
Melvin dan Dinka sampai di rumah. Terlihat sang ayah menunggunya di ruang tamu. Arya menghampiri anak lelakinya.
Plaaakkkk
Sebuah tamparan mendarat di pipi Melvin. Arya menampar sang anak dengan keras. Melvin sampai terjatuh kelantai karena tamparan dari ayahnya. Dinka berteriak memanggil suaminya. "Melvin" Dinka membantu Melvin untuk berdiri. "Apa yang ayah lakukan" Dinka berkata sambil menangis. Sarah melihat adegan extreme yang dilakukan suaminya. Dengan santai Sarah berjalan menuruni anak tangga.
"Berani ya kamu menggagalkan rencana ayah" ucap Arya dengan nada tinggi. "Ayah cukup" Dinka mencoba membela suaminya. "Diam kamu" sahut Arya membentak menantunya. Baru pertama kalinya Dinka di bentak oleh Arya.
Plaakk
Kali ini suara tamparan terdengar lebih nyaring di telinga. Arya memegang pipinya yang ditampar sang istri. Membuatnya terkejut karena Sarah berani menamparnya. "Kamu yang diam" bentak Sarah pada sang suami. Selama bertahun-tahun pernikahan Arya baru pertama kali di tampar oleh istrinya itu. "Kamu bukan Arya yang dulu aku kenal. Kamu sudah di butakan oleh kekuasaan dan kekayaan" Sarah memulai aksinya.
"Kamu benar-benar sangat egois. Kamu lebih mengutamakan keserakahan mu daripada kebahagiaan anak-anak. Apa dengan sakitku kamu juga tidak sadar. Haruskah kamu bertindak sejauh ini" Sarah mengatakan dengan suara yang keras. Arya menatap sang istri dan tak percaya sudah berani melakukan hal itu. "Cukup Arya cukup. Aku sudah tidak bisa melihat anakku di perlakukan seperti ini olehmu. Hati ibu mana yang tega melihat anaknya di pukuli" Sarah mulai menangis. Arya hanya diam membisu sambil memegang pipi bekas tamparan istrinya.
Karena merasa sangat marah membuat Sarah pingsan. "Bunda" Melvin segera menghampiri ibundanya. Arya jatuh terduduk di sofa melihat istrinya pingsan. "Apa ayah sudah puas" Melvin membentak dengan nada yang tinggi. Karena saking marahnya sampai membuat wajahnya merah.
__ADS_1
Di gendongnya sang bunda dan masuk ke dalam kamar. "Sayang kamu cepat panggil dokter" pinta Melvin. "Iya" Dinka segera mengambil ponselnya dan menghubungi dokter yang biasa menangani Sarah.
Pak Mimin dan bi Nah mendengar pertengkaran yang terjadi. Mereka berdua segera menyusul Melvin kedalam kamar majikannya. "Tuan muda bagaimana kalau kita bawa nyonya besar ke rumah sakit" ucap pak Mimin. Melvin tidak menanggapi ucapan pak Mimin karena fokus pada ibundanya.
Tidak lama kemudian dokter datang. Dan langsung memeriksa keadaan Sarah. "Bagaimana dok?" tanya Melvin tidak sabaran. "Sebaiknya langsung saja di bawa kerumah sakit, takutnya kondisi bu Sarah semakin parah" pinta si dokter.
Melvin menggendong bundanya dan memasukan kedalam mobil. Pak Mimin mengemudikan mobil dan sang istri juga ikut. Dinka tidak ikut kerumah sakit karena mengurus si kecil. Arya melihatnya dari kejauhan. Dia sangat menyesal sudah membuat istrinya kembali kerumah sakit.
Dilain tempat Bobby dan Reta sedang memadu kasih. Begitu juga dengan Alfan dan Enzi yang saling melepaskan rindu.
Alfan sedang mencerna ucapan Enzi. "Apa itu orang suruhan ayah" gumam Alfan. "Sayang apa kamu masih ingat dengan wajah-wajah orang yang mengurung kamu?" tanya Alfan. "Iya aku masih ingat jelas" Enzi manggut-manggut.
Kini Alfan beralih pada perut buncit Enzi. "Sayang apa ini?" tanya Alfan sambil senyam-senyum. "Ini hasil perbuatan kamu padaku" jawab Enzi dengan malu-malu. Alfan mencium kening Enzi.
