Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
177. What the hell


__ADS_3

Alfan pulang bersama sang adik. Di sepanjang jalan Alfan tidak ada hentinya menasehati Reta agar tidak berbuat semena-mena pada Silma dan pada orang lain nantinya. Yang di beri nasehat hanya manggut-manggut.


"Kamu pake make up menor begitu siapa yang rias?" tanya Alfan penasaran. "Pelayan dirumah" jawab Reta dengan cepat dan ketus. "Kakak tanya kamu baik-baik ya dek, kenapa jawaban kamu ketus gitu sih" gerutu Alfan sambil menengok sekilas pada Reta yang duduk disampingnya.


"Kamu marah sama kakak karena udah pindahin kamu ke perusahaan?" tanya Alfan. "Enggak kak" jawab Reta. Kini nadanya sudah kembali seperti biasa.


"Terus kenapa? Tuh muka gak enak banget di pandang" sahut Alfan. "Gak papa" jawab Reta singkat. Alfan kembali fokus mengemudi. Sebelum pulang mereka menyempatkan mampir kerumah sakit. Alfan membawa dokumen yang perlu ditanda tangani sang adik. "Hallo keponakan tante yang tampan" Reta memghamburkan dirinya ke ranjang bayi. Karena gemas, Reta mencubit pipi chuby si kecil dengan lembut. "Duh gemes banget sih" ucap Reta. Melvin tercengang melihat rok mini dan pakaian ketat yang dipakai sang adik. Bukan hanya Melvin saja semua orang yang ada di kamar rawat itu juga ikut tercengang.


Melvin menegur Reta dengan memarahinya. Kali ini Melvin yang lebih galak daripada Alfan. "Kamu apa-apaan pake baju kaya gitu" bentak Melvin. Kini Reta mendapatkan omelan dari Melvin. Suara Melvin sampai membuat buah hatinya terkejut dan bangun dari tidurnya. "Sayang pelanin dong suaranya" gerutu Dinka. Melvin pun mengurangi volume suaranya. "Kamu datang ke kantor memakai pakaian seperti itu?" tanya Melvin tidak sabaran.


Reta masih diam tidak menjawab apapun. "Bagus ya sudah diajarin nakal sama Bobby" Melvin menatap tajam pada sang adik. "Enggak kok kak" jawab Reta. "Terus apa kalau gitu, berani sekali memakai pakaian seksi kaya begitu" ucap Melvin ketus. "Mau kakak laporin sama ayah dan bunda" lanjut Melvin. Alfan melemparkan jasnya pada Reta agar dipakai untuk menutupi. "Sudahlah vin" pinta Alfan agar Melvin menyudahi omelannya.


"Kak Alfan ada apa kesini?" tanya Melvin. Alfan menunjukan tumpukan dokumen yang dibawanya. "Kakak perlu tanda tangan kamu" Alfan menaruh tumpukan kertas dimeja. Kemudian beralih pada kedua mertua Melvin untuk bersalaman. "Pak bu" Alfan mencium tangan kedua mertua Melvin.

__ADS_1


"Nak Alfan bukannya dari kantor kenapa langsung kesini?" tanya Siti. "Ini bu ada keperluan yang penting dengan Melvin" jawab Alfan. Rama menyuruhnya untuk duduk di sampingnya. "Nak Alfan kapan mau menikah, apakah sudah ada calonnya?" tanya Rama. "Sebenarnya sudah ada pak, tapi kabur" jawab Alfan dengan tersenyum kecut. "Bapak kenapa tanya seperti itu, lihat tuh nak Alfan kelihatannya canggung karena pertanyaan bapak" timpal Siti.


"Nah berhubung kak Alfan kesini. Bapak sama ibu pulang dengan kak Alfan ya" saran Melvin. "Apa nak Melvin tidak apa-apa menjaga Dinka disini sendiri?" tanya Rama. "Tidak masalah pak" jawab Melvin dengan tersenyum.


"Katanya juga tadi ibu ingin pergi ke mall. Sekalian saja mampir sebentar" imbuh Melvin. "Iya nak Alfan mau kan mengantar kami pergi ke pasar yang luas itu yang bangunannya bagus" sahut Siti antusias.


