Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
185. Pembuat onar


__ADS_3

Sebelum masuk kedalam ruangan pribadi, Reta ijin untuk pergi ke toilet. Bobby dan keluarganya juga di undang oleh Arya. Begitu masuk kedalam restoran Bobby melihat Reta berjalan kearah lain. Sampai matanya bergerak mengikuti langkah Reta. Dia pun berinisiatif untuk mengikuti sang kekasih. "Bobby kamu mau kemana?" tanya Armand. "Sebentar pah, ada urusan" jawab Bobby.


"Beb" Bobby memanggil kekasihnya. "Kamu kenapa mengikutiku?" tanya Reta sembari menengok. "Kamu mau kemana?" tanya Bobby. Sebenarnya Reta sedang mengikuti Serin dan Fahmi yang telah pergi. Dia kehilangan jejak karena matanya menoleh pada panggilan Bobby.


"Aduh kamu ganggu aja deh, tadi tuh ada Serin dan kakak senior aku waktu di kampus" jawab Reta sambil buru-buru mencarinya lagi. Bobby ikut melihat kesekitar. Tapi tidak ada yang mereka kenal. "Mungkin kamu salah lihat orang kali" ucap Bobby.


Reta memikirkan sesuatu. "Kenapa juga bisa ada Serin dan Fahmi, dari mana mereka saling kenal" Reta berbicara sendiri. Bobby jadi merasa bingung sendiri. "Ayo kita masuk" ajak Bobby menarik tangan Reta.


"Aduh kamu ribet banget sih beb, aku bisa jalan sendiri" gerutu Reta. Bobby melepaskan tangan Reta. "Baiklah kita jalan sendiri-sendiri" ucap Bobby. Reta bersungut kesal sembari berjalan terlebih dulu. Dia menaruh kecurigaan pada Serin.


"Apa aku membuat mu marah" Bobby menatap wajah Reta. "Tidak" jawab Reta singkat. Mereka berdua masuk kedalam ruangan pribadi. Semua orang yang di undang sudah berkumpul disana. "Wah ramai sekali, aku tidak mengira akan seramai ini" celetuk Bobby. Mata Reta tertuju pada wanita yang duduk di samping kakak sulungnya.


"Berani juga dia datang ke acara keluarga ku" gumam Reta lirih. Sejak awal Reta memang tidak menyukai Clarisa. Dengan percaya diri Reta mengambil posisi di kursi sebelah kakaknya. "Permisi ini kursiku" ucap Reta dengan tegas. "Reta tapi kamu kan bisa duduk di kursi yang lain" Arya menasehati. "Apakah ayah tidak mengijinkanku untuk duduk di samping kakak ku sendiri" sahut Reta. Sarah meremas tangan suaminya agar tidak melanjutkan ucapan yang bisa memicu pertengkaran.

__ADS_1


"Ah aku tidak tau kalau ini kursi mu" ucap Clarisa dengan sopan disertai senyuman. Reta mengalihkan pandangannya ke lain tempat. Melvin dan Alfan menutupi mulutnya karena tersenyum. Menertawakan tindakan Reta yang sengaja itu. "Kamu kan bisa duduk di sebelah ku beb" timpal Bobby. "Disebelahmu ada Vera" Reta tersenyum tipis.


Clarisa bingung akan duduk dimana. Armand menawarkan untuk duduk di sebelah Vera. Semua mata tertuju pada Reta yang membuat ulah lagi. Sebenarnya bukan membuat masalah tepatnya menunjukan bahwa Clarisa tidak layak berada di tengah-tengah keluarganya. "Kakak iparku sangat pintar memasak, bukankah itu termasuk point penting untuk menjadi seorang wanita dan menantu yang baik" ucap Reta dengan lugas. Matanya menatap pada Dinka. Namun yang ditatap sudah asik dengan hidangan pembuka.


"Kakak ipar" Reta memanggil Dinka untuk mengiyakannya. "Ah...apa?" Dinka kebingungan. "Dia memuji mu sayang, karena kamu pintar masak" ujar Melvin menjelaskan. "Oh itu tidak seberapa" jawab Dinka cengengesan. "Memang masakan kamu enak" timpal Abimanyu.


Mata Melvin menatap tajam pada Abimanyu. Tapi Abimanyu bersikap santai. "Hidangannya sudah lengkap ayo silahkan di nikmati" Arya mempersilahkan pada semuanya. Clarisa merasa terpojokan. Dia memang tidak bisa memasak sama sekali. Melvin dan Alfan merasa Reta tidak menyukai Clarisa.


