Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
48. Dugaan awal


__ADS_3

Bobby masih merasa ada yang tidak beres dengan masalah yang menimpa Dinka. Dia kembali memutuskan untuk pergi ke restoran.


Dia meminta untuk menemui sang manager restoran. Karena Bobby termasuk pelanggan vip restoran dia diizinkan untuk melihat rekaman cctv yang terjadi saat itu.


Benar dugaannya. Bobby meminta rekaman cctv itu pada sang manager. Setelah dapat apa yang dia mau. Bobby menggunakan ponsel nya yang lain dan mengirimkan sebuah video pada Reta.


Bobby tau hanya Reta orang yang tepat untuk menyelesaikan masalah itu. Mulutnya tersenyum senang karena berhasil menangkap basah umpan yang dia pegang.


Bobby tau persis siapa wanita licik yang sudah menjebak Dinka. "Baguslah mulai tahap pertama" gumamnya.


Video berhasil dikirim. Dugaannya tepat karena Reta tidak lama kemudian menghubungi dirinya. Namun Bobby sengaja tidak menjawabnya.


Disisi lain Reta mencak-mencak mendapatkan sebuah video yang terlihat ada Serin didalamnya. "Sialan nih cewek" Reta memegang ponsel dengan kuat. Dia pergi kerumahnya untuk menemui Dinka memberitahukan yang terjadi.


Alfan melihat kedatangan adik tomboynya dan menyapa. Namun si adik nyelonong masuk tanpa menghiraukannya.


Didalam kamar Melvin sedang mencumbu sang istri. Pintu kamar tidak dikunci Reta langsung menerobos masuk. Matanya terbelalak melihat Dinka dan kaka angkatnya itu sedang bermesraan.


Sontak Melvin langsung melompat ketepian ranjang. "Apa yang kamu lakukan" teriak Melvin. Dinka meraih selimut untuk menutupi tubuhnya.


Reta langsung menutup mata dan membalikkan tubuhnya kearah pintu. Untung saja Melvin belum membuka celana yang dikenakannya. Kalau sudah apa yang akan terjadi. Pastilah Reta akan kena hukuman dari kakanya karena sudah lancang.

__ADS_1


"Maaf kak aku kira dikamar hanya ada Dinka" ucap Reta pelan. "Lagian kenapa juga sih baru jam segini udah main aja" gerutu Reta.


"Heh kamu itu gak punya sopan santun ya, main terobos aja kamar kaka" ucap Melvin dengan suara sedikit keras.


"Ada hal penting yang ingin ku bicarakan sama kaka ipar" jelas Reta. "Aku tunggu dibawah ya ka" imbuhnya.


Dinka mengenakan kembali bajunya. Namun tangan besar Melvin meraih baju dan membuangnya. Dinka harus melayani dirinya saat itu juga. Karena junior milik Melvin belum mau kembali ke posisi semula.


"Ada Reta dibawah menungguku" ucap Dinka lirih. Melvin masih melakukan tugasnya di tubuh Dinka. "Biarkan saja dia menunggu, aku tidak mau menunggu mu hanya untuk berbicara dengannya" ucapnya diselah kegiatan.


Setelah melayani sang suami Dinka berjalan kebawah menemui Reta. Sang adik ipar terlihat sedang asik berbincang dengan pelayan kembarnya. Sudah cukup lama mereka tidak bertemu.


Dinka menghampirinya diruang keluarga. "Kenapa ta, tumben dateng tanpa kasih kabar?" tanya Dinka heran.


"Bagaimana kamu tau video ini?" tanya Dinka. "Gue gak tau jelasnya, gue dapet dari nomer yang gak dikenal. Gue hubungin malah gak diangkat" ucap Reta menjelaskan.


"Tapi kenapa Serin harus melakukan itu semua pada ku. Aku gak pernah jahatin dia" ucap Dinka sembari menggeleng.


"Tapi apa yang dilakukan Serin direstoran itu? Emang waktu itu dia disana juga?" tanya Dinka.


Dengan ragu Reta menjawab "em sebenarnya gue ketemu dia sama kak Melvin di restoran itu". Dinka terdiam menatap Reta. "Maaf ya gue gak cerita sama loe, gue gak mau loe ngrasa gimana-gimana" sambung Reta.

__ADS_1


Reta jadi merasa bersalah pada Dinka karena telah menyembunyikan masalah yang penting. "Gue gak mau loe sedih karena mungkin kak Melvin ada rasa sama Serin" lanjut Reta.


Dinka tertawa melihat wajah Reta yang terlihat bersalah. Jarang-jarang adik iparnya itu terlihat seperti itu. Biasanya wajahnya terlihat galak dan sadis. Mencerminkan sifat ketomboi-an nya.


"Kenapa malah ketawa sih" gerutu Reta sambil berkacak pinggang. "Lihat tuh mukamu lucu tau" sahut Dinka tersenyum.


"Kamu gak sedih tau kak Melvin ada rasa sama Serin?" tanya Reta. Dinka menghela nafasnya dan tersenyum lagi. "Aku engga kok, cuma yang aku heran kenapa Serin ini melakukan hal tersebut padaku" ujar Dinka.


Mereka saling bersitatap. Dinka sudah berjanji pada diri sendiri tidak akan membuka hati untuk suaminya. Reta memikirkan perasaan Dinka. "Bagaimana kalau kita kasih tau aja pada kak Melvin" Dinka berdiri.


Tangan Reta menahannya sambil menggeleng. "Jangan dulu, gue berasumsi kalau Serin itu bakal melakukan hal yang lebih dari ini kalau dia tau loe ngasih tau kebusukannya pada kak Melvin. Percuma juga ka, karena kak Melvin bakalan belain Serin daripada loe" ucap Reta panjang lebar.


"Seengga nya kan kak Melvin tau. Apa kita kasih tau kak Alfan juga" saran Dinka. Reta menepuk dahinya sendiri melihat kepolosan kaka iparnya itu. "Aduh Dinka sayang untuk sementara kita diemin dulu dia. Percuma juga nglapor sama kak Alfan. Karena cintanya kak Alfan ke Serin itu loe gak tau seberapa sih" jelas Reta lagi.


Dinka bengong melihat Reta. "Aduh pokoknya ribet deh kalo dijelasin antara tiga makhluk itu" keluh Reta. "Terus aku harus gimana?" tanya Dinka bingung.


"Loe pasang wajah imut dan polos loe ini kaya biasanya. Anggap aja gak terjadi apa-apa kalo waktunya sudah pas kita baru bongkar aibnya Serin" timpal Reta. Kedua alisnya terangkat sembari tangannya disilangkan kedada.


Dinka manggut-manggut setuju saja dengan rencana adik iparnya. Karena dirasa memang Reta punya akal bulus yang sama dengan kedua kakanya itu.


"Makanya jadi cewek tuh jangan terlalu polos banget deh gue tau loe dari kampung tapi otak loe itu termasuk cerdas kalo buat mikir" Reta jadi geram sendiri pada kebodohan Dinka.

__ADS_1


"Aku gak mikir kaya gitu ta, aku cuma fokus sama kuliah aja" ucap Dinka cengengesan. Reta menoyor kepala Dinka dan memeluknya.


__ADS_2