"Kalau di kota gak ada pasar bu, itu namanya mall bukan pasar" timpal Dinka. "Iya itu maksud ibu" sahut Siti. "Bu nak Alfan itu habis pulang kerja kasian dia pasti lelah" Rama menasehati sang istri agar tidak memalukan. "Gak papa kok pak, ayo biar aku temani" Alfan tersenyum lebar. "Asik aku ikut" celetuk Reta. Melvin dan Alfan menengok secara bersamaan pada sang adik. "Rok kamu itu rok kamu" sahut Melvin dengan ketus. Reta pun menundukan wajahnya.


Alfan menatap sang adik dengan malas. "Ya sudah kita pulang saja" ucap Alfan masuk kedalam mobilnya. "Ayolah kak sudah lama nih gak ke mall shopping" Reta memohon dengan memasang wajah memelas. "Enggak" jawab Alfan dengan singkat padat dan ketus. Reta merengek agar sang kakak mau menurutinya. "Kasian bu Siti lho kak pengen ke mall masa gak jadi" Reta tersenyum memperlihatkan barisan giginya. Alfan sama sekali tidak menanggapi.


"Maaf ya pak bu ke mallnya besok-besok saja, karena banyak pekerjaan yang sudah menanti" jelas Alfan. "Oh begitu ya, tidak apa-apa nak Alfan" sahut Rama dengan cepat. Sebelum didahului oleh istrinya. Sampai di depan gerbang utama ada suara klakson mobil. Terlihat mobil berwarna merah. Alfan tau itu mobil siapa. Alfan menghela nafasnya.


Reta pun bertanya "ada apa kak?". Namun sang kakak tidak merespon. Pintu gerbang dibuka dan simobil merah ikut masuk. Karena begitu penasaran Reta celingukan ke belakang berulang kali. Dan menengok lewat kaca spion.

__ADS_1


"Hai fan" sapa Clarisa. Reta memutar bola matanya dengan malas setelah tau Clarisa yang datang. Alfan balik menyapa dengan senyuman. "Ini siapa nak Alfan? Pacarnya ya?" tanya Siti. "Bukan bu dia hanya orang gak penting yang datang kesini" jawab Reta.


Rama mengajak istrinya masuk kedalam agar tidak bertanya lebih jauh. Mendengar suara cempreng Reta membuat Bobby keluar dari rumah. Ternyata dia sudah menunggu sejak tadi. "Beb kamu pulang juga" ucap Bobby sembari berjalan menghampiri Reta.


Tidak lupa Bobby bersalaman dengan kedua orangtuanya Dinka. "Kalau ini siapa ya, kaya pernah lihat sebelumnya" sahut Siti. "Bobby tante, masa lupa" jawab Bobby. "Jangan panggil tante, panggil ibu saja seperti yang lainnya" pinta Siti. "Iya ibu" Bobby tersenyum. Dia tau kalau Siti ini adalah mantan istri dari ayah tirinya. Namun Siti dan Rama tidak tau kalau Bobby anak dari Betty.


"Kamu kenapa kesini?" tanya Alfan. "Aku teleponin kamu kenapa gak diangkat?" tanya Clarisa balik. "Aku sibuk" jawab Alfan sambil berjalan masuk kedalam rumah. Langkahnya di buntuti oleh Clarisa. "Sesibuk apapun harusnya sempetin bales pesan aku dong" sahut Clarisa.


"Terus ada keperluan apa?" tanya Alfan. "Papih aku ngundang kamu buat makan malam, kamu mau ya" Clarisa memohon. "Makan malam untuk acara apa nih?" tanya Alfan bingung. Karena kerjasamanya dengan keluarganya Clarisa sudah terlaksana. "Em ada deh, nanti kamu juga tau" jawab Clarisa dengan suara lembut.


"Tapi aku banyak kerjaan malam ini, aku harus lembur untuk mengerjakan urusan kantor. Karena Melvin gak berangkat beberapa hari ini" Alfan menjelaskan. Dia mencoba menolak Clarisa dengan cara yang halus. "Ayolah fan cuma makan malam saja kok, habis itu kamu boleh pulang deh" Clarisa memegang tangan Alfan.


Mau tidak mau Alfan menerima ajakan Clarisa untuk makan malam dirumahnya. Karena juga merasa tidak enak dengan orang tua Clarisa.

__ADS_1


__ADS_2