
Melvin meregangkan ototnya yang sedikit kaku sembari berjalan memasuki ruang kerja. Dibawah Alfan mencari Dinka. Menanyakan pada pelayan kembar Dinka.
"Alini Arini dimana nona kalian?" tanya Alfan. "Sepertinya dikamar tuan" jawab Alini. Alfan menghampiri kamar Dinka. Dia mendengar suara tangisan dari kamar Dinka. Bulu kuduknya berdiri karena sedikit takut.
Pintu kamar Dinka sedikit terbuka. Jadi suara tangisannya terdengar sampai luar pintu. Langkah kakinya berjalan mendekati pintu dan suara itu terdengar jelas.
Alfan melongok ke selah pintu kamar yang terbuka. Melihat Dinka sedang mengusap air matanya. "Kamu kenapa?" tanya Alfan yang langsung masuk kedalam kamar. Tanpa mengetok pintu terlebih dahulu.
Dinka terkejut dan melihat Alfan sudah berdiri di dalam kamar. Dia mengalihkan wajahnya dan segera menghapus air matanya. Dinka mengumbar senyumnya menatap Alfan. "Kak Alfan sejak kapan ada disitu?" tanya Dinka dengan lembut.
"Senyumu itu palsu, kamu tidak perlu menyembunyikan tangisanmu" ucap Alfan. Dinka menyadari bahwa Alfan melihatnya menangis. Namun Dinka masih mencoba mengelak.
"Ada perlu apa kak Alfan mencariku?" tanya Dinka sambil tersenyum. Alfan pun ikut tersenyum. "Aku punya permainan baru, dan kebetulan aku punya waktu senggang" ucapnya.
Dinka mengangguk mengerti maksud dari kaka iparnya. Alfan turun dan mengambil permainan yang dibelinya. Dinka mengekori dari belakang. Dia memanggil pelayan kembarnya untuk datang ke teras rumah belakang.
Kali ini mereka memainkan permainan monopoli. Permainan yang terbilang kekanakan tapi ada rasa hiburan tersendiri bagi mereka. Mereka bermain sampai larut malam saking asiknya.
Melvin melihatnya dari atas balkon kamar. Terlihat keakraban diantara mereka. "Sejak kapan Alfan jadi kekanakan seperti itu" ucapnya.
Alfan menatap wajah Dinka yang begitu terlihat senang. Dia jadi ikut tersenyum melihat Dinka. Diam-diam rasa yang pernah dipendam Alfan pada Dinka kembali muncul. Dinka juga menatap Alfan dengan tersenyum.
__ADS_1
Alini melihat majikannya saling bersitatap. Alini berdehem. "Sudah cukup malam tuan nona apa mau dilanjut lagi?" tanya Alini.
"Oh iya sudah malam" ucap Alfan sembari melihat jam tangannya. Mereka membubarkan diri. Dinka masuk kekamar dan merebahkan badannya disamping sang suami.
+++
Dinka masuk kekamar mandi setelah sang suami keluar dari kamar. Dia memang sengaja bangun setelah Melvin bersiap.
Dinka menatap cermin di depannya. Memastikan bekas gigitan Melvin tidak perih lagi. Dia bersiap-siap untuk ke kampus. Melvin menunggu istrinya diruang tamu sambil meminum kopi. Dinka memakai dress diatas lulut berwarna merah. Langkah kakinya berjalan menuruni anak tangga.
"Baju apa yang kau pakai itu?" tanya Melvin. Dinka menatap bajunya sendiri. Tidak ada yang salah menurutnya. "Cepat ganti" suruh Melvin.
"Apa ada yang salah dengan baju yang kupakai?" tanya Dinka tidak mengerti. Melvin menatap si kembar untuk segera membantu Dinka berganti pakaian. "Mari nona silahkan" ucap Arini.
Kali ini Dinka memakai celana jeans dipadukan kemeja lengan pendek. Apabila bajunya disuruh ganti lagi dia tidak akan mau. Sungguh menyita waktunya yang terbuang sia-sia.
Melvin tersenyum tipis melihat wajah Dinka yang marah. Niatnya untuk mengerjai sang istri berhasil. "Kenapa dengan wajahmu itu?" tanya Melvin. Mereka sudah berada didalam mobil.
Dinka mendengus kesal tanpa menjawab suaminya. Tapi akan jadi masalah bila dia tidak menjawab. Dinka memulas wajahnya dengan senyuman terbaik. Senyuman itu dia tampakan pada singa jantan didepannya. Walaupun sebenarnya sangat terpaksa. "Tidak papa suamiku" ucap Dinka tersenyum lebar.
Tangan Melvin mulai nakal kembali. Dia membuka kancing baju Dinka sampai tiga kancing. Dinka menahan tangan suaminya. Tapi itu tidak membuat Melvin berhenti.
__ADS_1
Melvin mencium bagian dada milik istrinya. Membuat tato merah disekitarnya. Tidak lupa juga membuat tato di leher jenjang Dinka. "Apa yang kau lakukan" Dinka melihat lehernya yang merah lewat kaca spion.
Rambut panjangnya yang telah diikat kini digerai kembali untuk menutupi bekas ciuman. Melvin melajukan mobilnya. Dinka terdiam sepanjang perjalanan.
Bukan kekampus melainkan Melvin membawa Dinka kekantor. Saking marahnya Dinka tidak mau bertanya kenapa dia dibawa kekantor. Dia memilih diam dari pada berdebat.
"Ayo masuk" ajak Melvin. Dinka melangkah masuk keruang kerja suaminya. Dia masih membungkam mulutnya.
"Tunggulah disini" pinta Melvin. Dinka duduk disofa ruang kerja Melvin. Alfan melihat adik iparnya datang kekantor. "Hallo adik ipar kenapa kesini?" tanya Alfan.
"Apakah kaka ada banyak waktu?" tanya Melvin. "Of course" jawab Alfan sambil mengangguk.
"Segera siapkan rapat untuk membahas proposal yang kemarin" sahut Melvin. Alfan manggut-manggut. Dia menatap Dinka sambil tersenyum. Dinka juga tersenyum balik.
Melvin menangkap gelagat aneh pada Dinka dan Alfan. Apakah mereka ada suatu hubungan yang tidak diketahuinya. Itu yang dipikirkan Melvin.
Setelah selesai rapat Melvin mengajak Dinka pergi ke dokter kandungan. Dinka terheran kenapa singa jantan itu mengajaknya kesana. "Ngapain kita kesini?" tanya Dinka. Melvin tidak menjawab dan masuk kedalam ruang praktik dokter.
Didalam ruang praktik dokter tidak memeriksanya. Dokter langganan keluarganya itu memberi vitamin untuk diminum Dinka. Dia menjadi bingung sendiri.
"Kenapa kita tidak diperiksa? Aku pikir kau mengajak ku ke dokter kandungan untuk di periksa" ucap Dinka sambil mensejajarkan langkah kaki Melvin.
__ADS_1
Melvin berjalan santai. Kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celana. Memang itu termasuk kebiasaan Melvin ketika berjalan selalu memasukan tangannya kedalam saku celana. Biar apa coba mungkin biar terlihat keren.
Tidak ada jawaban Dinka kembali terdiam. "Minumlah secara rutin" Melvin melempar kantong plastik pada istrinya. Dinka menangkapnya sambil menatap sang suami. Mereka kembali ke kantor.