Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
158. Kebimbangan sang kakak


__ADS_3

Alfan tertahan di tempat acara keluarga sampai selesai. Dia ingin pulang sedari tadi tapi tak di perbolehkan oleh Clarisa. "Aku mau pulang ya sudah sejak siang aku disini" ungkap Alfan. "Sebentar lagi ya aku masih ingin bersama kamu" sahut Clarisa sembari memegang lengan Alfan.


Alfan menghela nafasnya dalam. "Baiklah" timpal Alfan. Ada seorang pria yang mendekat kearah mereka berdua. "Hai ca, siapa nih?" tanya Fahmi. "Oh perkenalkan dia ini pacarku fah" jawab Clarisa. "Perkenalkan ini sepupu aku namanya Fahmi" lanjut Clarisa berbicara pada Alfan. "Hai, aku Fahmi" ucap Fahmi memperkenalkan diri dan menjulurkan tangan. "Alfan" sahut Alfan sembari menjabat tangan Fahmi.


"Dia ini pernah kuliah di kampus milik keluarga kamu fan, tapi sudah wisuda" jelas Clarisa. "Oh" jawab Alfan dengan singkat sembari dengan senyuman terpaksa. Sebenarnya Alfan sudah cukup bosan berada diantara keluarga besar Clarisa. Tapi mau bagaimana lagi dia masih dipaksa terus untuk tetap berada disana.


"Pacar kamu ini pemilik kampus itu ya?" tanya Fahmi penasaran. "Iya" Clarisa manggut-manggut mengiyakan. Fahmi jadi teringat akan sosok lelaki yang dulunya datang bersama wanita idamannya. 'Apa ini orang yang waktu dulu menjemput Dinka? Jadi dia yang di kira sugar dady nya Dinka waktu itu' gumam Fahmi dalam hati.


Fahmi ini masih menyukai sang adik juniornya semasa kuliah. Selama ini dirinya mencari tempat tinggal Dinka. Karena wanita idamannya itu menghilang begitu saja tanpa menunggu sampai lulus kuliah.


"Maaf mau tanya, apa kamu mengenal wanita yang bernama Adinka Marwan?" tanya Fahmi dengan nada berhati-hati. Mendengar pertanyaan seperti itu membuat Alfan penasaran. "Kamu kenal adik ipar ku dari mana?" tanya Alfan.


"Adik ipar?" tanya Fahmi balik sembari terkejut. "Iya adik ipar, dia menikah dengan adikku" Alfan manggut-manggut.


"Oh dia dulu merupakan adik junior ku di kampus, dan kebetulan kami sangat akrab antara senior dan junior" ungkap Fahmi. Alfan melihat Fahmi dari atas sampai bawah. "Oh gitu" jawabnya singkat.

__ADS_1


"Jadi dia sudah menikah ya, aku kira belum" sahut Fahmi dengan nada yang kecewa. "Kenapa memangnya?" Alfan menyilangkan kedua tangannya. Belum sempat menjawab Fahmi sudah didahului oleh sepupunya.


"Jadi istrinya Melvin namanya Dinka? Sepupuku ini sudah lama suka sama yang namanya Dinka. Iya kan fah?" ucap Clarisa bertanya pada Alfan sekaligus bertanya pada Fahmi.


Wajah Alfan menjadi serius dan matanya menatap tajam pada Fahmi. "Kalau begitu aku mau kesana dulu ya mau menyapa om dan tante" Fahmi yang di tatap seperti itu langsung jadi ciut. Dia lebih memilih menghindar.


"Aku pulang sekarang ya" Alfan akhirnya di perbolehkan pulang oleh Clarisa. "Fan ayo pamitan dulu ya sama papih dan mamih" Clarisa menggandeng tangan Alfan. "Salam saja untuk mereka" Alfan menyingkirkan tangan Clarisa dari lengannya. Alfan melangkah terlebih dulu. Melihat perubahan sikap Alfan membuat Clarisa menjadi curiga.


"Fan apa aku sudah salah padamu" Clarisa berkata dengan nada yang sedikit keras. Tanpa menengok Alfan berkata "tidak ada aku pulang ya" sambil melambaikan tangan kebelakang. Clarisa sedikit kecewa karena Alfan cuek padanya. Sejak tadi memang Alfan sudah memasang wajah yang acuh.


Sore hari dirumah Melvin asik bercengkerama dengan sang istri di dalam kamar. Melvin sibuk menagih hutang istrinya yang tadi pagi. Mungkin sang istri kelupaan apa yang telah di setujuinya sewaktu di rumah sakit. Itu yang ada di pikiran Melvin.


