Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
188. Hari pertunangan


__ADS_3

Melvin menyuruh Ronald untuk masuk kedalam ruangannya. "Bagaimana?" tanya Melvin tidak sabaran. "Ya elah baru juga masuk, belum di persilahkan untuk duduk udah di tanya aja" gerutu Ronald. "Duduk tinggal duduk saja" sahut Melvin.


"Seenggaknya beri minuman dong atau cemilan sedikit, aku di sini tamu bro" ucap Ronald dengan santainya. Melvin menghela nafasnya. "Bilang sendiri sana pada sekretaris ku" gerutu Melvin sambil mengambil posisi duduk di kursi empuknya.


Ronald menatap Melvin sekilas sambil ngedumel sendiri. Dia melongok sang sekretaris dari balik pintu. "Sekretaris yang cantik buatin kopi ya. Tidak pake gula dan tidak pake air" ledek Ronald. "Kalau tidak pakai air bukan buat kopi namanya" sahut Silma. "Iya kopinya pake cinta kamu dong" ucap Ronald memperlihatkan barisan giginya.


Silma hanya tersipu malu. "Terus mau buat kopi apa mau menggombal nih?" tanya Silma. "Kopi dong, gak usah pake gula karena melihat kamu juga sudah manis" Ronald menggoda Silma. "Okeh" jawab Silma dengan antusias. Melvin menggelengkan kepalanya melihat ulah Ronald. "Masih bisa ya becanda disaat genting kaya gini" gerutu Melvin.


"Ya kan kamu sama Alfan yang genting aku santai orangnya" Ronald mendudukan dirinya ke sofa. "Aku kemarin ke singapura dan bertemu dengan teman ku" ucap Ronald. Melvin menunggu ucapan Ronald selanjutnya. "Dan kamu percaya gak disana aku ketemu siapa" Ronald menatap Melvin. Yang ditatap masih saja diam. "Aku kemarin bertemu dengan mantan ku di singapura" lanjut Ronald. Melvin menghela nafasnya sambil geleng-geleng lagi. "Aku gak nyangka banget deh beneran bisa ketemu mantan terindah aku disana. Lalu aku ajak dia buat check in ke hotel tempat ku menginap dia mau gitu aja" Ronald berkata dengan semangat.


"Aku nyuruh kamu kesini bukan untuk mendengar celotehan mu" ucap Melvin dengan ketus. "Iya-iya kamu tenang saja. Aku dan teman ku sudah berhasil mengetahui keberadaan Enzi. Namun sayangnya di rumah itu penjagaan sangat ketat. Kalau cuma aku yang maju sama teman ku bisa bonyok pulang dari sana" ungkap Ronald.

__ADS_1


"Maksud kamu gimana? Apa itu berarti ayahku yang menyuruh pengawal berjaga disana?" tanya Melvin. Silma mengetuk pintu dan masuk kedalam menaruh kopinya di meja. "Terimakasih cantik" ucap Ronald. Silma hanya tersenyum lebar. Ronald mengambil kopinya dan menyerulutnya secara perlahan. "Bukan deh. Sepertinya ini lebih rumit dari yang kita kira" sahut Ronald. "Begitukah" Melvin langsung menjawab.


"Aku kira ada seseorang lagi di balik ayahmu" lanjut Ronald. "Lalu bagaimana kita kesana saja sore ini. Karena besok malam merupakan acara pertunangan kak Alfan" sahut Melvin.


"Kamu bilang kesana lagi, aku ogah" Ronald segera menolak mentah-mentah. "Kenapa gak berani?" tanya Melvin. "Kakiku sedikit terkilir sewaktu panjat tembok di sana, gila temboknya tinggi banget. Udah kaya maling aja sampai panjat tembok segala" ungkap Ronald. Melvin menghela nafasnya berulang kali. "Ya sudah biar aku yang kesana dengan beberapa bodyguard ku" timpal Melvin.


"Ya kamu kesana saja, kalau kamu lebih jago karate daripada aku. Bisa-bisa menghadapi penjaga sebanyak itu aku bakal babak belur. Dan wajah ku yang tampan ini bakal jelek" Ronald memegangi wajahnya. Melvin mengernyit sambil menatap malas pada Ronald. "Aku benar kan, bahkan kau saja pasti tidak sudi untuk melihatku" Ronald mendekati Melvin dan memeragakan akan mencium pipi Melvin. "Heh kau gila" Melvin mendorong tubuh temannya itu.


