
Bobby mencoba menenangkan Reta yang sudah terbujur lemas dalam pelukannya. Airmatanya mengalir begitu deras. Suara sesenggukan membuat nafas Reta amat sesak.
"Aku...aku...aku mau nyusul bunda aja beb" suara rintihan dari Reta terdengar seperti petir yang menggelegar di malam hari.
"Beb sadar kamu ngomong apa sih" Bobby menepuk-nepuk pipi Reta. Kini Reta hampir tak sadarkan diri. Mungkin semenjak kabur dari rumah sakit dia terus menangis. Sampai suaranya pun terdengar serak.
"Aku...gak...sanggup beb" ucap Reta sambil terbata-bata. "Kamu masih ada aku, ada ayah ada kak Alfan dan kak Melvin. Ada si kecil yang menggemaskan yang masih butuh perhatian orang di sekelilingnya" Bobby berkata setengah berteriak agar Reta sadarkan diri.
"Beb...aku sayang kamu kita semua sayang kamu. Jangan pernah ngomong kaya gitu lagi" Bobby memegangi pipi Reta dan sedikit mencubit. Tapi cubitannya tidaklah sakit. Tidak ada respon dari sang kekasih membuat Bobby kalang kabut.
"Reta...Reta bangun" suara Bobby yang semakin mengeras. "Beb" Bobby menggoyangkan tubuh Reta yang sudah pingsan. Dia mengambil ponsel yang ada di tanah tadi karena terjatuh. Amarah menyelimutinya. Disaat genting seperti ini ponselnya malah lowbet. Tangan Bobby merogoh ke celana jeans milik Reta untuk mencari ponsel.
Tapi sayangnya ponsel Reta pun tidak ada. "Sial" gerutu Bobby. Tangannya sigap menggendong Reta di punggung. Dengan susah payah Bobby membawa Reta. Langkahnya terus menyusuri jalanan malam yang gelap. Hanya mengandalkan feeling saja.
Setelah menempuh jalan hampir dua kilometer. Akhirnya Bobby sampai di jalan utama. Dia mencoba memberhentikan mobil yang lewat. Beberapa mobil tidak mau berhenti. Bobby semakin merasa gelisah karenanya. Hampir saja dirinya putus asa karena tak ada mobil yang mau berhenti.
"Bobby" sebuah panggilan dari seseorang membuat Bobby menoleh. Ternyata itu teman dari kakaknya Reta. "Kak Ronald" Bobby segera melangkah dengan cepat. Ronald langsung turun dari mobilnya untuk membantu. "Bagaimana bisa begini?" disaat genting Ronald malah bertanya. Membuat Bobby sedikit kesal.
Tanpa merespon. Bobby langsung mengambil alih kemudi dan melajukan mobilnya. "Eh santai bro" Ronald duduk di kursi penumpang untuk memegangi Reta. Yang ada dipikiran Bobby hanyalah cepat-cepat sampai dirumah sakit.
Bobby sungguh amat panik. "Bobby loe gila ya jangan ngebut" Ronald mengomel bagaikan ibu-ibu penagih hutang. Dia lelaki namun takut dikalau naik mobil ngebut.
Tetap saja Bobby tidak menanggapi. Otaknya fokus pada jalanan. Untung saja jalan yang dilalui cukup sepi. Jadi Bobby memacu kendaraannya dengan cepat tanpa rasa takut.
__ADS_1
Sampai dirumah sakit Reta langsung di bawa ke ruang icu. Itu rumah sakit tempatnya dirawat kemarin. Segera Ronald memberi kabar pada sohib nya. Bahwa sang adik telah ditemukan.
Alfan yang sedang kocar kacir mencari Reta pun segera menyusul kerumah sakit.
"Dimana Reta? Bagaimana kondisinya? Dia baik-baik saja kan" Alfan segera mencecar Bobby dan Ronald dengan banyak pertanyaan.
"Tenang bro, loe baru nyampe tenang dulu" Ronald mendudukan Alfan yang wajahnya sudah memucat. Alfan menghela nafasnya. Dia merasa sedikit lega karena Reta di ketemukan. Ronald juga mengajak Bobby untuk duduk. Disini peran Ronald merasa penting. Karena kedua lelaki yang disebelahnya butuh di tenangkan.
"Gue tadi sewaktu lewat gak sengaja lihat Bobby gendong Reta di tengah jalan" Ronald mulai menjelaskan. "Gue ketemu mereka dalam keadaan si Reta sudah pingsan bro" timpal Ronald.
