Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
132. Pengakuan


__ADS_3

Reta berinisiatif memasakkan makanan untuk Bobby. Dengan berbekal resep browsing dari internet. Karena selama pacaran selalu Bobby yang berusaha keras memanjakannya. Bi Nah terkejut melihat Reta sudah ada didapur pagi buta. "Lah non Reta tumben jam segini di dapur" ucap bi Nah. "Iya nih bi lagi coba masakin sesuatu buat Bobby" sahut Reta. Rambut pendeknya di kucir satu dengan memakai celemek. "Nih bi cicipin dong enak gak" Reta mengambil sedikit masakannya dengan spatula.


"Lumayan non tapi masih kurang garam sedikit" bi Nah memberikan garam dengan takaran kira-kira. "Seneng deh lihat si non tomboi mau belajar masak, kalau tuan besar sama nyonya tau pasti mereka juga akan merasa senang" ungkap bi Nah. "Bibi ngejek ya, emang sih aku gak pernah kedapur buat masak, tapi kali ini untuk Bobby aku mau belajar masak bi. Kakak ipar saja bisa masak makanan lezat, kak Melvin aja yang gak ngebolehin kakak ipar buat masak" jelas Reta. "Bagus lah non kalau mau belajar masak" ucap bi Nah. Reta meminta diajarkan masak beberapa menu makanan kesukaan Bobby.


"Bi bantuin aku merangkai kedalam box makanan dong, mau aku bawa ke kampus" pinta Reta. Dinka juga terkejut melihat Reta sedang sibuk dengan kegiatan menghias kotak makanan. "Wah wah gak salah lihat nih aku ta" Dinka mengambil beberapa buah yang sudah dipotong-potong. "Kak kenapa malah dimakan" gerutu Reta. "Hehe cicip doang" ucap Dinka cengengesan.


"Sayang bantuin aku ikat dasi dong" teriak Melvin dari lantai atas. Dinka berjalan menuju ke anak tangga. Dia merasa ada yang tidak beres dengan perutnya. Sedari semalam memang perutnya sedikit merasa sakit. Tapi tidak sesakit pagi itu. Tangannya dengan sigap mengelus perut buncitnya yang akan menginjak usia 8 bulan. "Kenapa rasanya mules ya" ucap Dinka pada diri sendiri. Dinka mendesah kesakitan karena perutnya.


"Aduh vin" Dinka mencoba memanggil sang suami. Tangan kanannya meraih pegangan anak tangga untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Reta dan bi Nah yang melihat keadaan Dinka segera bergegas menghampirinya. "Non kenapa?" tanya Bi Nah. "Kakak buruan kesini" Reta ikut berteriak memanggil Melvin.


Melvin sudah rapih mengenakan setelan jasnya tanpa dasi. Dia berlari mendekati sang istri dan menggendongnya kekamar. "Aduh perut aku vin" Dinka mengeluh kesakitan. Tangannya memegang bagian bawah perut. Bi Nah ikut mengelus perut istri majikannya. "Apa gak sebaiknya di bawa kerumah sakit aja tuan" sahut bi Nah. "Aku gak mau kerumah sakit" Dinka menggeleng dengan cepat.

__ADS_1


"Aku mau telpon dokter Mirna dulu bibi sama Reta jagain Dinka ya" Melvin mencari ponselnya yang entah dimana. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya dokter yang biasa menangani Dinka pun datang. Sang dokter memeriksa kandungan Dinka yang sempat kontraksi. "Ini hanya kontraksi biasa, bukan mau melahirkan" ucap sang dokter.


"Tapi tidak apa-apakan dok?" tanya Melvin panik. "Iya mungkin karena si ibu terlalu banyak pikiran" kata dokter. Dinka memang masih saja merasa bersalah karena merahasiakan tentang kondisi bundanya pada Melvin. "Sayang kamu mikirin apa sih, jadi bisa kaya gini" Melvin merasa sangat cemas pada Dinka.


