
Didalam kamarnya Alfan menyendiri. Tangannya sibuk dengan ponselnya. Banyak kiriman foto dari sang kekasih. Ada beberapa foto yang membuat Alfan tersenyum sendiri.
Enzi siang tadi memeriksakan kandungannya. Tapi tidak di temani oleh Alfan. Enzi sengaja tidak memberitahukan Alfan tentang itu. Karena Enzi pikir pujaan hatinya itu masih dalam keadaan berduka.
Tak lupa Enzi mengirimkan gambar hasil USG kandungannya. Foto yang dikirim Enzi itulah yang membuat Alfan senyam-senyum sendiri.
Untung saja bayi yang di dalam kandungan Enzi sangat sehat. Tapi yang di takutkan Enzi adalah berat bayi yang sudah besar. Kira-kira bisa mencapai empat kilogram. Itu pun masih kurang tiga minggu di hari perkiraan lahirnya. Membuat Enzi di suruh mengurangi porsi makannya.
Keluhan itu tak di sampaikan pada Alfan. Takut kalau Alfan akan kepikiran. Yang di sampaikan Enzi hanya berita baiknya saja. Memang sudah beberapa hari ini mereka berdua tidak bertemu.
Tapi Alfan menyuruh orang untuk menemani Enzi di sebuah rumah kontrakan yang cukup besar dan bagus. Kini yang dipikir Alfan hanya bagaimana caranya agar dia bisa menikahi Enzi setelah melahirkan.
Saat ini Alfan begitu bingung. Di sisi lain dia tidak mau mengecewakan ayahnya. Dan di satu sisi dia juga tidak mau menyerah kepada Enzi.
Baginya Enzi dan anak yang di kandungannya itu sangatlah penting. Alfan bingung memikirkan caranya. Dia pun tidak bisa bercerita pada sang adik. Kini satu-satunya yang bisa di ajak keluh kesah hanya Ronald.
Sambil memikirkan jalan yang terbaik bagi masalahnya itu ada suara ketukan dari luar pintu. Alfan tersentak kaget. Dengan cepat langkahnya menuju pintu. Di bukalah pintu itu. Betapa terkejutnya Alfan melihat sang ayah berada di depan pintu kamarnya.
"Ayah malam-malam begini ada apa?" tanya Alfan sambil menunduk mendekati sang ayah. Dengan susah payah Arya menyodorkan ponselnya yang bertuliskan sesuatu.
Alfan membacanya. Sontak Alfan membulatkan dua bola matanya. Seakan tak percaya apa yang sudah dia baca. Tulisan itu menyuruh Alfan segera menikahi gadis yang dicintainya. Disini Arya sudah merestui hubungan mereka.
"Ayah serius?" tanya Alfan memastikan. Arya manggut-manggut perlahan sambil mencoba tersenyum. Arya memang belum bisa berbicara seperti biasa karena saking syok nya.
__ADS_1
Alfan yang kegirangan segera memeluk sang ayah. "Terimakasih ayah terimakasih" saking senangnya Alfan sampai menangis karena terharu. Sejak mencintai Enzi mimpinya untuk menikah pun kini terwujud. Walaupun badai datang silih berganti tak menyurutkan usaha Alfan. Sekarang usahanya sudah sukses.
Arya menepuk pundak si sulung sebagai respon. Terlihat senyuman puas di wajah Alfan. Padahal baru saja dirinya sedang galau memikirkan nasib hubungannya bersama Enzi.
Alfan mendorong masuk kursi roda sang ayah. Dan mengambil ponselnya di tempat tidur. Beberapa gambar yang dikirimkan oleh Enzi di perlihatkan pada ayahnya.
"Ayah ini foto USG milik Enzi" Alfan menjelaskan sambil menunjukan foto. Arya kembali terharu karena akan punya cucu lagi. Tak terasa airmatanya terjatuh membuat Alfan ikut berkaca-kaca. Disini banyak adegan nangisnya. Drama tangis-menangis selesai.
Alfan mengantarkan sang ayah masuk kedalam kamar. "Ayah istirahat ya sudah larut malam" Alfan memapah Arya dengan perlahan keatas tempat tidur.
Tangan Arya dengan kuat memegangi si sulung. Sambil menggeleng Arya menyuruh Alfan untuk tetap disisinya.