"Selanjutnya loe yang jelasin Bob" Ronald menepuk pundak Bobby. Ronald duduk berada di posisi tengah antara Bobby dan Alfan.
"Aku gak sengaja ketemu Reta di perjalanan yang mau ke pantai kak" Bobby menjelaskan dengan suara lemas. Sambil matanya menatap kebawah. Seolah dia membayangkan kejadian tak mengenakkan yang terjadi beberapa jam tadi.
"Baiklah cukup. Kalau memang kamu tidak kuat menjelaskan. Yang penting Reta sudah ketemu sekarang. Terimakasih" Alfan menggapai tangan Bobby yang sedang terlihat sangat cemas. Bobby mengangguk sebagai jawaban.
Dokter keluar dari ruang rawat Reta. Dan menyatakan bahwa si bungsu baik-baik saja. Namun mentalnya sangat terguncang. Jadi harus extra diperhatikan.
Ini tanggung jawab Alfan sebagai si sulung untuk menghibur semua anggota keluarganya. Mental Alfan pun ikut down. Tapi setidaknya dia masih cukup kuat untuk menghadapi kenyataan pilu itu.
Dirumah Dinka sedang meratapi nasib suaminya. Sedari tadi Melvin hanya menimang buah hatinya sambil terduduk diam. Tatkala dirinya menatap sang anak dengan airmata yang memucuk di pelupuk.
Pelayan membawakan nampan berisi susu dan sereal untuk majikannya. "Nona ini cemilan yang anda minta tadi" si pelayan meletakkan di meja. "Iya bi terimakasih" Dinka membawa nampannya mendekati Melvin.
__ADS_1
"Sayang makan ini dulu ya, sejak tadi siang kamu belum makan apapun lho" Dinka menyendokkan sereal. Melvin sama sekali tidak berkutik. Tatapannya melihat jauh kedepan. Wajahnya yang tampan pun masih terlihat sedikit pucat.
Dinka menghela nafasnya dengan perlahan. Rasa sakit yang dirasa kembali muncul. Dirinya benar-benar hancur melihat orang terkasihnya seperti itu.
"Suamiku ayo coba makan sedikit ya" bujuk Dinka sembari menyuapi. Mulut Melvin terbuka untuk mengambil makanan dari suapan tangan sang istri.
Dinka tersenyum sedikit melihat reaksi Melvin. "Sayang, kamu harus makan. Agar kamu kuat menghadapi problema yang terjadi" Dinka mengatakan dengan lembut.
"Terkadang hidup banyak cobaannya. Kita itu tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya. Tapi satu hal yang harus kita lalui. Yaitu mencoba ikhlas dan pasrah untuk menghadapinya. Karena hidup masih terus berjalan" ucap Dinka sembari menatap wajah Melvin dalam-dalam.
Tanpa terasa airmatanya memupuk di mata. Dinka mengalihkan pandangannya agar sang suami tidak melihatnya menangis. Dia mencoba untuk terlihat kuat. Untuk bisa menghibur Melvin. Agar tak bersedih sampai berlarut-larut.
"Sayang, makan lagi ya" Dinka menyuapi suaminya kembali. Tanpa terasa mangkuk yang penuh dengan sereal pun habis tak tersisa. Begitu pula dengan susu putih yang segelas penuh di habiskan oleh Melvin.
Mungkin saja suaminya ini merasa haus dan lapar. Apa memang karena Melvin sedang mencoba melawan rasa duka dan kehilangannya.
Benar ucapan sang istri. Bahwa hidup akan terus berjalan. Disaat ada pertemuan pasti disanalah ada kata perpisahan. Disaat ada rasa suka pasti akan ada rasa benci.
"Maaf" Melvin berucap dengan nada yang lemah. Satu kata itu membuat Dinka terkejut. "Sayang kenapa kamu minta maaf?" Dinka bertanya-tanya dengan heran.
"Maaf sayang selama ini aku sering menyakitimu" Melvin meneruskan ucapannya. Tapi suaranya terdengar lirih. "Kamu tidak perlu minta maaf sayang. Sudah menikah denganmu juga aku merasakan kebahagiaan. Apalagi dengan hadirnya malaikat kecil kita" Dinka kembali meneteskan air mata karena terharu.
"Kamu jangan khawatir, sampai kapanpun aku akan terus membahagiakanmu" Melvin mencoba sedikit tersenyum. "Iya sayang" Dinka memeluk lengan suaminya. Si kecil pun terdengar menangis karena minta *****.
__ADS_1