
Sepulang kerja Melvin berencana mengajak sang istri makan malam romantis. Dia merasa bersalah pada Dinka mengingat bertemu kembali dengan Serin. Namun hal itu tidak terlalu dipikirkan. Pikirannya tertuju pada calon anak yang ada di kandungan istrinya. Sebisa mungkin Melvin menjaga mood sang istri agar tidak marah atau sedih. Belakangan Dinka memang cepat marah pada hal-hal kecil. Yang jadi bahan incaran tak lain dan tak bukan adalah dirinya.
Melvin melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar untuk menemui sang istri. Melihat Dinka sedang berdiri didalam kamar Melvin berjalan perlahan agar Dinka tidak menyadari dirinya pulang.
"Sayang" tangan Melvin meraih pinggang Dinka dari arah belakang dan mengelus perutnya. Dinka sedikit terkejut dengan sentuhan sang suami yang tiba-tiba. "Kenapa sampai terkejut gitu?" tanya Melvin dengan spontan. "Kamu tuh ya" gerutu Dinka.
Melihat Dinka memegang sebuah buku kehamilan membuat Melvin bertanya-tanya. "Kenapa sayang?" Melvin melepaskan eratan tangannya dari pinggang Dinka. "Harusnya aku sudah periksa kandungan beberapa hari yang lalu tapi kelupaan" keluh Dinka.
"Emang harusnya tanggal berapa sayang kenapa bisa kelupaan?" tanya Melvin lagi. "Ya namanya juga lupa, jadi gak periksa" ucap Dinka dengan nada yang meninggi. Melvin mencoba tersenyum merespon ucapan sang istri. "Iya sayang, ya udah mau periksa sekarang aja atau besok" Melvin berkata selembut mungkin.
"Besok aja deh sekarang udah malem" jawab Dinka dengan ketus. Melvin mengambil nafas panjang dan menghembuskan dengan pelan. Untuk membuat mood sang istri baik dia mengajak Dinka makan malam berdua di luar.
"Sayang bagaimana kalau kita makan malam berdua" ajak Melvin disertai dengan senyuman terbaik. "Ogah males" jawab Dinka dengan cepat. Langkah kaki Dinka berjalan mendekati meja riasnya dan meletakkan buku kehamilan di meja. Seharian Dinka sendiri di rumah sampai bosan. Dia ingin di perhatikan lebih oleh sang suami. Namun Melvin selalu sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Unek-unek itu dia pendam sudah cukup lama.
Tapi kali ini Dinka sudah tidak bisa menahan rasa unek-unek yang ada di dalam lubuk hatinya. Terkadang ibu hamil memang butuh perhatian lebih dari sang suami. Tapi dia tidak mendapatkan perhatian itu. Itu yang membuat mood Dinka meledak-ledak dan sering mengacuhkan suaminya.
__ADS_1
Melvin bingung dengan sikap istrinya. Dia tidak tau kesalahan apa yang telah dibuatnya. 'Kayaknya aku gak berbuat salah apapun deh' batin Melvin sembari menatap sang istri.
Melvin pun mendekati Dinka yang terduduk di kursi depan meja rias. "Sayang kenapa? Pengen eskrim atau ngidam makanan lain, aku beliin deh" rayu Melvin dengan nada yang super duper lembut.
"Ogah" Dinka memasang wajah cemberutnya. Kedua tangannya di silangkan kedada. "Terus kamu kenapa sayang?" tanya Melvin kebingungan. "Gak papa" jawab Dinka cepat. Melvin mengelus dahinya dan terdiam sejenak. "Sayang kalau aku salah kamu bilang dong, kesalahan aku apa jadi aku gak bingung gini" sahut Melvin.
"Gak ada" timpal Dinka singkat dan ketus. "Terus kamu kenapa?" tanya Melvin lagi. "Gak papa" jawab Dinka sambil melirik kearah Melvin. Tak patah arang Melvin kembali bertanya "Sayang kenapa sih?". Dinka diam tak bicara apapun.