"Maafin aku ya waktu itu sudah memutuskan secara sepihak hubungan kita. Aku melakukan semua ini demi anak kita, ayah mu menyuruhku untuk aborsi namun aku menolaknya dengan persyaratan aku akan memutuskam hubungan dengan mu dan tidak lagi bertemu dengan mu" jelas Enzi. Alfan tetap diam mendengarkan perkataan pujaan hatinya.
__ADS_1
"Dan waktu itu sebenarnya pertemuan kita bukan secara kebetulan. Tapi ayahmu sudah mengaturnya agar pertemuan itu terjadi seperti kebetulan" ungkap Enzi. "Lalu?" tanya Alfan penasaran.
"Pada saat itu aku sangat ketakutan, aku tidak tau harus berbuat apa. Jadi aku lebih memilih untuk mempertahankan anak di dalam kandungan ku dari pada dirimu. Aku juga tidak menyangka akan bertemu dengan bu Sarah. Majikan ku sengaja mengatur pertemuan ku dengannya. Karena mereka tau tentang hal yang sudah terjadi padaku dan mungkin ingin menolongku lewat bu Sarah" jelas Enzi panjang lebar.
"Awalnya aku tidak tau kalau bu Sarah itu bunda kamu. Jadi aku hanya sekedar menyapanya. Majikan ku juga tidak mengatakan apapun tentang bu Sarah. Aku baru sadar tadi kalau bu Sarah adalah ibunda mu" Enzi meneteskan airmatanya. Dia jadi teringat kembali saat-saat masa sulitnya.
Dengan sigap Alfan mengelap butiran airmata yang jatuh membasahi pipi mulus Enzi. "Sudah jangan ceritakan lagi" Alfan mendekap tubuh Enzi ke dada bidangnya. Walaupun tidak sekotak-kotak seperti milik Melvin, namun dadanya cukup nyaman untuk memeluk wanita. Mereka berada di rumah Ronald untuk sementara waktu.
Reta asik berduaan dengan Bobby di teras rumah Bobby. Armand menghampiri anaknya yang sedang berpacaran. "Ta bunda mu masuk kerumah sakit lagi tadi pak Mimin yang kasih tau" ucap Armand memberitahu. "Apa" Reta terkejut mendengar ucapan Armand. Dia langsung panik sendiri. "Beb ayo buruan kita kerumah sakit" Reta menarik tangan Bobby. "Bentar beb aku ambil kunci mobil dulu di dalam" sahut Bobby sambil berjalan masuk kedalam rumah.
Sampai di rumah sakit Reta langsung menuju ke icu. Pasti sang bunda di bawa ke ruangan tersebut pikir Reta. Seperti biasa Bobby tertinggal di belakang. "Kakak" Reta berlari menghampiri Melvin. "Bagaimana kondisi bunda?" tanya Reta sambil menangis. "Kamu tenang ya, bunda sedang di periksa oleh dokter" jawab Melvin.
"Kenapa bisa bunda masuk rumah sakit lagi kak? Apa yang terjadi?" tanya Reta lagi. "Ini karena..." Melvin tidak melanjutkan ucapannya. Pak Mimin menepuk bahu Melvin agar tidak memberitahukan pada Reta. Bahwa itu ulah ayahnya. Takut nantinya Reta akan membenci sang ayah. "Apa kak? Karena apa?" Reta terus mencecar kakaknya dengan pertanyaan.
"Keadaan bunda menjadi drop karena terlalu lelah" Melvin mencoba mencari sebuah alasan yang tepat. "Kamu tenang bunda pasti akan baik-baik saja kita berdoa ya untuk kesehatannya" Melvin menenangkan sang adik. Kali ini dia bisa lebih tenang dari sewaktu dulu ketika sang bunda masuk kerumah sakit.
__ADS_1
Melvin memeluk Reta dan menepuk pelan pundaknya agar Reta tenang. Bobby melihat dari kejauhan. Dia berjalan mendekat dan ikut memeluk Reta dari belakang. "Kamu ngapain main asal peluk" gerutu Melvin. "Kenapa kak, aku kan juga pengen meluk" sahut Bobby dengan nada santainya. Pak Mimin yang melihat hanya tersenyum melihat ulah Bobby. Melvin mengernyit dengan ucapan Bobby.