Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
154. Teman wanita


__ADS_3

Alfan menyuruh para bodyguard sang ayah untuk ikut mencari. Tidak membutuhkan waktu yang lama mobil Melvin berhasil ditemukan. Tapi tidak dengan orangnya. Alfan yang mendengar kabar itu pun langsung mendatangi lokasi di ketemukannya mobil Melvin. "Tuan muda mobil tuan Melvin berada di jembatan tidak jauh dari kompleks perumahan elit saphire" ungkap si bodyguard yang menemui Alfan. Perumahan itu merupakan tempat tinggal keluarga Armand. "Mobilnya sudah kami bawa kembali kerumah tuan" ucap salah satu bodyguard yang lain.


"Baiklah tetap cari Melvin sampai ketemu malam ini juga" perintah Alfan. "Siap tuan" jawab kompak para bodyguard. Ponselnya berbunyi sebuah nomor baru tertera dilayar ponsel. Alfan segera mengangkatnya.


"Hallo siapa ini?" tanya Alfan. "Hallo fan ini gue Clarisa" jawab si wanita dari seberang telepon. "Clarisa siapa?" tanya Alfan lagi. "Ini gue Clarisa temen kuliah loe. Tadi gue nemuin adek loe di jalan dalam keadaan pingsan. Terus gue bawa kerumah sakit" sahut Clarisa. Alfan baru ingat pernah bertemu kembali dengan Clarisa di singapura dan bertukar nomor telepon. Tapi dirinya tidak menyimpan nomor teman semasa kuliahnya itu. "Melvin ada sama loe. Dirumah sakit mana? Biar gue kesana" jawab Alfan. "Gue share ya alamatnya" Clarisa mengirim sebuah pesan singkat pada Alfan.


Setelah mendapatkan alamat rumah sakit, Alfan segera mendatanginya. Mobil melaju di keramaian malam. "Sial macet lagi" gerutu Alfan. Tidak lupa dia menghubungi Reta dan memberitahukan bahwa Melvin telah ditemukan.


"Bob cepet ke rumah sakit medika, kak Melvin ada disana" pinta Reta. "Syukurlah kak Melvin ketemu" sahut Bobby. Mereka bertiga bertemu di rumah sakit tempat Melvin di rawat. Clarisa menunggu di lobby rumah sakit. "Nah itu teman kakak" Alfan menunjuk pada seorang wanita cantik yang berdiri memakai dress merah. Kebetulan ada dua orang wanita yang mengenakan dress merah didepan.


"Yang mana kak?" tanya Reta. Alfan tidak menjawabnya dan berjalan didepan lebih dulu. Si wanita pun melambaikan tangannya kearah Alfan sambil tersenyum. Reta dan Bobby mengikuti di belakangnya. "Hai fan apa kabar?" Clarisa langsung memeluk Alfan. Melihat ada wanita yang memeluk Alfan membuat Reta penasaran. Selama ini setau dirinya sang kakak tidak pernah dekat dengan wanita manapun setelah berpisah dari Enzi.


"Bagaimana kondisi Melvin, apa dia baik-baik saja?" Alfan malah menanyakan keadaan sang adik. "Adik kamu baik-baik saja hanya pingsan. Sebentar lagi mungkin siuman" Clarisa senang bisa bertemu lagi dengan lelaki ini.


Mereka semua berjalan menuju kamar pasien. Alfan merasa lega sudah bisa menemukan sang adik dan mengucapkan banyak terimakasih pada teman wanitanya itu. "Terimakasih banyak kamu sudah menolong adikku dan membawanya kerumah sakit" kata Alfan. "Terimakasih kembali" sahut Clarisa dengan senyuman terbaiknya. Reta tidak berhenti memandangi teman kakaknya. "Kalian mengobrolah biar aku dan Reta yang jagain kak Melvin" saran Bobby. Reta mencubit lengan Bobby yang menyarankan hal tersebut. "Awwwww..kenapa kamu cubit aku beb" Bobby mengelus lengannya yang dicubit. "Salah sendiri kamu malah ngomong kaya gitu" bisik Reta.

__ADS_1


Alfan dan Clarisa kompak melihat Bobby yang dicubit. "Kapan kamu kembali dari singapura?" tanya Alfan. "Sudah cukup lama" jawab Clarisa dengan suara lembutnya. Dibuat selembut mungkin agar terdengar feminim di hadapan Alfan.


