
Hari berlibur telah usai. Selama perjalanan pulang Dinka mabuk. Membuat wajahnya sedikit pucat. Sampailah mereka di bandara. "Melvin" ucap Alfan sembari melambaikan tangan. Melvin menuntun sang istri. Kopernya di bawakan oleh petugas bandara.
"Kenapa istrimu?" tanya Alfan. "Dia mutah tadi di pesawat mungkin masuk angin" jawab Melvin. Karena merasa lemas Dinka pun tertidur didalam mobil
Alfan menengok ke jok belakang. Seutas senyuman menghiasi wajahnya. "Gimana sudah baikan sama adik ipar?" tanya Alfan. "Menurut kakak?" tanya Melvin balik.
"Dilihat dari raut wajahmu pasti sudah kan. Kalau sudah baguslah" sahut Alfan sambil fokus menyetir. Melvin mengelus-elus kepala Dinka.
"Pertunangan kakak sama Serin di batalkan oleh ayah" lanjut Alfan. Melvin menatap sang kakak lewat kaca spion. "Serius kak?" tanya Melvin.
"Iya selama kamu dan Dinka berlibur orangtuanya Serin datang dan mengembalikan cincinnya. Ya karena ada seorang adik yang bodoh yang mau mengorbankan diri agar sisi buruk Serin terlihat" sindir Alfan.
Melvin tertawa kecil merespon Alfan. "Ayah sudah ceritakan semuanya pada ku" imbuh Alfan. Melvin menghela nafas lega karena sang kakak tidak jadi bersanding dengan Serin.
"Kakak sebenarnya juga mau membatalkan sendiri pertunangan dengan Serin, tapi kakak memikirkan bunda dan ayah. Kakak gak mau buat mereka malu" jelas Alfan sembari menyetir mobil. Melvin diam mendengarkan.
"Kakak sudah lama tidak cinta sama dia" ungkap Alfan. Melvin kembali melihat kaca spion sambil bertanya "apa ada wanita yang kakak suka?".
Alfan tertawa terbahak-bahak. "Kalau kakak jawab pertanyaanmu pasti kamu akan marah" sambungnya. "Kenapa gitu?" tanya Melvin lagi.
__ADS_1
Alfan tersenyum dan melihat kebelakang lewat kaca spion. "Sudahlah kamu lebih baik tidak usah tau jawabannya" jelasnya. Melvin menyatukan kedua alisanya. Kini tatapannya tertuju pada sang istri dan mengelus perutnya.
Sampai dirumah mewahnya Melvin menggendong Dinka. Tidak sengaja Dinka terbangun dan kembali memuntahkan isi perutnya tepat dikemeja yang Melvin pakai. "Vin turunin dulu perut aku mual banget" ucap Dinka lirih.
Melvin mendudukan sang istri di sofa ruang tamu. Kembar datang dengan membawakan minuman. "Apa masih berasa mualnya?" tanya Melvin sembari tangannya mengelus pundak Dinka.
"Nona minum dulu" ucap Alini. Dinka meminum air namun belum sampai kerongkongan sudah keluar lagi. Perutnya yang sudah di isi makanan di pesawat pun di mutahkannya. "Buatkan minuman jahe ya" suruh Melvin. Si kembar pergi ke dapur.
Dinka menatap suaminya. "Baju kamu vin" ucapnya. "Gak papa kok" sahut Melvin.
Setelah sang istri tertidur pulas dikamar Melvin bersiap untuk pergi ke kantor. Sebenarnya tubuhnya sudah cukup lelah tapi ada pekerjaan yang penting menunggunya. Sang kakak juga sudah kembali ke kantor lebih dulu. "Kembar nanti kalau Dinka bangun berikan bubur ya" suruh Melvin.
Siang itu sangat terik. Melvin diantar oleh sopir pribadinya. Sampai di kantornya Melvin disambut oleh petinggi yang lain di dalam ruang konferensi. Mereka akan mengadakan meeting seputar kerjasamanya.
