
Dari semenjak pagi buta Dinka sudah disibukkan dengan kebiasaan masuk keluar kamar mandi. Rutinitas dipagi hari yang melelahkan. Dinka menuruni anak tangga sembari memegang perutnya.
"Bi Nah kembar mana?" tanya Dinka dengan suara yang lemas. "Mungkin dirumah para pelayan non, apa mau saya panggilkan?".
"Buatin teh manis aja deh bi nih perut rasanya mual terus" ungkap Dinka. "Baiklah non sebentar" sahut bi Nah.
Dinka meletakkan kedua tangannya dimeja sebagai bantalan kepala. Dia menidurkan kepalanya di meja sembari melihat bi Nah dan para pelayan menyiapkan sarapan.
"Ini tehnya non" ucap bi Nah. "Makasih bi" Dinka minum tehnya sampai tetesan terakhir. Dia kembali melangkahkan kakinya ke dalam kamar. Ada pak Mimin sedang menyiapkan barang-barang Melvin untuk persiapan ke luar negeri.
"Bawa dua koper pak?" tanya Dinka. "Eh iya ini non" jawab pak Mimin.
Melvin telah selesai mandi dan kini giliran Dinka yang mandi. "Cepat siap-siap antar aku ke bandara" ucap Melvin. "Biasanya juga berangkat sama pengawal kenapa aku harus ikut mengantarkan juga" keluh Dinka.
"Kau tidak mau?" tanya Melvin. Dinka mendesah. "Baiklah" jawabnya.
Sesampainya dibandara sudah ada dua makhluk wanita berdiri tidak jauh dari pintu masuk. Mereka ialah sekretaris Melvin.
Dinka mengikuti sang suami dari belakang. Diikuti oleh beberapa pengawal. Karena tinggi badan Dinka hanya sepundak sang suami jadi bila berjalan dibelakang Melvin dia tidak terlihat dari depan.
Kedua sekretaris Melvin menikmati pemandangan lelaki tampan didepannya. Melvin tidak memakai setelan jas seperti biasa. Hanya memakai pakaian kasual. Jarang-jarang sekretarisnya melihat Melvin memakai pakaian seperti itu.
"Wah pak bos memakai apapun tetap tampan ya" ucap Enzi. "Benar" Silma menyahuti. Dinka menengok kesana kemari. Banyak orang yang lalu lalang dibandara. "Kak Alfan kenapa tidak ikut?" tanya Dinka.
__ADS_1
"Dia ada sedikit trauma dengan penerbangan" jawab Melvin. Perasaan Dinka jadi tidak enak melepas Melvin pergi tanpa kakanya.
"Pak Melvin" Silma melambaikan tangan. Langkah kaki Melvin menuju ke arah si sekretaris. Dinka baru terlihat oleh mereka.
"Apa pak Melvin membawa istrinya?" bisik Silma. "Mungkin" jawab Enzi. Mereka menyapa istri Melvin dengan tersenyum.
Melvin berpamitan pada sang istri mencium keningnya. Dinka menyalami tangan sang suami. "Jaga baik-baik kandungannya, kalau ada apa-apa langsung telepon" ucap Melvin. "Iya" sahut Dinka manggut-manggut. Melvin pun mengusap perut Dinka yang masih ramping.
Reta dan Bobby menjemput Dinka dibandara. Kebetulan pagi hari itu tidak ada jam kuliah.
"Nona mau kemana bukankah jalannya sebelah sini?" tanya pak Iwan. "Itu pak aku mau pergi sama Reta" jawab Dinka.
"Kalau begitu saya permisi non" ucap pak Iwan. Reta dan Bobby menghampiri Dinka. "Yang di tinggal keluar negeri sama suami mukanya ditekuk gitu" ledek Reta. Bobby menatap Dinka. "Mau makan eskrim" ucapnya.
