Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
Sisi lain si tampan #2


__ADS_3

Didalam mobil Melvin memikirkan betapa kasiannya anak kecil yang ditemuinya di proyek. Banyak anak-anak yang terlahir dari keluarga kalangan bawah. Nasib mereka tidak seberuntung dirinya yang terlahir dari keluarga konglomerat.


Alfan yang duduk disebelah pak Iwan melihat adiknya dari kaca spion mobil. Bibirnya tersenyum melihat Melvin.


"Apa yang membuat raut wajahmu seperti itu?" tanya Alfan. "Hanya saja... " jawab Melvin tidak melanjutkan perkataannya. Alfan tau apa yang ada dipikiran adik angkatnya itu.


"Kamu tenang saja kakak sudah menyuruh seseorang untuk mengantar anak kecil tadi kerumah sakit" tutur Alfan. Melvin juga memandangi kakak angkatnya lewat kaca spion.


Sampai di perusahaan Melvin melangkahkan kakinya ke ruang kerjanya. Tangannya di masukan kedalam saku celana. Karyawan wanita banyak yang terpesona melihatnya.


"Gak ada bosannya kalo lihat pak Melvin" ucap salah satu wanita. "Iya makanya betah aku kerja disini" ucap wanita yang lain. Memanglah Melvin ini selalu membuat riuh seisi kantornya.


Datanglah bigbos keruangan kantor sang anak. Arya menghampiri ruang kerja Alfan yang bersebelahan dengan Melvin. Anak kandungnya sedang fokus melihat dokumen. Jadi tidak melihat ayahnya datang.


Bila di kantor Alfan memanggil ayahnya bukan dengan sebutan ayah melainkan panggilan pada atasannya. Berbeda dengan Melvin yang seenak jidat memanggil ayahnya sesuka hati. "Pak presdir ada perlu sesuatu?" tanya Alfan.


"Sore ini kamu jemput Serin di bandara" pinta sang ayah. "Baik pak" sahut Alfan. Alfan sangat senang mendengar kepulangan tunangannya itu.


Sebelum Arya kembali keruangannya. Dia menghampiri putra nya. "Kamu terlihat sangat fokus" ucap Arya. Melvin sedikit terkejut dan menatap sang ayah. "Ayah kenapa kesini?" tanya Melvin bingung. Perasaan dia tidak berbuat salah, tapi kenapa sang ayah keruangannya. Dia takut Arya akan memukul atau menghukum Alfan.


"Ayah memberitahukan kepulangan Serin pada kakak mu" ujar Arya. Melvin seketika merasa senang mendengar kepulangan Serin.

__ADS_1


"Ya sudah kamu lanjutkan pekerjaanmu" kata sang ayah. Melvin mengangguk. Langkah kaki Melvin menuju ruangan di sebelahnya. "Benar si Serin akan pulang?" tanya Melvin penasaran.


Alfan mengangguk dan berkata "aku disuruh menjemputnya nanti sore". Melvin melihat raut wajah Alfan yang sumringah. "Sesenang itukah?" tanya Melvin memastikan.


"Setelah beberapa tahun menjalin hubungan jarak jauh akhirnya sekarang dia kembali juga" jawab Alfan sembari tersenyum. Perasaan Melvin berubah menjadi marah. Namun dia tidak memperlihatkannya pada sang kakak. Dirinya juga masih menyukai Serin. Tapi disisi lain sang kakak juga menyukainya.


Wajah dingin itu kembali dipasang oleh Melvin. Dia berdehem sambil keluar dari ruangan kerja kakaknya.


+++


Reta dan Dinka menunggu jemputan dari pak Iwan. Namun mobilnya belum terlihat juga. Ada luka memar sedikit diwajah cantik Dinka. Reta memandangi wajah Dinka yang sedikit kemerahan karena memar. Tangan Reta memegang eskrim.


"Ini wajah loe gak papa ka?" tanya Reta. "Kalau di tutup pake foundation bakal samar kok" jawab Dinka.


Pasti kejadian dikampus tadi bakal di beritahukan pada wali murid. Karena itu sudah yang kedua kalinya mereka terlibat perkelahian. Yang menjadi wali Dinka sekarang adalah suaminya.


"Gue khawatir kalo loe dimarahin sama kak Melvin karena pastinya besok kak Melvin harus datang" ungkap Reta. "Kamu sendiri juga bakal dimarahi kan?" tanya Dinka.


"Loe kaya gak tau gue aja, mereka udah pada paham sama gue. Karena waktu SMA mereka sering datang ke sekolah karena gue sering buat masalah" Reta menjelaskan sambil makan eskrimnya. Dinka mengernyit menghadap Reta.


"Separah itukah kamu ta" Dinka sampai berdecih. "Paling besok yang dateng ayah kalo gak kak Alfan. Tergantung yang gak sibuk siapa" ungkap Reta dengan entengnya. Temannya yang satu ini membuatnya terheran. 'Baru kali ini aku dapet temen seperti dia' batin Dinka.

__ADS_1


Karena semua temannya dan orang didesa punya kepribadian dan masih sangat menjaga kesopanan. Bukan termasuk adik tirinya yang suka membuat gara-gara dengannya.


Sebuah mobil mewah mendekat kepinggiran jalan. Pak Iwan membukakan pintu untuk kedua wanita yang sudah menunggunya.


"Maaf non telat tadi kejebak macet" ungkap pak Iwan. Dinka masuk kedalam mobil terlebih dulu. Reta ikut nebeng sampai depan asrama.


"Dah hati-hati ya, ntar malem gue telpon" Reta turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam asrama.


Alfan sudah rapih dengan bajunya. Wajahnya terlihat girang. "Kak Alfan mau kemana?" tanya Dinka. "Em aku mau jemput tunanganku dibandara" jawab Alfan.


"Kak Serin akan pulang?" tanya Dinka lagi. Alfan melirik Dinka. "Darimana kamu tau Serin, bukannya aku tidak pernah bercerita?" tanya Alfan balik.


"Oh itu aku dengar dari Reta kak" jawab Dinka tersenyum. Alfan pun tersenyum menanggapi ucapan Dinka. Kakinya melangkah pergi keluar rumah.


Dinka meneruskan menulis laporan yang harus dikumpulkan besok. Malam ini mungkin dia akan lembur untuk mengerjakan laporannya.


Melvin masuk kedalam kamar. Matanya hanya melihat sepintas pada istrinya. Membaringkan tubuhnya yang lelah diatas ranjang yang empuk.


Riuh suara terdengar dilantai bawah. Dinka melihat dari lantai atas. Apa itu wanita yang bernama Serin. Dirinya jadi penasaran namun tidak berani untuk turun kebawah.


Terlihat kedua mertuanya sangat senang bertemu dengan tunangan dari kakak iparnya itu. Wanita yang nampak anggun dan cantik. Begitulah bayangan yang digambarkan di otak Dinka. Dari segi bentuk tubuh saja dirinya sudah pasti kalah jauh. Dari penampilan pun sudah pasti jauh lebih cantik Serin. Apalagi dari kecerdasan dan intelektualnya. Dinka merasa kalah semuanya dari segi apapun.

__ADS_1


Ya bisa dibilang dirinya hanya beruntung karena punya golongan darah yang dimiliki juga oleh bunda Sarah. Dia berterima kasih pada ayahnya yang menghilang karena sudah menurunkan gen darah itu pada dirinya.


"Ayah" gumam Dinka lirih. Dirinya masih melamun dilantai atas sambil memandang kelantai bawah.


__ADS_2