
"Kurang ajar loe berani nyiram gue" teriak Serin. Kini perangai aslinya muncul dia mendorong Dinka. Reta juga mendorong balik tubuh Serin. Bobby menarik Dinka karena khawatir terjadi apa-apa dengan kandungannya.
"Kamu jangan ikut-ikutan" desak Bobby. Tangannya memegangi Dinka dengan kuat. Namun Dinka masih bersikeras melepaskan diri.
Karena Reta ahlinya membuat keributan dia tidak segan menampar wajah cantik Serin. "Loe berani nampar gue" teriak Serin. Tangan Serin pun diangkat untuk menampar wajah Reta, tapi tangannya dicegat oleh Reta. "Loe mau nampar gue..loe gak akan bisa" ucap Reta dengan ketus sambil melotot.
Karena merasa sangat muak dengan Serin dengan cepat tangan Reta meraih semangkuk sup ayam dimeja.
Tangannya menumpahkan sup ayam pada badan Serin. Seketika baju Serin pun basah. "Loe brengsek" teriak Serin sambil melotot.
"Heh berani loe deketin kaka gue awas loe" Reta mengancam sambil menunjuk jarinya pada wajah Serin.
Kini Reta beralih pada Bobby. "Dan buat loe jangan pernah ganggu kita lagi" jemari Reta menunjuk pada wajah Bobby. Reta menarik tangan Dinka dan berjalan kearah luar.
Bobby berusaha mengejar Reta untuk menjelaskan yang terjadi. "Reta gue bakal jelasin semuanya tapi tidak disini" Bobby menghadang jalan Reta dan Dinka.
Terlanjur kecewa Reta tidak menggubris Bobby. Langkahnya terus berjalan. "Ta please kasih gue waktu tuk jelasin semuanya" tangan Bobby memohon. "Minggir" ucap Reta ketus. Bobby beralih pada Dinka untuk meminta waktu menjelaskan.
Dinka terbirit-birit mengikuti langkah Reta yang cepat. "Dinka please dengerin dulu" ucap Bobby. Dinka tidak meladeninya.
Taksi menepi Reta dan Dinka masuk kedalam. Bobby berusaha menghalau taksi namun tidak berhasil. "Aaaarrrgghhh" teriak Bobby sambil mengacak rambutnya.
Airmata keluar dari pipi Reta. Dinka merasa sangat marah karena tidak menyangka Bobby juga punya hubungan dengan Serin. Dinka menengok kesamping. Baru pernah dia melihat Reta menangis karena seorang lelaki. Dinka mengusap bahu Reta dan menyenderkan kepala Reta pada bahunya.
__ADS_1
"Menangislah sampai kau puas" ucap Dinka. "Gue gak nyangka Bobby bisa punya hubungan dengan Serin" ucap Reta.
"Iya aku juga gak percaya. Tunggu dulu..apa cewek yang jadi tunangan Bobby itu si Serin" sahut Dinka. "Mana mungkin lah si Serin kan udah tunangan sama kak Alfan" timpal Reta.
Ponsel Reta berbunyi ada sebuah panggilan masuk dari Bobby. Reta langsung me-reject teleponnya. Kini giliran ponsel Dinka yang berbunyi. Dinka mengambil ponsel dari tas tapi langsung direbut oleh Reta. Ponsel mereka berdua dimatikan.
"Temenin gue diasrama ya" bujuk Reta. Dinka mengangguk. Reta dan Dinka turun dari taksi dan masuk kedalam kamar asrama.
Sudah cukup lama Dinka tidak kembali keasramanya. Bahkan tempat tidurnya pun memang sengaja dikosongkan. Karena Reta juga tidak mau punya teman sekamar.
Reta mendudukan diri disofa. Dinka mengambil minuman untuk Reta. "Kenapa gue jadi nangis ya" celetuk Reta.
Dinka duduk disebelah Reta. "Itu karena kamu ada perasaan sama Bobby" ujar Dinka sambil minum.
"Tadi aku lihat dia malah lebih memohon padamu" ledek Dinka. Ada yang aneh dengan perutnya. "Perut loe kenapa?" tanya Reta panik.
"Hehe laper" ucap Dinka cengengesan. "Gara-gara lihat Serin sama Bobby jadi lupa deh kita dengan tujuan utama ke cafe" keluh Reta.
"Ada makanan gak?" tanya Dinka. "Gak ada" Reta mengajak Dinka mencari restoran disekitar asrama. Setelah mengisi perut mereka berjalan santai kembali keasrama. Dinka merasa ngantuk dan tertidur diasrama.
+++
Sepulang kerja Melvin berencana mengajak sang istri makan malam. Dia sudah mengirimkan sms pada Dinka untuk bertemu disebuah restoran mewah. Dilihatnya tas yang terbungkus rapih. Tas itu akan diberikannya pada Dinka.
__ADS_1
Melvin melihat arlojinya berulang kali. Sudah hampir sejam menunggu sang istri tapi tak juga datang. Melvin berdiri dan keluar dari restoran. Sedikit rasa kecewa dihatinya.
Dikediaman keluarga Tama. Dinka pulang dengan membawa buah nanas ditangan. Buah nanas itu dibelinya dari penjual buah didekat asrama. Terlihat buah nanas itu sangat segar bila dimakan. Namun dia tidak akan bisa memakan buah nanas itu. Karena pantang bagi ibu hamil memakan nanas.
"Nona kenapa membeli buah nanas?" tanya bi Nah. "Nih bagiin buat para pelayan bi" suruh Dinka sambil menyerahkan buahnya.
"Non ingin makan ini?" tanya bi Nah. Dinka mengangguk perlahan. "Bibi kupaskan ya" jawab bi Nah.
"Emang boleh makan nanas bi?" tanya Dinka memastikan. "Boleh tapi hanya sedikit saja" jawab bi Nah. Dinka pun tersenyum senang. Tak apalah walau hanya sedikit yang penting bisa memakan nanas pikirnya.
Alfan melihat Dinka berjalan menaiki anak tangga. "Loh kenapa kamu sudah pulang, bukannya Melvin ngajak kamu makan malam" ucap Alfan. Dinka melihat Alfan jadi teringat dengan kejadian tadi siang dicafe.
"Makan malam?" tanya Dinka bingung. "Iya..Melvin bilang akan mengajak mu makan malam diluar" sahut Alfan.
"Tapi Melvin tidak bilang apapun padaku kak" jawab Dinka sambil berpikir. Dinka membulatkan matanya menatap Alfan. "Jangan-jangan Melvin menghubungiku, aduh gimana nih ponselnya ketinggalan di tas Reta" ungkap Dinka.
Alfan menepuk keningnya sendiri. "Ayo kaka antar kamu ke restoran itu, semoga saja Melvin masih disana" Alfan mengambil kunci mobil dan berjalan ke bagasi mobil. Dinka dengan patuh mengekori kaka ipar.
Sampai di restoran Dinka berlari masuk kedalam. Alfan menghela nafasnya dan berjalan mengikuti Dinka.
Dinka tidak mendapati suaminya. Dia pun keluar dengan wajah sendu. "Mungkin Melvin sudah pulang" ucap Alfan. Dinka menatap Alfan sembari berkata "pasti Melvin sangat marah padaku".
"Sudah ayo kita pulang" ajak Alfan.
__ADS_1