"Sebaiknya jangan beritahu kak Alfan dulu" ucap Melvin. "Baiklah, aku tidak akan menceritakannya" sahut Ronald. Tangan Ronald kembali mengambil secangkir kopi dan meminumnya hingga tetesan terakhir. "Baiklah hanya itu yang ingin aku sampaikan, kalau ingin meminta bantuan hubungi aku saja" kata Ronald sambil melambaikan tangan. "Kalau masih gagal membawa Enzi keluar dari sana, gunakan rencana B" sahut Melvin. "Baiklah" Ronald berjalan keluar.


"Ngapain masih disini" ucap Melvin sambil mengangkat alisnya. "Ini mau minta nomer telepon" timpal Ronald. "Kalau tidak ada keperluan cepat pergi" Melvin mengusir Ronald. "Eh keterlaluan banget jadi temen, habis manis sepah dibuang" Ronald memasang wajah yang teraniaya. "Ini cantik" Ronald beralih pada Silma.

__ADS_1


Silma mengambil ponsel milik Ronald dan mencatat nomer teleponnya. "Oke terimakasih cantik" Ronald mencolek dagu Silma sembari berjalan pergi. Melvin hanya geleng-geleng melihat ulah teman semasa kampusnya itu. "Hati-hati dengannya, dia terkenal sebagai aligator di kampus" Melvin berkata sambil kembali masuk kedalam ruang kerja. Merasa di perhatikan oleh sang bos membuat Silma sumringah.


Alfan kembali dari kantor dengan cepat karena akan memilih baju untuk di kenakan saat acara engagement. Dia langsung menjemput Clarisa dirumahnya sesuai permintaan sang ayah. Mungkin untuk saat ini dia harus menuruti sang ayah demi keselamatan Enzi dan bayi yang di kandungnya. Dia belum tau kalau Melvin berusaha membantunya dan membuahkan hasil.


"Hei fan" Clarisa masuk kedalam mobil. Alfan hanya tersenyum sekilas. "Kita ke butik langganan aku ya" ucap Clarisa sembari menatap sang pujaan hatinya. Alfan hanya mengangguk. Terlihat jelas wajah Alfan yang suram. "Apa kamu sakit?" tanya Clarisa. "Engga kok" jawab Alfan sambil terus fokus mengemudi tanpa menoleh. "Tapi wajah kamu kelihatan tidak sehat" Clarisa mencoba memegang pipi Alfan. Namun Alfan langsung menghindar.


Clarisa merasa di acuhkan oleh Alfan. Tapi tidak membuatnya sedih. Karena besok merupakan hari yang indah baginya. Berbeda dengan Alfan yang memasang wajah tak sedap untuk di pandang.


Setelah sampai Alfan menurunkan Clarisa di depan pintu masuk butik sedangkan dirinya memarkirkan mobil. Karena merasa malas untuk masuk ke butik dia pun berdiam diri di dalam mobil. Clarisa yang sudah menunggu cukup lama pun akhirnya menghampiri mobil Alfan.


"Alfan" Clarisa mengetuk kaca jendela mobil. "Ayo cepat turun" pinta Clarisa. Alfan memejamkan matanya pun tersadar. "Iya" sahut Alfan dari dalam mobil.

__ADS_1


"Kamu mau pilih yang apa nih?" tanya Clarisa. "Terserah kamu aja" jawab Alfan dengan malas. Kini mereka sudah didalam butik dan memilah-milih baju. Melihat ada kursi Alfan langsung datang untuk mendudukinya. "Kamu pilih apa yang kamu suka. Aku ikut kamu aja" ucap Alfan sembari duduk.


"Bagaimana kalau yang ini?" tanya Clarisa. Alfan tidak menjawab hanya memandangi saja. Sebenarnya dia enggan menemani Clarisa belanja baju untuk pertunangan mereka. "Cepat sana ganti" Clarisa mendorong tubuh Alfan kedalam kamar pas. Alfan berdiam diri di pojokan sambil menatap setelan jas yang di pilihkan Clarisa.


__ADS_2