Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
126. Bersikeras


__ADS_3

Sebelum kembali kerumah Alfan mampir kesebuah cafe. Dia memarkirkan mobilnya dan turun. Sudah seharian ini dia belum makan apapun. Pikirannya terkuras memikirkan sang bunda angkat. "Huh sebaiknya mengisi perut dulu" ucapnya sendiri.


Tanpa sengaja langkahnya menabrak seorang anak kecil yang usianya sekitar lima tahun. "Maaf dek, kamu gak papa?" tanya Alfan. Si anak kecil hanya tersenyum sambil mengusap lututnya yang sakit. Alfan membantu membangunkan badan si anak kecil. "Maaf ya" ucap Alfan meminta maaf lagi. Dari kejauhan ada seorang wanita yang memanggil nama anak kecil tadi. Alfan merasa tak asing dengan suara wanita itu. Matanya celingukan ke sekeliling.


Enzi yang sedang kelimpungan mencari anak asuhnya pun mendapati si anak terlihat mengobrol dengan Alfan. Sontak Enzi langsung bersembunyi dibalik pohon yang tak jauh dari tempatnya berdiri. 'Gawat kenapa pak Alfan bisa sampai ada disini? Apa dia datang kesini untuk mencariku' batin Enzi.


Alfan membawa si anak kecil masuk kesebuah cafe dan menyerahkan pada manager cafe. Dia pun memesan makanan dan duduk manis diantara pengunjung yang lain. Enzi masuk kedalam cafe dengan mengendap-endap. Agar tidak dilihat oleh Alfan. Baginya sudah cukup berhubungan dengan Alfan. Itupun demi kebaikan Alfan dan dirinya.


'Maaf pak Alfan aku gak bisa bersama dengan kamu lagi' gumam Enzi sambil menangis melihat kearah Alfan. Dari kejauhan dia melihat Alfan yang duduk sendiri. Ada seorang wanita cantik yang mendekat padanya.


Setelah menjemput si anak asuhnya Enzi segera keluar dari cafe itu. Dia tak mau melihat Alfan berduaan dengan seorang wanita. Sepanjang jalan pikirannya kembali dipenuhi oleh Alfan. 'Apa pak Alfan sudah melupakanku ya, apa dia datang jauh-jauh kesini karena untuk bertemu wanita itu' batin Enzi.


Didalam cafe Alfan asik berbincang dengan teman sewaktu kuliahnya dulu. Wanita itu juga berasal dari tanah air. "Jadi kamu kesini karena pengobatan bunda mu?" tanya si wanita bernama Clarisa. "Iya begitulah" jawab Alfan. "Pastinya adik kamu ikut juga dong?" tanya Clarisa lagi.


Alfan tertawa kecil menanggapi Clarisa. "Kamu masih suka sama Melvin?" tanya Alfan. "Kalau dulu dia gak pacaran sama Serin mungkin dia udah jadi milikku sekarang" sahut Clarisa dengan bangganya. "Sayangnya dia sekarang udah nikah dan istrinya sedang hamil" ujar Alfan.

__ADS_1


"Apa? Yang bener dong dia nikah sama Serin. Kamu gak becanda kan Fan" Clarisa sampai tertegun tidak menyangka. "Bukannya kamu juga suka sama Serin ya" imbuh Clarisa.


"Semua tentang Serin udah berakhir diantara kita berdua. Melvin nikah sama wanita yang dijodohin sama ayah" jelas Alfan. Clarisa mengaduk minumannya dengan sedotan. "Pernikahan aliansi ya, aku juga di jodohin sama orangtua ku dan sayangnya aku gak suka sama lelaki itu" ungkap Clarisa.


Melihat wajah Alfan yang tak juga kalah jauh tampannya dari Melvin. Muncul ide gilanya. "Bagaimana kalau kamu nikah sama aku aja, ntar aku bilang deh sama papah aku dia pasti setuju banget" ucap Clarisa dengan riang gembira.