Melvin pun melonggarkan dasinya dan meletakkan jas kotor nya ke dalam ranjang berisi pakaian kotor. Dia meninggalkan sang istri sendiri di dalam kamarnya. "Dasar gak peka" gerutu Dinka. Tapi perkataannya masih terdengar oleh sang suami. "Sayang bener gak papa?" tanya Melvin untuk kesekian kalinya.
"Tadi siang" jawab Alfan sembari memakan cemilannya. Melvin tidak terbiasa memakan cemilan karena tidak suka. Tapi kali ini dia merebut bungkusan cemilan dari tangan sang kakak. "Bagi dong kak, pusing nih. Pulang kerja di cuekin sama istri" keluh Melvin pada sang kakak.
Alfan tertawa kecil mendengar keluhan sang adik angkatnya itu. "Mungkin istri kamu lagi butuh perhatian, biasanya kalau ibu hamil suka gitu" sahut Alfan. "Sudah aku tanya dia kenapa jawabannya gak papa. Tapi mukanya cemberut" ucap Melvin.
"Ya itu berarti dia lagi cari perhatian kamu lah, udah sana kamu bujuk dulu atau rayu kek, biar Dinka gak cemberut lagi" saran Alfan. Melvin pun menuruti perkataan sang kakak. Disini walaupun Alfan belum berumah tangga namun dia bisa memahami wanita dari pada Melvin.
__ADS_1
"Oiya gimana kabar bunda?" Melvin bertanya sambil berdiri untuk beranjak pergi. "Sudah mendingan jadi kakak pulang" sahut Alfan.
Melvin masih berdiri di depan sofa. Alfan yang melihat sang adik yang kebingungan tersenyum melihatnya. "Tuh kakak bawa oleh-oleh dari singapura, ada di kulkas kebetulan istri kamu suka. Kamu kasih kan aja ke dia" ujar Alfan.
Melvin bergegas kearah dapur mengambil yang di maksud sang kakak. Dia membuka pintu kamarnya dan melihat sang istri sudah berbaring di ranjang empuknya. Melvin berjalan mendekati sang istri secara perlahan. Kepalanya menengok kearah Dinka dengan pelan memastikan sang istri tertidur atau tidak. "Sayang mau ini gak?" tanya Melvin sambil memegang bungkusan berisi coklat.
Dinka berbalik dan menatap suaminya. Tanpa di aba-aba Dinka meraih bungkusan yang di pegang Melvin. Tangan Dinka mencoba membuka bungkusan namun tidak bisa. "Sini aku bukain" tawar Melvin. Jemarinya malah iseng membuka kancing baju piyama yang dipakai sang istri. "Bukan dasternya tapi bungkusannya" ucap Dinka ketus.
"Maaf sayang, habisnya piyama kamu melambai-lambai minta di buka kancingnya" rayu Melvin. "Melambai-lambai emang daun" ketus Dinka. Melvin membukakan bungkusan coklat untuk sang istri. Dinka memang suka sekali dengan coklat apalagi hal-hal yang berbau manis.
"Kak Alfan yang bawa?" tanya Dinka. "Iya sayang kok tau" jawab Melvin cengengesan. Dinka hanya melirik sang suami dan memakan coklatnya. Mata Melvin dengan intens melihat sang istri memakan cokelat dengan lahapnya. Bibirnya tersenyum melihat betapa polosnya sang istri yang sedang memakan coklat. Seperti anak kecil yang tidak pernah memakan coklat sebelumnya.
"Maaf ya sayang karena aku selalu sibuk sama pekerjaan kantor" Melvin memulai percakapan. "Sedari singapura emang pekerjaan aku numpuk banget, apalagi gak ada kak Alfan yang bantu jadi aku yang handle semuanya" keluh Melvin.
"Kamu lagi curhat atau mau ngajak ngobrol" ucapan dari Dinka sontak membuat Melvin mengernyit. "Sayang aku serius aku minta maaf karena selalu sibuk dan gak perhatian sama kamu" sahut Melvin dengan suara yang lembut dan halus bagaikan sutra.
__ADS_1
"Harusnya aku peka sebagai suami, kamu lagi hamil besar gini aku harus lebih perhatian lagi sama kamu. Maaf ya sayang" Melvin memegang pipi chuby Dinka dan mengecup keningnya sebagai permintaan maaf.