
Hatinya benar-benar hancur oleh Abimanyu. Ditambah sekarang mantan tunangannya itu menjadi suami dari adik tirinya. Mungkin bila Dinka masih tinggal didesa dia akan makan hati setiap hari.
Minuman pesanan mereka tersaji di meja. Dinka meminum jus alpukatnya.
"Mas dengar kamu kuliah disini?" tanya Abinyu. Dinka mengangguk seraya berkata "aku dapat beasiswa mas".
"Wah hebat kamu, benar kata ibu dan bapak kamu memang cerdas" puji Abinyu. Dia sama sekali belum tau tentang pernikahan Dinka dengan Melvin.
"Terimakasih mas" sahut Dinka. "Ngomong-ngomong kenapa kamu bisa kesini?" tanya Abinyu. Dinka baru ingat bahwa kedatangannya kekantor untuk membawakan makan siang suaminya. Dia lupa tujuan utamanya itu.
"Mas tau ruangannya pak Melvin?" Dinka bertanya dengan ragu. Abinyu mengernyit. "Kamu ada perlu apa sama pak Dirut?" tanya Abinyu.
"Oh ini mas ada sesuatu yang harus aku berikan" Dinka menunjukan tas kertas yang dibawanya.
"Kamu kerja sebagai jasa pengantar makanan?" tanya Abinyu. Dinka langsung mengangguk. Dia tidak ingin ada karyawan perusahaan itu tau tentang pernikahannya dengan Melvin. "Baiklah ayo mas antar" ajak Abinyu menuju pintu lift.
Sampai lah mereka di ruang teratas gedung. Dinka dan Abinyu keluar dari pintu lift. Abinyu mengantarkan Dinka hanya sampai di depan ruang sekretaris Dirut. "Apakah pak Melvin ada didalam?" tanya Abinyu.
"Beliau masih meeting pak mungkin sebentar lagi selesai" jelas si sekretaris. Kedua sekretaris Melvin menatap Dinka dengan curiga. Mereka mengenali muka Dinka yang terlihat tidak asing. Abinyu ikut menunggu dengan Dinka.
Silma akhirnya teringat wajah Dinka. "Wanita itu istrinya pak bos" bisiknya pada temannya. Mereka tercengang setelah melihat langsung istri dari bosnya. Biasanya hanya melihat melalui foto yang dipajang dimeja kerja Melvin.
__ADS_1
"Cantik memang istrinya pak bos tapi seleranya unik wajahnya terlihat masih sangat muda" ungkap Silma lirih. "Bukannya dia masih kuliah" sahut rekan kerjanya. Silma mengangguk dengan cepat.
"Bagaimana kuliah dikota, apakah menyenangkan?" tanya Abinyu. "Cukup menyenangkan walaupun pas pertamanya ada sedikit kendala" jelas Dinka tersenyum.
Dikejauhan wajah dingin Melvin terlihat. Tatapan matanya yang tajam melihat kearah dua orang yang sedang berbicara. Alfan menangkap raut wajah Melvin yang terlihat marah. Hanya dia yang bisa membaca ekspresi wajah Melvin yang sesungguhnya.
Bagi orang lain sangat sulit untuk membaca ekspresi wajah Melvin. Begitu juga Dinka dan kedua orangtuanya Melvin saja tidak bisa mengerti dengan ekspresi wajahnya. Yang mereka tau bila Melvin sering memasang wajah dingin.
Karena Alfan yang sudah sangat dekat dengan adik angkatnya itu. Alfan merangkul pundak Melvin dan Melvin menoleh. Mata Alfan menatap adiknya dan menggeleng.
Melvin mengibaskan tangan Alfan yang berada dipundaknya. Melanjutkan langkahnya kembali menuju ruang kerja. Dinka melihat kedatangan sang suami. Dia menampilkan senyum terbaiknya.