"Saya akan memberikan beberapa suplemen ya dan anda jangan terlalu banyak pikiran dan harus banyak istirahat" nasehat dari dokter hanya diangguki oleh Dinka. "Gimana udah mendingan kan, udah gak sakit lagikan?" Melvin mengusap-usap perut Dinka. Dokter memberikan resep obat pada Melvin sambil berkata "perbanyak jalan-jalan di pagi hari dan melakukan hubungan suami istri diusia ini juga bagus". Melvin menerima resep obat yang diberikan sang dokter.


Wajahnya terlihat cemas dan khawatir pada sang istri. "Kakak ipar beneran udah gak papa?" tanya Reta. "Udah mendingan kok ta" ucap Dinka mencoba tersenyum. "Kalau gitu aku mau berangkat kuliah ya, kak Melvin gak usah berangkat kerja" ucap Reta.


"Sayang kamu jujur sama aku, ada yang kamu sembunyikan dari aku?" tanya Melvin memastikan. Dinka menggeleng dengan pelan. "Terus apa yang kamu pikirkan sehingga kamu bisa sampai kaya gini" ucap Melvin selembut mungkin agar Dinka mau berterus terang padanya.


"Maaf vin" Dinka mulai mengaku. "Maaf ya aku udah bohong sama kamu" imbuh Dinka. Melvin terdiam mendengar penjelasan sang istri. "Tentang kondisi bunda, sebenarnya dia tambah kritis dari sebelumnya dan ayah sampai tergoncang karena keadaan bunda. Aku gak mau kamu kaya ayah. Jadi aku merahasiakan keadaan bunda yang sebenarnya sama kamu. Aku merasa sangat bersalah semenjak merahasiakan ini dari kamu" Dinka menjelaskan panjang lebar. Setelah mengakui semuanya dia merasa lega.

__ADS_1


"Jadi karena itu, kamu jadi kaya gini" Melvin terlihat sedikit terkejut. "Kamu pasti marah banget kan sama aku? Kamu pasti kecewa kan sama aku" mata Dinka mulai berkaca-kaca.


"Sayang mana mungkin aku marah sama kamu, udah gak usah dipikirin yang penting sekarang kandungan kamu baik-baik aja" Melvin mengelus pipi sang istri.


"Kamu gak marah sama aku karena udah bohong" ucap Dinka menatap dengan dalam suaminya. "Mana mungkin aku marah sayang, apa kak Alfan yang menyuruh kamu?" Melvin tersenyum tipis melihat kepolosan istrinya itu. Dia memang kaget mendengar kondisi ibundanya yang lebih parah dari keadaan sebelumnya. Namun kini dia memikirkan juga tentang istrinya. Jadi dia harus kuat dan tidak boleh terlihat sedih didepan istrinya. Dinka hanya terdiam menatap sang suami.


"Kamu istirahat ya, aku bakalan disini kok buat nungguin kamu" pinta Melvin. "Kamu beneran gak marah sama aku?" tanya Dinka yang kesekian kalinya. "Engga sayang" Melvin menggeleng. Jauh dilubuk hatinya dia sudah tidak bisa marah pada Dinka, mengingat perbuatannya dimasa lalu pada Dinka.


"Bener kamu gak marah sama aku vin?" tanya Dinka lagi. Melvin mencium kening sang istri dengan lembut.


"Sayang aku ingin buah, kayanya seger deh makan buah" Dinka memasang muka memelas agar Melvin mau mengambilkan. "Perut kamu habis sakit masa mau makan buah sih, ini juga masih pagi" keluh Melvin. "Yaudah ayam bakar atau bebek bakar deh" ucap Dinka antusias. Melvin menyuruh pelayan untuk membelikan bebek utuh untuk dibakar.

__ADS_1


Diam-diam Melvin menghubungi paman Jay untuk memastikan keadaan ibundanya. Kalau paman Jay pasti mau menjelaskan secara detail kondisi bundanya yang sebenarnya. Beda dengan Alfan pasti akan menyembunyikan bagaimanapun caranya.


__ADS_2