Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
119. Hari yang melelahkan


__ADS_3

Reta terbangun dari tidurnya. Dia berlari ke lantai bawah ke ruang kerja sang ayah. Mengingat hari sudah pagi pasti Melvin belum siuman. Bi Nah dan Sarah melihat Reta berlari menuruni anak tangga. "Sayang ada apa?" tanya Sarah.


Reta tidak menjawab pertanyaan sang bunda. Pikirannya sibuk memikirkan kakaknya. Tangannya membuka pintu ruang kerja. Tapi didalam tampak sepi. 'Apa kak Melvin sudah bangun, syukurlah kalau dia sudah siuman. Bisa gawat kalau sampai ada yang tau' gumam Reta dalam hati.


Sarah berjalan mendekati Reta. "Sayang ada apa? Apa kamu cari ayahmu?" tanya Sarah. "Engga kok bun" jawab Reta tersenyum.


"Ayo sarapan dulu" ajak Sarah sambil memegang tangan Reta. "Sejak kemarin sore ayah belum juga pulang sampai sekarang. Bunda tidak tau kemana ayahmu" jelas Sarah.


Reta duduk di samping sang bunda. Sarah mengambilkan nasi dan lauk untuk Reta. "Kamu datang jam berapa semalam kok bunda tidak tau?" tanya Sarah lagi. "Aku dateng ketika bunda udah tidur" jawab Reta.


"Bi panggilkan Dinka untuk sarapan ya" pinta Sarah. "Baik nyonya" jawab bi Nah.


Bi Nah mengetuk pintu kamar Dinka dan Melvin. Tapi tak ada jawaban dari dalam. Karena tak kunjung ada jawaban bi Nah kembali ke lantai bawah.


"Tuan Melvin dan nona sepertinya belum bangun nyonya" ucap bi Nah. Selesai sarapan Reta pergi untuk mencari Bobby yang belum kembali kerumahnya. "Mobil gue belum dirumah pasti Bobby juga belum pulang" ucap Reta sendiri.


Setelah muter-muter mencari Bobby akhirnya Reta kembali kerumah. Mobil yang dipakai Bobby sudah terparkir dihalaman rumah. "Nah itu mobilnya" ucap Reta sendiri. Namun ada yang ganjal banyak mobil yang terparkir dihalaman rumah. 'Ada apa ini kenapa banyak mobil disini, apa semua tamu ayah' batin Reta.

__ADS_1


Langkahnya mendekat kearah mobil yang berjajar rapih. Didalam ruang tamu juga ada banyak orang. Mereka berpakaian rapih mengenakan jas. Ada pula para wanita yang mengenakan kebaya modern.


Ada salah satu pria muda yang menarik perhatian Reta. Teman bermain masa kecilnya juga turut datang. Kedua orangtuanya juga duduk manis di antara tamu. "Nah ini anak yang di tunggu sudah datang" ungkap Arya. Reta yang tak tau menau ada urusan apa langsung ditarik oleh Arya untuk duduk.


"Sayang ini orangtua Daniel datang untuk melamar kamu" penjelasan dari Arya membuat Reta melongo dan melotot. "Maksud ayah?" tanya Reta.


"Maaf sebelumnya kedatangan kita memang terlalu dadakan begini jadi membuat pak Tama dan sekeluarga pasti kaget" ucap ayah Daniel. "Memang kami sedikit terkejut tapi kami memakluminya" ungkap Arya.


Reta menarik-narik baju ayahnya. "Ayah Reta gak mau" ucap Reta lirih. Sarah tau hubungan anak gadisnya dengan Bobby namun karena keadaan masih ramai dia tidak bisa membicarakannya dengan Arya.


'Pantes Bobby gak ada kayanya dia tau tentang ini dan langsung pulang, duh pasti dia marah banget sekarang' batin Reta. Dinka dan Melvin ikut menemui keluarga Daniel.