"Ya sudah aku duluan ya sebab masih ada urusan" imbuh Clarisa sembari berjalan keluar dari kamar pasien. "Tunggu" Alfan menghampirinya. "Apa kapan-kapan aku boleh mentraktir mu makan sebagai ucapan terimakasih?" tanya Alfan.


Ajakan dari Alfan tentu sangatlah membuat Clarisa senang. "Baiklah, tapi aku yang pilih dimana kita makan ya" sahut Clarisa. "Terserah kamu saja" jawab Alfan. Clarisa mengakhiri percakapan dengan tersenyum manis pada Alfan.


Sementara dirumah Dinka menjadi khawatir mendengar suaminya menghilang. Dia berjalan kesana kemari didalam kamar. "Bi apa Melvin bakal ketemu dan baik-baik saja?" tanya Dinka. "Kita berdoa saja non agar tuan muda cepat diketemukan" jawab bi Nah.


"Kalau nona khawatir bibi akan menghubungi tuan Alfan untuk menanyakan kabar tuan Melvin" lanjut bi Nah. "Baiklah, sini biar aku saja bi yang menelpon kak Alfan" Dinka meminta ponsel milik pelayannya.


Alfan diam sejenak untuk membuat Dinka makin penasaran. "Hallo kak, kenapa diam? Apa signal -nya buruk?" tanya Dinka tidak sabaran. "Kenapa kamu menanyakan suamimu? Pasti khawatir ya?" ledek Alfan yang sedari tadi sambil senyum-senyum. "Engga kak cuma pengen tau aja" jawab Dinka dengan tegas.


"Udah bilang saja kalau kamu khawatir ya kan" goda Alfan sengaja mengulur percakapan. "Aku tanya sudah ketemu belum kak?" tanya Dinka yang makin penasaran.


"Kalau suami mu sudah ketemu memangnya kamu mau memaafkannya?" Alfan terus saja meledek adik iparnya. "Iya-iya aku khawatir banget sama Melvin" Dinka akhirnya mengaku.

__ADS_1


"Hahaha suami kamu sudah ditemukan sejak tadi cuma kakak lupa untuk memberi kabar padamu" Alfan tertawa puas sudah mengerjai sang adik ipar. "Dih kak Alfan keterlaluan" gerutu Dinka sembari mematika telponnya.


Alfan mengirim pesan singkat ke ponsel milik Dinka. Yang berbunyi 'Kamu tenang saja. Melvin hanya pingsan dia baik-baik saja. Dia pasti akan senang setelah tau kamu sudah memaafkannya'. Dinka tersenyum lega membaca pesan kiriman dari sang kakak ipar.


Alfan kembali masuk kedalam kamar rawat Melvin. Terlihat sang adik dan Bobby sedang bermesraan. Bobby memegangi pipi Reta yang terlihat seperti akan menciumnya. Padahal Bobby hanya merasa gemas pada Reta. "Ehem" Alfan membuat dua sejoli itu langsung kalang kabut. "Kalian kalau mau bermesraan bukan disini tempatnya" gerutu Alfan.


"Lagian sudah tau kakak belum lama putus dari Enzi malah sengaja pamer kemesraan didepan kakak" Alfan berjalan menuju sofa untuk duduk. "Kalian pergilah biar kakak saja yang menjaga Melvin" usir Alfan pada keduanya.


"Kak Alfan kayanya butuh cermin deh, tuh mata kakak seperti mata panda. Bukannya kemaren malam kakak gak tidur karena menjaga Dinka. Dan malam ini mau gak tidur lagi" Reta mengambil sebuah kaca kecil dari dalam tas selempangnya. Dan di tunjukan pada wajah sang kakak. "Kamu anak kecil sudah berani menasehatiku" Alfan mengusap rambut Reta dan mengacak-acaknya.


"Kak Alfan" gerutu Reta dengan suara yang tegas. Tangannya mengalihkan tangan Alfan di kepalanya. "Ya sudah pulang sana, kakak akan berjaga disini" ucap Alfan.


"Iya kak ini kita mau pulang, ayo beb" sahut Reta sekaligus mengajak Bobby pulang. "Bob bilang sama Dinka suruh jangan khawatir ya" pinta Alfan.


"Siap kakak ipar" timpal Bobby memberi hormat pada Alfan. Reta menarik tangan sang kekasih.

__ADS_1


Ditengah malam Melvin pun sadar dari pingsannya. Tangannya memegang kepala karena merasa pusing. Terlihat sang kakak yang tertidur sambil duduk disampingnya.


__ADS_2