Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
54. Bimbang


__ADS_3

Serin pamit pergi terlebih dulu. Sedangkan Alfan dan yang lain masih betah berada di restoran. "Oiya aku belum tau nama mu" ucap Alfan.


Bobby memperkenalkan diri dengan gaya sok keren. "Perkenalkan nama saya Bobby Senja Marwan" tangannya memegang dada sambil menundukan kepala. Duh si Bobby ini memang sengaja menampilkan kesan cool nya didepan Dinka.


Reta tertawa terbahak-bahak mendengar nama lengkap Bobby. "What nama loe kaya cewek ada senja nya apa loe lahir di sore hari jadi loe dikasih nama itu" ejek Reta sambil melanjutkan tertawanya.


Tangan Bobby menyikut lengan Reta agar berhenti tertawa. "Marwan" ucap Dinka. "Iya namaku diganti sewaktu aku kecil. Itu nama ayah tiriku" jelas Bobby pada Dinka. "Heh ayah tiri loe mungkin gak mau punya anak kaya loe yang badung, cuma bisanya ngabisin duit doang, malu tuh kedua orangtua loe punya anak kaya loe" Reta tertawa dengan melebarkan mulutnya.


Alfan langsung memasukan makanan kedalam mulut adiknya agar berhenti tertawa. "Apa seperti itu yang kaka ajarkan padamu" keluh Alfan. Reta hanya terdiam sambil mengunyah makanan yang dimasukan Alfan kedalam mulutnya.


Bobby menahan tawanya. Dia harus berlaku sopan didepan kakanya Reta ini. Kalaupun tidak ada Alfan mungkin Bobby akan berani menertawakan Reta balik.


Dinka asik dengan berbagai macam pikiran. "Ayah tiri?" tanya Dinka. Bobby mengangguk sembari bertanya balik "kenapa memang?".


"Hanya saja nama itu seperti nama belakang ku" jawab Dinka. "Oh iya nama Dinka juga Adinka Marwan kan?" tanya Alfan memastikan.


"Kak Alfan hapal nama lengkap Dinka tapi nama lengkap ku gak mungkin hapal kan" gerutu Reta. "Nama kamu itu terlalu panjang untuk apa juga aku mengingatnya" tandas Alfan sedikit ketus.


Bobby menutup mulutnya menahan tawa. Kini giliran Reta yang di ejek. Reta menajamkan matanya pada Bobby.


Dinka berpikir mungkin itu hanya suatu kebetulan belaka. "Aku juga punya ayah kandung dia pergi entah kemana sewaktu aku kecil" ungkap Dinka.

__ADS_1


Karena pernyataan dari Dinka membuat Bobby memikirkan sesuatu. "Aku punya adik tiri dia lumayan persis dengan mu" sahut Bobby. Dia membuka ponsel dan menunjukan sebuah foto pada Dinka.


Reta ikut nimbrung melihat foto diponsel Bobby. "Ini sih bukan lumayan lagi, ini mirip Dinka cuma lebih cantik Dinka sedikit" jelas Reta.


Bobby sedikit terkejut mendengar perkataan Reta yang memang blak-blakan itu. "Iya ini mirip Dinka" ucap Alfan menyetujui Reta.


"Itu adik tiriku yang pertama dan masih ada lagi yang belia" jelas Bobby. Dinka menatap Bobby dengan Dalam. Namun asumsinya belum menunjukan kebenaran. Itu baru sebagai dugaan.


"Heh adik loe berapa sih?" tanya Reta. Bobby tidak menggubris pertanyaan Reta. "Kepo banget sih kamu" jawab Alfan.


Sudah cukup lama mereka saling berbincang. Alfan melihat arlojinya dia pun pamit pergi. "Nama ku Alfan dan lelaki yang memasang wajah dingin waktu itu namanya Melvin, harus kamu ingat namanya" jelas Alfan pada Bobby. Bobby manggut-manggut.


Reta dan lainnya pun ikut pergi dari restoran. Sepasang mata Bobby mencuri pandang pada Dinka dan tersenyum melihatnya.


+++


Malam hari sinar rembulan menerangi bumi dengan cahaya nya yang indah. Bintang pun bertebaran di langit. Serin menghubungi Melvin untuk mengajak makan malam. Karena rencana makan siangnya tadi hancur.


Melvin mengiyakan ajakan Serin untuk makan malam. Dan menjemput Serin sepulang dari kantor. Mobil mewah Melvin menepi didekat Serin.


Serin mengumbar senyum manisnya pada Melvin. Tangan Melvin diletakkan pada kening Serin. "Kau sudah tidak demam?" tanya Melvin. "Karena kamu yang menjaga ku jadi aku cepat sembuh" jawab Serin malu-malu.

__ADS_1


Melvin masih menyimpan perasaannya pada Serin. Namun bukan perasaan yang mencintai perasaan itu lebih tepatnya ingin melindungi. Tapi Melvin masih ragu dengan perasaannya itu. Apakah hatinya sudah mulai berpindah pada sang istri atau masih menetap pada Serin.


Cinta pertamanya memang pada Serin. Dan yang di yakini Melvin cinta pertama itu sulit tuk dilupakan. Itu yang membuat Melvin masih ragu dengan perasaannya.


"Mungkin lusa aku akan terbang ke Perancis untuk perjalanan bisnis" ungkap Melvin. Serin menoleh kesamping seraya bertanya "perjalanan bisnis?".


"Mungkin sampai satu minggu atau bahkan lebih" ungkap Melvin sembari mengemudi. "Apa aku boleh ikut?" tanya Serin dengan nada manja.


Melvin terdian sejenak. "Boleh ya please" mohon Serin memasang wajah imutnya. "Tidak bisa ada kedua sekretaris ku yang ikut" jawab Melvin. Serin memanyunkan bibirnya kecewa karena Melvin menolak permintaannya.


Setibanya direstoran Serin menunggu pintu mobilnya di bukakan oleh Melvin. Syndrom putrinya ini sungguh merepotkan. Serin sengaja bermanja ria pada Melvin. Dia menggandeng tangan Melvin dengan mesra.


Melvin tentu saja tidak merasa keberatan akan hal itu. Karena baginya itu sudah biasa.


Kali ini restoran yang di datangi mereka berbeda dengan biasanya. Serin memilih restoran itu karena sedang booming di sosial media.


Setelah selesai makan malam Serin sengaja menahan Melvin agar tidak pulang. Tangannya menarik paksa tangan Melvin masuk kedalam apartemen.


Serin memdorong tubuh sixpack Melvin pada tembok. Dia ingin sekali bermain dengan bibir Melvin yang cukup menggoda itu. Perlahan Serin mengalungkan tangannya ke leher Melvin dan mendekatkan wajahnya.


Nafas mereka saling berhembus menerpa wajah karena saking dekatnya. Melvin tau bahwa Serin berniat menciumnya. Gerakan Serin kalah cepat dengan tangan kekar Melvin yang melepaskan eratan tangan Serin pada leher.

__ADS_1


"Ini sudah cukup malam aku harus pulang" kata Melvin. Serin mendengus kesal dan membalikkan tubuhnya membelakangi Melvin. "Sudah lama aku ingin merasakan bibir mu vin, tapi kau diajak ciuman selalu menolak. Apa aku harus tiba-tiba mencium mu seperti di hotel waktu itu" keluh Serin.


"Kau tidurlah aku harus pulang" ucapan dari Melvin berhasil membuat Serin naik darah. Melvin pun keluar dari apartemen milik Serin. Dan melajukan mobilnya untuk pulang kerumah.


__ADS_2