"Maaf sebelumnya ini terlalu dadakan untuk kami sekeluarga dan adik saya pasti sangat terkejut dengan kedatangan dari keluarga pak Charles ini" Melvin ikut mengambil alih pembicaraan. "Dan Reta ini masih kuliah jadi belum siap untuk menikah" sambung Melvin.


"Mereka memang datang kesini dadakan tapi ayah dan pak Charles memang sudah merencanakannya dari jauh-jauh hari" jelas Arya. Melvin tidak akan menyerah. Dia tau kalau sang ayah berencana menjodohkan Reta. "Kalau begitu keputusan ada pada Reta, bagaimana dek?" tanya Melvin sembari melempar kode pada Reta untuk menolak.


"Aku sebenarnya..." Reta berkata namun langsung dipotong oleh Arya. "Saya sangat berterimakasih padamu karena melamar anak saya, saya dengan senang hati menerima lamaran ini" timpal Arya. Sarah menyubit tubuh suaminya. Dia sama sekali tidak bisa berkata apapun.

__ADS_1


"Bagaimana kalau pertunangan kita adakan seminggu dari sekarang?" tanya Charles ayah Daniel. "Bagus-bagus lebih cepat lebih baik" jawab Arya. Wajah sumringah Daniel terpancar. Berbeda dengan Reta yang sangat marah pada ayahnya.


Rombongan keluarga Daniel berpamitan. Reta masuk kedalam kamar sembari membanting pintu. "Ayah apa-apaan ini? Waktu kemaren-kemaren kak Alfan sekarang Reta" Melvin menghadang jalan ayahnya yang akan masuk kedalam rumah.


"Kan cuma pertunangan dulu pernikahannya juga masih lama belum di rencanakan" jawab Arya dengan entengnya. "Ayah Reta itu masih kuliah kenapa ayah nyuruh dia untuk bertunangan lagian Reta sudah punya pasangan sendiri" tungkas Melvin.


Arya sama sekali tidak merespon perkataan sang anak. "Ayah pokoknya Melvin gak setuju kalau Reta bertunangan dengan laki-laki itu!" ucap Melvin dengan suara keras. Tangannya mengepal karena marah.


"Kamu tidak usah ikut campur lagi dengan keputusan ayah. Ini semua demi kebaikan kalian. Ayah mencarikan pasangan hidup untuk kalian agar kalian bahagia. Setelah pertunangan Reta ayah akan menikahkan Alfan" Arya berjalan kedalam rumah.


"Ayah!" panggil Melvin sambil berteriak. Dia langsung pergi kekamar Reta untuk membawanya pergi. "Vin sudah kamu lagi emosi jangan begini" Dinka mencoba menghalangi. "Sayang aku gak bakal biarin Reta di jodohkan oleh ayah" ucap Melvin.


"Reta buka pintunya ini kakak" Melvin mengetuk pintu kamar Reta. Airmata Reta sudah membanjiri wajahnya. "Kakak aku gak mau tunangan sama orang tadi, aku cuma cinta sama Bobby kak" jelas Reta sambil menyeka airmatanya.


"Kamu tenang selama ada kakak disini kamu gak bakal bisa tunangan dengan orang lain" Melvin memeluk adik angkatnya. Dinka ikut menangis melihat keadaan Reta. Terdengar suara ribut-ribut di ruang keluarga.


"Ayah kamu gak boleh mengambil keputusan secara sepihak seperti ini tanpa bicara dulu dengan anak-anak. Apa kamu pikir Reta mau bertunangan dengan Daniel? Dia tidak akan mau yah kamu jangan memaksa anak gadis kita seperti ini" jelas Sarah. "Bunda ini sudah jadi keputusan ayah" sahut Arya dengan cepat.

__ADS_1


Sarah sama sekali tidak tau masalah tentang Alfan yang sudah dihajar habis-habisan oleh Arya. Alfan kabur pun Sarah juga tidak tau menau. "Sudah bunda istirahat ayah mau pergi kesuatu tempat dulu" Arya mencium kening sang istri.


Melihat kepergian sang ayah, Melvin membawa Reta pergi dari rumah.


__ADS_2