Karena apabila malam tiba Arya sangat merasakan kesepian. Dan akan teringat kembali dengan sang istri. Itu membuat Arya takut untuk sendirian di dalam kamar. Yang selama ini dia lakukan hanyalah menangis dalam diam di kamarnya. Tapi malam ini Arya tidak mau menangisi kepergian sang istri lagi.
Alfan mengerti maksud ayahnya. "Ayah mau di temani" ucap Alfan. Arya mengangguk dengan cepat. Alfan tersenyum manis sambil berkata "baiklah aku akan temani ayah".
Tanpa terasa Alfan tertidur dikamar sang ayah. Menjelang pagi hari Alfan terbangun dari tidurnya. Karena posisinya tertidur sambil duduk membuat badan Alfan sedikit pegal.
Matanya tertuju pada wajah keriput sang ayah. Dilihatnya mata bagian bawah sembab yang sedikit menonjol milik ayahnya itu. "Pasti ayah sering menangis" gumam Alfan.
Arya masih tertidur pulas. Karena berhari-hari sering terbangun pada malam. Walaupun ada efek obat tidur tetap saja terbangun. Tangan Alfan menarik selimut untuk ayahnya. Kakinya berjalan perlahan agar tidak menimbulkan suara berisik yang dapat membangunkan Arya.
Baru berjalan beberapa langkah ke dalam kamar. Pintu kamar Alfan kembali di ketuk. Tapi suara ketukan kini begitu cepat. "Tuan muda tolong" suara khas dari pak Mimin membuat Alfan bergegas membuka pintu.
__ADS_1
"Ada apa pak?" tanya Alfan bingung. "Itu nona....nona..." ucapan pak Mimin membuat Alfan bingung.
"Ada apa? kenapa dengan nona? Reta atau Dinka?" Alfan menenangkan pak Mimin yang sedang panik.
"Bicara perlahan pak, ada apa?" Alfan memegangi pak Mimin. "Nona Reta, pingsan di kamarnya" jawaban dari pak Mimin membuat Alfan kalang kabut.
Langkahnya segera berlari menuju kamar si bungsu. Terlihat Reta terbujur lemah di atas kasur dengan darah yang bercucuran.
"Astaga dek" Alfan menggendong Reta ala bridgestyle. Dibantu oleh pak Mimin untuk membawa Reta kembali kerumah sakit. Tindakan Reta kali ini benar-benar ekstrim. Sampai ingin bunuh diri. Karena saking depresinya di tinggal oleh Sarah.
Reta memang selalu mengurung diri didalam kamarnya setelah pulang dari rumah sakit. Kedua kakaknya sudah sering membujuk Reta agar mau keluar dari kamar. Tapi tetap saja Reta tidak menggubrisnya. Hari-harinya di lewati dengan menangis sendiri didalam kamar. Tak ada yang bisa membujuknya.
Bobby yang sering berkunjung kerumah Reta tetap saja nihil hasilnya. Tidak bisa menghibur Reta sama sekali. Karena begitu depresi sampai tidak bisa membedakan mana yang baik atau buruk. Kondisi Reta benar-benar paling parah.
Melvin yang baru saja keluar dari kamarnya terkejut melihat sang kakak menggendong adiknya. "Kak Alfan apa yang terjadi?" Melvin bertanya sambil setengah berlari mendekati keduanya.
"Tidak tau, kakak akan bawa Reta kerumah sakit" Alfan menuruni anak tangga dengan hati-hati. Karena tubuh Reta lumayan berat walaupun di bantu pak Mimin.
Melihat itu Melvin mengambil alih sang adik dari gendongan kakaknya. Melvin dengan kuat menggendong adiknya menuju garasi mobil.
"Cepat buka pintu mobilnya" teriak Melvin yang sangat panik. Untung saja sang supir siap siaga dan segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Melihat tindakan Melvin yang cepat membuat Alfan bernafas lega. "Semoga saja kondisi nona Reta baik-baik aja ya tuan" pak Mimin berdiri tepat di belakang Alfan. "Pak Mimin ngapain disini cepat siapkan mobil" perintah Alfan.
__ADS_1
Dinka melihat yang terjadi dari atas balkon kamarnya sambil menggendong buah hatinya. Airmatanya kembali menetes. "Reta kamu kenapa" kata yang keluar dari mulutnya. Dia pun ingin ikut pergi kerumah sakit tapi di cegah oleh bi Nah. Takut kalau si kecil merengek mencarinya.