Karena proposal yang dikirimkan Melvin waktu lalu, mereka tertarik mengajak perusahaannya untuk bekerja sama dengan perusahaan XnT milik Melvin. Kali ini tander besar dimenangkan oleh Melvin sendiri tanpa bantuan sang ayah.
Kontrak kerjasama ditanda tangani. Pemimpin dari perusahaan dubai dan Melvin berjabat tangan. Disaksikan oleh para petinggi yang lain dimeriahkan dengan tepuk tangan. Setelah itu mereka banyak berbincang.
Alfan menyuruh Silma dan Enzi menyiapkan makan malam bersama untuk merayakan kesuksesan kerjasama itu. "Wah pasti akan jadi makan malam yang asik nih" ucap Enzi sembari berjalan ke ruangannya bersama Silma.
__ADS_1
"Iya biasanya para direktur dari anak perusahaan pak bos yang lain bakal diundang. Dan pastinya akan banyak pria tampan" jelas Silma. Enzi menonyor kepala Silma. "Eh kamu tuh sebenarnya sukanya sama siapa pak Melvin apa yang lain sih" gerutu Enzi.
"Pak Melvin aku cuma kagum aja lagian dia udah punya istri, aku bakal cari yang single dan menikah diantara pria yang jadi direktur" ucap Silma antusias. Enzi hanya menggelengkan kepala. "Kalau aku si lebih tertarik sama pak Alfan" sahut Enzi.
Mereka berdua tidak tau kalau Alfan berjalan di belakangnya dan mendengar semua obrolan sekretaris Melvin. Alfan mensejajarkan langkahnya di tengah mereka berdua. "Kalau mau bergosip tunggu nanti setelah pulang kerja" timpal Alfan.
Kedua sekretaris itu langsung terkejut melihat Alfan. "Apa pak Alfan dengar apa yang kita bicarakan?" tanya Silma. "Mungkin" ucap Enzi sambil menatap Silma. Mereka segera menutup rapat-rapat mulutnya.
Melvin memasuki ruang kerjanya dan menduduki kursinya yang cukup lama kosong. Melihat tumpukan berkas membuatnya pusing sendiri. Melvin menyuruh kedua sekretarisnya untuk memindahkan berkas dan dokumen yang tidak terlalu penting.
Alfan berinisiatif membuat kopi. "Lah mau dibawa kemana berkasnya?" tanya Alfan. "Ini pak disuruh disimpan dulu" jawab Silma. Alfan melihat Enzi membawa berkas lebih banyak dan membantunya. "Sini berikan padaku" pinta Alfan.
Enzi seketika menjadi gugup. "Tidak usah pak saya bisa sendiri" ucapnya dengan malu-malu. Alfan merebut paksa berkas yang berada ditangan Enzi. Silma yang menyaksikan pun menjadi heran.
"Anggap saja ini rasa terimakasih karena kamu sudah tertarik padaku" ucap Alfan. Hati Enzi seketika berbunga-bunga mendengar ucapan atasannya. Alfan memang dikantor terkenal dengan sikap profesionalnya. Belum pernah sekalipun dia berkata manis pada bawahannya.
Sebenarnya Silma dan Enzi saja yang tidak tau kepribadian Alfan. "Wah sepertinya pak Alfan juga tertarik padamu" bisik Silma. "Hus apa-apaan sih" sahut Enzi
Silma mulai menggoda Enzi. "Pokoknya nanti malam kamu harus make up yang cantik agar pak Alfan suka padamu" ucapnya. "Aku jadi ngiri deh" imbuh Silma.
__ADS_1
Melvin membuka dokumen satu persatu. Tapi otaknya tidak bisa konsen bekerja karena memikirkan sang istri dirumah. Melvin pun memutuskan untuk pulang saja.
Melihat Melvin keluar dari ruang kerjanya Silma langsung berdiri. "Pak bos mau kemana?" tanya Silma. Melvin melihat jam tangannya. "Nanti suruh pak Alfan membawakan beberapa dokumen yang tadi kamu pindahkan kerumah ya" perintah Melvin. "Siap pak" sahut Silma sambil mengangguk.