
Dikediaman megah keluarga Tama. Melvin sedang sibuk dengan beberapa berkas kantor. Dia memang termasuk lelaki yang gila kerja. Karena selain bekerja dia tidak mau membuang waktunya untuk melakukan hal yang tidak bermanfaat. Sewaktu bekerja lelaki memang terlihat sangat tampan.
Tok tok tok
Seorang pelayan masuk kedalam ruang kerja Melvin. "Tuan muda di panggil oleh Tuan besar" ucap sang pelayan. Melvin hanya mengangguk.
Dia turun kebawah menemui ayahnya. Arya menepuk sofa disampingnya. Menyuruh Melvin duduk.
"Kamu nikahi wanita itu" ucap Arya langsung pada topik pembicaraan. Melvin terkejut mendengar ayahnya dan berkata "Maksud ayah?"
Arya tersenyum sedikit. Kedua tangannya disilangkan didepan dada. "Ayah sudah mencari tau latar belakang gadis yang kamu bawa pulang ke apartement, dia gadis yang polos. Ayah mau kamu menikahi dia demi bundamu"
"Apa ayah tidak salah bicara?" tanya Melvin. Dia sama sekali tidak tertarik pada gadis tersebut. Waktu itu niatnya hanya untuk menolong.
"Kebetulan gadis itu berteman baik dengan adikmu. Ayah akan mengurus semuanya, kamu hanya bersiap untuk menikahinya" Arya menatap Melvin yang terdiam.
"Ayah tidak bisa menikahkan dia dengan Alfan karena dia sudah punya tunangan"
Melvin tidak menyangka harus menikah secepat itu. Walaupun umurnya sudah cukup matang untuk menikah tapi dia tidak mau menikah dengan orang yang tidak dicintainya. Dia juga tidak bisa membantah perkataan ayahnya.
Melvin berjalan kembali menuju ruang kerjanya. Sambil mengacak rambutnya karena frustrasi.
__ADS_1
+++
Pagi yang cerah namun tidak dengan suasana hati Melvin yang sedang gundah. Kemeja lengan panjang berwarna putih, jas dan celana panjang berwarna hitam tampak sangat pas dipakai olehnya. Setelan jas dipadukan dengan dasi berwarna hitam bergaris. Sepatu pantofel pria berwarna hitam menambah elegan penampilannya. Melvin menghadap ke depan cermin yang panjangnya seukuran tinggi tubuhnya. Matanya tajam seperti elang. Dengan bulumata yang panjang dan sedikit lentik.
Sekiranya sudah rapih dia berjalan keluar dari sebuah ruangan dikamarnya. Disebelah ranjang tempat tidur terdapat ruang untuk menyimpan berbagai perlengkapan dan barang pribadi Melvin. Seperti pakaian dan berbagai koleksi jam tangan mahal miliknya. Kamar Melvin hanya boleh dimasuki oleh salah satu pelayan yang bertugas membersihkan. Melvin berjalan menuruni anak tangga.
"Pagi tuan muda" sapa kepala pelayan yang bernama pak Hasan. Dimeja makan sudah terduduk ayah dan kakak angkatnya. Melvin duduk didepan Alfan. Mereka makan dalam keheningan. Karena Arya sangat tidak suka bila ada yang berbicara ketika makan.
Alfan sudah menangkap expresi wajah adiknya yang gelisah. Dia merangkul Melvin. "Kenapa?" tanya Alfan.
Melvin tidak menggubris abangnya. Berjalan mendekat kemobil dan menekan tombol pembuka mobil. Alfan dibuat bingung dengan sikap adiknya. Dia menggaruk kepala yang tidak gatal.
Sampai di gedung perusahaan Melvin berjalan masuk ke lobby melemparkan kunci mobil pada penjaga pintu masuk. Karyawan yang berpapasan dengannya menganggukan kepala dengan hormat. Tapi Melvin tidak menghiraukan sapaan dari para karyawannya. Biasanya dia cukup ramah bila disapa dia akan tersenyum.
"Pagi pak" sapa sekretarisnya kompak. Melvin juga tidak merespon sapaan sekretarisnya. Dia punya dua sekretaris yang mengatur segala jadwalnya.
Salah satu sekretaris masuk keruangan Melvin untuk memberitahu jadwal kerja. "Permisi pak, jadwal hari ini anda akan menemani klien kita dari dubai untuk meninjau ulang pembangunan hunian mewah di jalan angkasa" ucap Siwanita berambut gelombang. Melvin menatap sekretarisnya. Pandangan mata itu membuat Silma berkeringat.
Padahal dia sudah cukup lama menjadi sekretaris Melvin. Tapi ketika Melvin menatapnya seperti itu membuatnya merinding. "Gaya rambutmu ganti lagi?".
Silma menjawab pertanyaan bosnya dengan gugup "iya pak".
__ADS_1
"Berikan proposal dari perusahaan Sunwood kesini" Silma mengangguk "baik pak". Dia berjalan agak cepat keluar dari ruangan Melvin. Dia bernafas lega bisa lolos dari tatapan singa.
+++
Reta menatap Dinka dengan tatapan yang aneh. Tapi didalam hatinya senang. Baru saja dia dikabari bahwa kakaknya akan menikah dengan Adinka. Eh tapi bagaimana dengan nasib tunangannya. Reta berpikir sampai tidak sadar kepalanya sedikit miring.
Dinka melihat raut wajah Reta yang mencurigakan. Tatapannya terlihat dalam. "Kenapa melihat aku terus ta?" tanya Dinka. Reta tersadar dari lamunannya.
"Gak papa" jawab Reta tersenyum. Biarlah Dinka tau sendiri. Lagian dia juga akan di jemput sama sopirnya ayah nanti malam. Itu yang ada dibenaknya.
"Kantin yuk laper" Reta mengelus perutnya. Mereka berjalan kekantin. Salah satu senior laki-laki mencegat Dinka dan Reta. Memberikan sebuah kertas kecil pada Dinka. Reta merebutnya dari tangan Dinka. "Apaan nih kak?"
"Itu bukan buat loe, itu buat Dinka" Seniornya merebut kembali kertas kecil ditangan Reta. Terjadilah adegan tarik menarik kertas. Sampai kertas tersobek. Reta segera melepaskan kertas itu memberikan kembali pada seniornya. "Upss maaf kak" ucapnya cengengesan.
Dia menarik tangan Dinka agar cepat pergi dari sana.
Dikantin Reta memesan banyak makanan dan minuman untuk Dinka dan dirinya. "Kenapa pesen jus wortelnya ada lima?" Dinka heran melihat makanan yang banyak di meja.
"Jus wortel ini semua buat loe ka, dan makanan ini harus loe habisin" Reta berkata dengan antusias. Dinka membuka mulut nya melihat semua makanan yang ada. "Kamu mau aku makan ini semua, kamu pikir aku terkena gizi buruk apa" gerutu Dinka.
Reta tertawa melihat expresi wajah temannya itu. "Ya karena loe udah mendonorkan darah buat nyokap gue loe harus banyak makan biar gak lemes" Reta berulang kali mengangkat alisnya.
__ADS_1
Dinka mengelus perutnya yang sudah terisi banyak makanan. Mau tidak mau dia harus makan yang banyak sesuai permintaan Reta.