Dinka tersenyum melihat ekspresi wajah Melvin yang terlihat lucu. "Jangan sok imut" ledek Dinka. "Aku bukan imut sayang tapi ganteng" ucapnya membela diri. "Ya ganteng jadi banyak yang suka" Dinka cemberut.


"Biarlah banyak yang suka, yang penting hati aku milik mu sayang" Melvin memegang pipi sang istri. "Gombal" celetuk Dinka dengan mengalihkan pandangannya. Melvin beralih pada perut sang istri yang buncit. "Kalau aku gak cinta mana mungkin ada dia di perut kamu sayang" Melvin mencium dan mengelus buah hatinya didalam perut Dinka. Tendangan si kecil membuat Melvin semangat mengelus perut Dinka. Melvin membuka kancing daster sang istri.

__ADS_1


Dinka mencegah sang suami membuka kancing bajunya. "Mandi dulu sana" ucapan Dinka membuat Melvin bergerak cepat ke kamar mandi. "Semangat banget" ucap Dinka pada diri sendiri sembari tersenyum.


Selang beberapa menit Melvin sudah memakai piyama tidurnya dan memakai parfum. Intinya sudah banyak wewangian yang di semprotkan pada tubuhnya. "Sudah wangi" Melvin berbicara sendiri sambil menghadap ke cermin yang besar. Cermin itu terletak didalam kamar mandi. Rambutnya di rapihkan ke belakang agar terlihat semakin tampan. Orang tampan walau di bagaimana pun tetaplah tampan.


Dinka sedang asik berada di dapur bersama bi Nah. Dirinya sedang mencicipi masakan bi Nah untuk makan malam. "Nona kalau lapar makan saja duluan" saran bi Nah. "Engga bi" Dinka menjawab dengan tersenyum.


"Mau bibi kupasin buah non?" tanya bi Nah. "Bibi kan lagi masak, aku sendiri saja yang mengupasnya" Dinka mengambil pisau dan buah di dalam kulkas. "Gak papa non biar yang nerusin masak pelayan yang lain" jawab bi Nah. Dinka memakan satu persatu buah yang sudah dikupas.


Akhirnya Melvin selesai dengan kesibukannya di kamar mandi. Melihat seisi kamar kosong membuatnya sedikit kesal. Dia pun mencari sang istri.


Melvin berpapasan dengan sang kakak angkatnya di ruang keluarga. "Baru pulang kak?" tanya Melvin. "Iya" Alfan mendudukan pantatnya ke sofa. "Mukanya serius gitu, kenapa?" tanya Melvin lagi. "Cuma capek aja setengah hari bersama Clarisa" jawab Alfan.


"Kelihatannya Clarisa serius sama kak Alfan" Melvin ikut duduk disamping sang kakak. Dia lupa akan tujuannya untuk mencari Dinka dirumah. "Gak tau kakak bingung, kakak masih cinta sama Enzi" Alfan menjadi bimbang. "Bukannya kakak bilang sudah putus hubungan sama Enzi?" Melvin bertanya sudah hampir sama seperti wartawan. Alfan geleng-geleng kepala melihat sang adik. "Kamu bertanya sudah seperti wartawan saja sih" keluh Alfan karena kepalanya menjadi pusing memikirkan kisah cintanya.


"Jadi cowok yang jelas dong kak, kalau cintanya sama Enzi perjuangkan Enzi dong, kenapa malah nyerah gitu" Melvin menasehati sang kakak sudah bagaikan dirinya hebat dalam percintaan. "Dia yang menyerah bukan aku" sahut Alfan.

__ADS_1


"Tumben jam segini kamu sudah mandi" Alfan melihat jam tangannya dan memandang heran pada sang adik. Hidungnya mencium bau menyengat dari tubuh Melvin. "Kamu pake parfumnya satu botol dihabisin ya" Alfan mendekat dan mengendus bau tubuh sang adik. "Apaan sih kak ya enggak dong" Melvin menghindar karena merasa risih. "Apaan-apaan tuh kamu cium sendiri parfum kamu menyengat banget, pakai sedikit saja juga sudah enak baunya" Alfan kembali mengendus adiknya.


Melvin memeluk tubuhnya dengan tangannya sendiri. "Jangan gitu kak aku masih normal, aku masih suka sama perempuan" ucap Melvin dengan nada meledek.


__ADS_2