"Es krim" sahut Dinka. Bobby mengangguk dengan cepat. "Boleh tuh" jawab Dinka antusias. Mereka bertiga pergi ke mall dan berjalan-jalan.
Bobby memasuki sebuah toko sepatu. Tanpa tau Reta dan Dinka terus berjalan. Mereka pun terpisah. Bobby melihat satu persatu sepatu sneakers. Pandangannya tertuju pada sepatu couple.
Bibir Bobby tersenyum senang. Dia meminta ukurannya dan mengira-ngira ukuran sepatu Dinka. Tidak ada kata pantang menyerah baginya untuk mendapatkan Dinka. Siap-siap saja bersaing dengan singa jantan yang buas.
Bobby akan memberikan sepatu tersebut diwaktu yang tepat. Setelah membelinya dia mencari Dinka dan Reta yang terpisah dengannya.
Reta ngedumel terus semenjak terpisah dengan Bobby. Bagi Dinka mendengar celotehan adik iparnya ini sudah biasa.
__ADS_1
"Kemana si makhluk badung itu, tiba-tiba ngilang kaya makhluk halus. Heran gue hobi banget buat gue geram deh" gerutu Reta. Dinka menahan tawanya melihat Reta.
Reta sudah berkacak pinggang sambil menggunakan satu tangannya untuk kipasan. "Sabar kali ntar juga nongol, mungkin dia ada keperluan sebentar" nasehat Dinka.
"Iya loe bisa sabar ngadepin cowok kaya dia" celetuk Reta. Dari kejauhan Bobby melambaikan tangan pada Dinka dan Reta. Karena Dinka melihatnya terlebih dahulu "nah tuh Bobby".
"Heh curut dari mana aja sih loe" teriak Reta. Dinka hanya geleng-geleng sembari mengelus perutnya. "Curut loe tuh yang curut" Bobby berjalan mendekat.
"Udah jam berapa ini gara-gara loe kita bisa telat jam kuliah siang tau, mana dosen yang ngajar killer lagi. Buruan jalan" Reta mendorong badan Bobby memasuki mobil.
Sampailah mereka dikampus. Dinka menutup mulutnya karena merasa mual. Dia turun dari mobil dan berlari ke arah toilet. "Gue tunggu dikelas ka" teriak Reta.
Bobby melihat Dinka yang berlari menjauh. "Gak papa dia ke toilet sendiri?" tanya Bobby. Reta menarik tangan Bobby masuk kedalam kelas. "Ntar pingsan kaya waktu itu lagi" lanjut Bobby.
"Engga paling cuma mual doang koh" sahut Reta. Tidak lama kemudian Dinka masuk kedalam kelas.
Jam kuliah selesai. Reta menarik tangan Dinka ke kantin untuk makan. Bobby mengikuti dari belakang mereka sembari memainkan ponselnya.
"Wah dasar wanita picik" ucap Bobby. Secara tidak sengaja Reta merasa tersindir dengan ucapan Bobby. Padahal itu bukan merujuk padanya. Reta menghentikan langkahnya dan berbalik kebelakang.
"Apa loe bilang!" ucap Reta dengan suara keras. Bobby terkejut dengan bentakan Reta. "Apa?" tanya Bobby bingung. "Loe ngatain gue apa tadi? Wanita picik. Loe berani sama gue" Reta melotot.
Dinka geleng-geleng kepala kembali. Dan memisahkan mereka. "Reta sudah dong bukan maksud Bobby ngomong gitu kali ke kamu" ucap Dinka. "Kapan gue ngatain loe picik" Bobby menggaruk kepala belakangnya.
__ADS_1
"Barusan" jawab Reta dengan cepat. "Loe lagi pms ya, kayanya sensian banget deh" ujar Bobby. "Iya gue emang lagi pms" Reta mendekati wajah Bobby. Dinka menengahi mereka berdua. Dan menggandeng tangan Reta agar kembali berjalan ke kantin.