Alfan tertawa terbahak-bahak. "Kamu tuh gila ya" Alfan memegang kening Clarisa. Bagi Alfan ucapan Clarisa sungguh ngawur. "Ya kita kan sudah kenal lama nih, lagian gak masalah dong walaupun kita belum punya rasa. Lambat laun juga bakalan ada rasa kok" jelas Clarisa.


Alfan mengambil minumannya dan meminumnya. Kepalanya menggeleng-geleng. "Daripada kelamaan ngobrol sama kamu malah jadi tambah gila" ledek Alfan. Dia pun beranjak dari kursinya.


Dirumah Melvin bersikeras untuk pergi kerumah sakit. Semenjak kedatangannya ke singapura dia sama sekali belum melihat keadaan Sarah. Dinka mencoba membuat alasan agar sang suami tidak pergi kerumah sakit. Tapi kini dia sudah kehabisan akal untuk menahan Melvin.


"Sayang aku pengen balik ke indo aku gak betah disini" ucap Dinka. Panggilan sayang darinya tidak membuat Melvin senang. "Kamu kan sebelumnya pernah kesini kenapa sekarang malah minta pulang?" tanya Melvin. Tangannya memegang bahu Dinka.


Dinka mencoba mencari alasan yang masuk akal. "Udara disini gak cocok buat kehamilan aku vin. Pokoknya kau mau pulang" rengek Dinka. Demi kebaikan suaminya dia harus bisa membuat Melvin kembali. "Pokoknya aku mau pulang" Dinka berkata sambil berjalan kearah kamar.

__ADS_1


"Sayang aku belum kerumah sakit sama sekali buat jenguk bunda, aku pengen tau kondisi bunda. Kamu jangan egois gini dong" Melvin mencoba menghadang jalan Dinka.


'Bukannya aku egois vin, aku cuma gak mau melihat kamu syok kaya ayah. Ini semua demi kebaikan kamu. Sebaiknya kamu jangan tau kondisi bunda untuk saat ini' gumam Dinka dalam hati.


"Kamu bilang aku egois" ucap Dinka sedikit keras. "Kamu yang egois" bentak Dinka. Langkahnya kembali berjalan masuk kedalam kamar. Bentakannya cukup membuat Melvin pasti merasa bersalah.


Melvin menghela nafasnya. Dia menyusul sang istri kekamar. "Sayang sebelum kembali ke indo kita jenguk bunda dulu ya" ucap Melvin. Ternyata Melvin masih bersikeras untuk pergi kerumah sakit. Dinka hanya diam membisu.


"Aku belum tenang kalau belum tau keadaan bunda dan melihatnya" Melvin membujuk sang istri. "Sayang please mau kan" Melvin menatap mata Dinka dengan memelas. "Kamu kan tau sendiri kalo aku sengaja kesini agar bisa melihat kondisi bunda sayang" lanjut Melvin. Tangannya menggenggam erat tangan Dinka.


Dinka tidak bisa menolak permintaan sang suami. Tapi bagaimana kalau Melvin tau kondisi sang bunda juga tidak baik baginya. Dinka melepaskan genggaman tangannya dari Melvin. "Ini udah malam lanjut bahasnya besok lagi. Aku mau tidur" sahut Dinka.


Melvin menyelimuti istrinya dan mencium kening. "Selamat malam sayang" ucap Melvin. Tidak lupa tangannya mengelus perut buncit Dinka.


Melvin keluar dari kamarnya dan melangkah kelantai bawah. "Kakak pulang kerumah, siapa yang jaga di rumah sakit?" tanya Melvin. Pertanyaan dari Melvin membuat Alfan terkejut. "Oh kamu mau kemana vin? Yang jaga udah ada ayah sama paman Jay" jawab Alfan. Dirinya memang tengah sibuk memikirkan Enzi.

__ADS_1


__ADS_2