clarisa. Alfan mencium gelagat yang aneh dari wanita yang ada didepannya itu.


"Sudah kak mau saja, sana buruan pergi" usir Melvin sembari mendorong Alfan ke samping Clarisa. "Ya kali masa kakak harus pergi memakai baju kaya gini" keluh Alfan. Sebenarnya dia mau menolak ajakan Clarisa namun kini tidak bisa karena merasa tak enak.


"Ayo fan, please mau ya" ucap Clarisa memohon agar Alfan mau sembari memasang wajah berharap. "Yaudah aku ganti kemeja dulu ya, tunggu sebentar" pinta Alfan. Sembari menunggu Alfan berganti pakaian Clarisa lanjut mengobrol lagi dengan Melvin. "Oiya kamu tadi bilang Ronald menghamili Serin? Gimana ceritanya?" tanya Clarisa. "Gak tau jelasnya kaya apa, Ronald yang ngaku sendiri" jawab Melvin. "Mau-maunya Ronald sama Serin, kaya gak ada cewek lain saja" Clarisa menyilangkan kedua tangannya kedada.


"Bukannya dia dulu teman akrab mu waktu kuliah?" tanya Melvin meledek. "Temen akrab dari hongkong. Kalo emang dia teman akrabku ngapain juga dia merebut pacarku sendiri" sahut Clarisa dengan cepat.

__ADS_1


"Ya udah gak usah bahas wanita itu lagi males deh" imbuh Clarisa. Melvin hanya senyum-senyum mendengar ucapan Clarisa. Mimik wajah Clarisa memang lucu bila sedang kesal pada apapun. "Kamu masih sama ya kaya dulu, masih sama konyolnya" ungkap Melvin. "Tapi masih tetep cantik dong, apa tambah cantik nih" ujar Clarisa dengan mengibaskan rambutnya yang di semir menjadi warna pirang. "Hahah udah kaya boneka santet aja tuh rambut di kibas-kibas pula" ledek Melvin. Dulu sewaktu Melvin berpacaran dengan Serin dirinya lumayan akrab juga dengan Clarisa. Jadi sudah menjadi biasa bila dirinya menggunakan Clarisa sebagai bahan candaan.


"Sembarangan aja boneka santet, yang ada tambah ke bule-buleannya dong. Sudah cantik kaya gini juga kakak angkat mu gak pernah suka padaku" Clarisa memasang wajah sedihnya. Melvin tertawa terbahak-bahak melihat Clarisa. "Kak Alfan tuh paling gak suka sama cewek yang berinisiatif duluan. Lebih suka cewek yang kalem, lemah lembut gak kaya kamu. Apalagi yang jelas-jelas mengejar dia. Jadi kesannya tuh murahan menurut kak Alfan" jelas Melvin.


"Emang kentara banget ya kalau aku ngejar Alfan lagi?" tanya Clarisa dengan lirih. Melvin manggut-manggut menjawab pertanyaan Clarisa.


Alfan pun sudah selesai dengan kemeja berwarna merah maroon dipadukan dengan topi dan celana pendek selutut. Cukup menambah ketampanannya, namun masih tetap tampan sang adik. Penampilan Alfan membuat Clarisa terpesona. "Ayo" ajak Alfan sembari berjalan lebih dulu ke bagasi.


Mobil melaju dengan kecepatan biasa. Alfan yang menyetir menggunakan mobilnya sendiri. Sedangkan mobil milik Clarisa yang di tinggal dirumahnya. Senyuman di bibir Clarisa terus terpancar. Betapa senangnya dia bisa memperkenalkan Alfan pada kedua orangtuanya. "Kenapa dari tadi senyum terus?" tanya Alfan sembari mengemudi. "Gak papa" jawab Clarisa menghentikan senyuman di bibirnya.


Sampailah mereka berdua di rumah sodara dari orangtua Clarisa. Keluarga Clarisa kompak melihat pria yang keluar dari mobil. Pria yang tampan bila disandingkan dengan Clarisa. "Siapa yang datang?" tanya nenek dari Clarisa. "Hai mih pih" Clarisa mencium tangan kedua orangtuanya secara bergilir di ikuti oleh Alfan. "Oma" sapa Clarisa sembari memeluk sang nenek. "Siapa itu ca?" tanya sang nenek. "Ini pacar aku oma namanya Alfan" jawab Clarisa.

__ADS_1


Alfan terkejut mendengar ucapan dari Clarisa. Tapi dia hanya bisa diam. "Wah itu pacar kamu, ganteng sekali" ungkap neneknya. "Iya dong oma" Clarisa memandangi Alfan. "Sayang sini dong biar aku kenalin sama oma" ajak Clarisa.


"Caca ini suka ngarang bu, pria ini temannya bukan pacar" jelas mamih Clarisa. "Mana mungkin bukan pacar, aku sudah pernah bilang sama mamih kalau aku sudah punya pacar baru" Clarisa menyangkal dengan tegas sambil menggandeng tangan Alfan. Alfan tersenyum dengan terpaksa.


"Jadi ini pria yang kamu ceritakan waktu itu?" tanya papih Clarisa. "Iya pih anaknya om Arya relasi bisnis papih dulu" ungkap Clarisa. "Perkenalkan saya papihnya Clarisa" ucap Bima papih Clarisa sembari mengajak bersalaman. "Iya om, nama saya Alfan" Alfan menanggapi dengan sedikit kegugupan karena malu bertemu dengan keluarga besar teman semasa kuliahnya dulu.


"Bagaimana kabar ayah kamu?" tanya Bima. "Baik om" jawab Alfan sembari tersenyum. "Saya dulu sering bertemu dengan Arya dan menjalin kerjasama dengannya sebelum pindah ke singapura. Tapi kini sudah jarang bertemu karena sudah tidak menjalin kerjasama lagi" jelas Bima. "Oh iya om" sahut Alfan.


"Ya sudah kalian terusin ngobrolnya aku mau menyapa yang lain" timpal Clarisa sembari menjauh dari Alfan dan papihnya. Itu membuat Alfan semakin gugup karena tak ada seorangpun yang di kenalnya di tempat itu. Clarisa sengaja meninggalkan Alfan agar Alfan bisa berbincang banyak dengan papihnya dan semakin dekat.


Alfan semakin kikuk berhadapan dengan Bima. Sedari tadi hanya masalah bisnis yang di bicarakan mereka berdua. Tak lupa juga Clarisa memperkenalkan Alfan pada seluruh keluarga besarnya. Tanpa terasa waktu sudah sore. Alfan berpamitan untuk pulang. Namun dicegah oleh Clarisa karena dirinya masih ingin berlama-lama dengan sang pujaan hati.

__ADS_1


Dulu waktu awal kuliah Clarisa menyukai Melvin. Namun cintanya bertepuk sebelah tangan dan beralih pada Alfan. Kini dia berharap bisa memiliki Alfan sepenuhnya.


__ADS_2