"Mas itu orangnya sudah datang mas bisa lanjutkan pekerjaannya lagi" ucap Dinka. "Baiklah hati-hati ya jangan sampai membuat masalah dengan pak Melvin" Abinyu menepuk bahu Dinka dan tersenyum.
Melvin langsung menarik tangan Dinka masuk kedalam ruang kantornya. Menutup pintu dengan sangat keras. Kedua sekretarisnya sampai terkejut. Alfan mengusap dadanya yang kaget.
Melvin mendorong Dinka ke sofa. Tubuh Dinka langsung jatuh tersungkur kesofa. Kakinya menabrak sudut meja. Dinka merintih kesakitan sambil mengelus betisnya yang terkena sudut meja.
Melvin membuka jasnya menaruhnya diatas meja. Mengendurkan dasinya sedikit. Membuka kancing lengan kemejanya dan menaikan kemejanya sampai siku.
"Siapa pria tadi?" tanya Melvin. Tangannya mencengkeram dagu Dinka. "Dia kakak dari mas Abimanyu" ungkap Dinka. Mulutnya sudah mulai merasa sakit karena perbuatan sang suami.
__ADS_1
Melvin melepaskan cengkramannya dengan kasar. Dinka langsung mengusap-usap dagunya yang merah.
Melvin mengunci pintu ruang kerja dan menutup tirai kaca. Dinka sangat ketakutan melihat suaminya marah. Dirinya sudah seperti kepergok berselingkuh dihadapan suaminya sendiri.
Melvin memulai aksinya tidak tanggung-tanggung pada sang istri. Aneh memang Melvin selalu melakukannya pada Dinka saat dirinya marah.
Ada bulir airmata disudut mata Dinka. Dinka benar-benar takut melihat Melvin saat ini. Melvin mencium bibir Dinka dan melumatnya. Tangannya mulai menjamah kedalam dress yang Dinka kenakan. Terjadilah hal yang biasa dilakukan pasangan suami istri.
Alfan berjalan kesana kemari sambil meremas tangannya. Dia khawatir pada adik iparnya. Terlihat jelas wajah Melvin sangat marah tadi. "Kalau Melvin atau istrinya sudah keluar dari ruangan beritahu padaku ya" ucap Alfan pada sekretaris.
"Baik pak" jawab kompak kedua sekretarisnya. Alfan berlari kearah lift karena sudah telat untuk bertemu dengan Serin.
Dinka menangis dan memunguti pakaiannya yang berserakan dilantai kantor. Melvin merapihkan kembali pakaiannya. "Jangan pernah berani dekat dengan pria manapun" ucap Melvin.
Dia kembali mencengkeram dagu Dinka. "Kalau tidak kamu akan tau akibatnya" ucapnya lirih didepan wajah Dinka. Melvin melepaskan tangannya dan duduk dikursi kebesarannya.
"Aku sudah tidak nafsu makan bawa kembali makanannya" suruh Melvin. Setelah Dinka merapihkan pakaian dan rambutnya dia keluar dari ruang kantor suami.
Menundukan kepalanya sambil mengusap air mata yang masih menggenang dipelupuk matanya. Dua sekretaris itu melihat Dinka. Mereka merasa kasian padanya.
Dinka kembali lagi keruang kerja Melvin. Dia memberanikan diri untuk melawan kekejaman Melvin padanya. Dinka masuk tanpa mengetok pintu. Melvin tercengang melihat Dinka kembali.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak makan mungkin nanti kamu akan merasa lapar, aku taruh disini" Dinka mengucapkannya dengan tenang. Dia menatap wajah dingin tapi tampan suaminya itu. Langkah kakinya terlihat santai dan tenang keluar dari ruangan.
Dinka menghampiri meja sekretaris suaminya. "Untuk kejadian tadi jangan sampai ada yang tau" ucap Dinka tersenyum. Lalu dia berjalan menuju pintu lift. Dinka mendesah. Mulai sekarang dia tidak boleh lemah. Dia harus bisa melawan kekejaman suaminya. Bila tidak suaminya pasti akan selalu menindasnya.