Mereka sudah selesai menyantap makanan yang di hidangkan. "Clarisa bagaimana hubunganmu dengan Alfan?" tanya Arya. "Itu masih proses om" jawab Clarisa dengan nada yang halus. Alfan hanya bisa diam tanpa kata-kata. "Bukannya kak Alfan menyukai senior ku di kantor" Reta sengaja menyela pembicaraan. "Siapa itu?" tanya Sarah antusias. Reta menyenggol tangan kakaknya agar bisa menjawab pertanyaan ibundanya.


"Sayang aku masih lapar" celetuk Dinka. Semua mata tertuju pada Dinka. Sarah tertawa kecil mendengar ucapan Dinka yang tidak sengaja memotong ucapan sang ayah mertua. "Oh kamu masih lapar, apa kita perlu pesan makanan untuk mu lagi" Melvin berkata dengan antusias.


"Iya-iya aku mau" jawab Dinka sambil manggut-manggut. "Maklum namanya juga ibu menyusui ya sering lapar" sahut Sarah. "Oiya tadi ayah mau ngomong apa?" tanya Reta. "Tidak jadi" jawab Arya dengan suara malasnya.

__ADS_1


Selesai makan malam mereka pulang kerumah masing-masing. Tinggalah Melvin dengan sang istri untuk menemani Dinka menghabiskan makanan. Alfan disuruh untuk mengantarkan Clarisa. Tapi Reta sengaja ikut menumpang mobil sang kakak agar tidak bisa berduaan. "Kamu antar Clarisa pulang" pinta Arya. Alfan menganggukan kepalanya. "Aku mau ikut mobil kak Alfan aja deh, lagian kak Melvin masih didalam aku malas menunggunya" ungkap Reta. Sebenarnya itu hanya alasan saja.


"Kamu aku antar beb" timpal Bobby. Reta memberi kode agar Bobby diam dan tidak ikut campur. "Ah baiklah, ayo adikku tersayang kita pulang" Bobby merangkul Vera sang adik.


"Ayo kakak kita pulang, aku sudah ngantuk" Reta menggandeng tangan Alfan dan menariknya. Clarisa berjalan di belakangnya. Arya merasa bahwa anak perempuannya sengaja melakukan itu, agar Alfan tidak berduaan dengan Clarisa. 'Jadi putriku juga ingin ikut campur' batin Arya. Dia menghela nafasnya. "Ayo bun kita pulang" ajak Arya.


"Sayang kamu tau nggak kalau Clarisa dan kak Alfan bakal di jodohkan" ucap Melvin. "Tau" jawab Dinka sambil mengunyah makanan. "Kamu mau nggak kerjasama denganku menyingkirkan Clarisa" lanjut Melvin. "Apa? Kamu mau membunuh Clarisa?" Dinka terkejut. Dia tidak memahami maksud kata-kata suaminya. "Bukan begitu sayang, aku mau membuat Clarisa tidak punya muka di keluarga kita" jawab Melvin.


"Terus aku harus melakukan apa?" tanya Dinka. "Kamu baik-baikin nama Enzi di depan bunda, agar bunda setuju dengan hubungan mereka. Karena hanya bunda yang bisa meyakinkan ayah" jelas Melvin.


"Oh gitu, itu sih kerjaan yang gampang. Tapi bukannya Enzi dan kak Alfan sudah tidak bersama lagi" ucap Dinka sembari meminum air putih. "Makanya itu, aku menyuruh Ronald untuk mencari keberadaan Enzi di singapura. Dan aku ingin menyatukan kak Alfan dengannya. Lagi pula Enzi juga sedang hamil anak kak Alfan" ucap Melvin. Seketika semburan air muncrat dari mulut Dinka mengenai wajah tampan Melvin. Dia terkejut mendengar bahwa Enzi sedang hamil.


"Apa? Enzi hamil, dan kak Alfan tau semua itu" ucap Dinka. Melvin mengelap bekas semburan air yang mengenai wajahnya. "Sayang kenapa kak Alfan bisa memutuskan hubungan dengan Enzi kalau dia tau Enzi hamil" imbuh Dinka.

__ADS_1


"Sayang kak Alfan awalnya belum tau, dan kini dia sudah tau, makanya dia mau tanggung jawab. Tapi di halangi oleh ayah. Dan ayah malah mau menjodohkan kak Alfan dengan Clarisa. Makanya itu aku harus membantu kak Alfan. Kamu tau sendiri kan kak Alfan itu sangat menurut pada ucapan ayah, apalagi dia sudah di ancam oleh ayah" Melvin menjelaskan serinci mungkin agar sang istri paham. Dinka manggut-manggut sebagai jawaban.


__ADS_2