
Semua keluarga saling bercakap ria cukup lama. "Karena sudah malam saya mau mengajak istri untuk istirahat dulu" ucap Arya pada besannya. "Baiklah sepertinya semua juga sudah waktunya tidur dan istirahat" sambung Rama. Mereka semua masuk kekamar masing-masing.
Arya mengajak si sulung untuk berbicara empat mata. Mengenai rencananya untuk menjodohkan dengan anak dari relasi bisnisnya.
Alfan berjalan menuju keruang kerja ayahnya yang biasa di gunakan Melvin. Tangannya membawa dua buah cangkir berisi kopi. Paman Jay yang menunggu diluar pintu membukakan pintunya untuk Alfan.
"Ayah ini kopinya" Alfan meletakkan secangkir kopi dimeja kerja sang ayah. Dia duduk di sofa. Arya menyimpan kembali dokumen yang sedang dibacanya tadi.
"Siapa yang dekat denganmu?" tanya Arya tanpa basa-basi. Alfan belum mengerti ucapan ayahnya. "Maksud ayah?" tanya Alfan.
"Tadi sewaktu kamu pulang kamu bilang lagi dekat dengan seorang wanita, siapa dia?" tanya Arya lagi. Sebenarnya Alfan belum mau mengatakan pada orangtua angkatnya dulu. Mengingat hubungannya masih sebatas mengenal satu sama lain.
"Jawab" Arya meminum kopi yang disajikan Alfan. "Em..itu yah hanya wanita biasa" jawab Alfan dengan gugup. Arya melihat raut wajah si sulung yang terlihat gugup.
"Siapa?" tanya Arya lagi. Dengan ragu Alfan pun akhirnya memberitahukannya. "Teman kerja Alfan di kantor yah, sekretarisnya Melvin" jawab Alfan.
Arya mengernyit sambil kembali meminum kopi. "Sudah sejauh mana hubungan kalian?" tanya Arya. "Baru tahap pendekatan yah" jawab Alfan dengan cepat.
Arya menyilangkan kedua tangannya didada. Dia mendudukan bokongnya didekat sang anak angkat. "Kamu jauhi dia" perkataan dari Arya membuat Alfan tercengang. "Tapi yah?" tanya Alfan bingung.
__ADS_1
"Kamu mau ayah jodohkan dengan wanita lain, dia anak dari kolega ayah. Dan ayah harap kamu mau menuruti kemauan ayah" Arya menepuk bahu Alfan dengan santai. Karena merasa lelah Arya berjalan keluar dari ruang kerjanya.
Alfan masih terdiam tanpa menjawab lagi ucapan sang ayah. Dia sudah kembali bisa menyukai wanita lain, tapi kini malah dijodohkan. Tapi jika menolak permintaan ayahnya itu tidak mungkin dilakukan. Semua pikiran itu membuatnya pening.
Alfan mengusap jidatnya sendiri dan menghabiskan kopinya. Paman Jay melihat Alfan masih berada didalam ruang kerja. Langkahnya masuk kedalam untuk mengajak Alfan berbincang.
"Apa kamu merasa berat hati tuan muda?" tanya paman Jay. Alfan menengok ke asal suara. Ternyata paman Jay yang berbicara. "Paman Jay kenapa belum beristirahat?" tanya Alfan.
Paman Jay tersenyum sembari duduk di sebelah Alfan. "Saya tau tuan muda pasti sedang berpikir tentang perjodohan itu kan?" tanya paman Jay lagi.
"Aku gak mungkin bisa nolak kemauan ayah paman" jawab Alfan dengan suara yang sendu. Paman Jay mulai menceritakan awal mula Alfan dijodohkan.
"Jadi temannya ayah mau memberikan putrinya sebagai alat pembayaran hutang, begitu paman?" tanya Alfan. Paman Jay tersenyum menatap Alfan. "Itu kata-kata yang bermakna kasar tuan muda. Maksud saya bukan seperti itu" jawab paman Jay.
Alfan bingung dengan semua ini. "Maksud saya mungkin karena temannya tuan besar merasa tidak enak hati jadi dia menginginkan putrinya untuk menjadi menantu keluarga ini" ungkap paman Jay. Alfan sudah merasa pusing. "Paman Jay kita teruskan besok saja ya, aku mau istirahat" sahut Alfan sembari berdiri.
"Pikirkan matang-matang tuan muda" sahut paman Jay. Alfan pun tersenyum dan berjalan keluar dari ruang kerja sang ayah.
Langkah kakinya menuju kekamar namun berpapasan dengan sang adik. Melvin melihat kakaknya berwajah murung. "Kak" panggil Melvin. Alfan tidak menengok sekalipun. Otaknya sedang berpikir tentang permasalahan tadi. "Kak kenapa?" tanya Melvin sambil mendekati sang kakak.
__ADS_1
Alfan terkejut melihat Melvin sudah berada didepannya. "Kamu belum tidur?" tanya Alfan. "Ini mau ngambilin buah buat Dinka, kenapa dengan wajah mu kak?" tanya Melvin lagi.
"Kakak mau beristirahat dulu ya" jawab Alfan sambil memaksakan untuk tersenyum. Melvin melihat ada yang aneh dengan wajah kakak angkatnya itu. Sepertinya terjadi sesuatu dengan kakaknya. Dia memang belum tau kebenaran bahwa sang kakak tengah dekat dengan sekretarisnya. Yang dia tau hanya kakaknya dekat dengan wanita lain dan perjodohan sang kakak.
'Apa ini semua tentang perjodohan kak Alfan dengan anak koleganya ayah. Bukannya kak Alfan lagi dekat dengan wanita lain, berarti itu semua..' gumam Melvin dalam hati. Matanya melihat sang kakak yang sudah jauh.
Langkahnya pun menuruni anak tangga. Dibawah pak Mimin sedang berkeliling rumah. "Tuan muda ada perlu sesuatu?" tanya pak Mimin.
Melvin sedang asik dengan pikirannya sendiri. Dan terkejut dengan suara pak Mimin. "Astaga pak Mimin ngagetin aja" ucap Melvin. "Maaf tuan muda" sahut pak Mimin. Melvin berjalan kembali menuju dapur mengambil buah untuk sang istri. Pak Mimin mengikuti dari belakang tanpa Melvin tau.
"Apa tuan muda mau saya buatkan sesuatu?" tanya pak Mimin lagi. Dan itu membuat Melvin sedikit terkejut. "Astaga pak Mimin" Melvin memegang dada bidangnya karena kaget.
"Kenapa belum tidur pak? Semuanya kan sudah pada tidur?" tanya Melvin. "Maaf tuan muda memang ini sudah menjadi pekerjaan saya untuk mengecek seisi rumah terlebih dulu sebelum tidur" jawab pak Mimin dengan jelas. "Oiya sampai lupa pak" Melvin cengengesan menjawab kepala pelayannya.
Tangannya beralih pada kulkas besar dan membukanya. Dilihat melon yang dikupas masih tersedia dan mengambilnya. Melvin kembali berjalan menuju kamarnya.
Dinka sudah terlelap namun televisi masih menyala. Diletakkannya mangkuk berisi buah dimeja. Pasti tengah malam atau dini hari nanti sang istri akan bangun karena merasa lapar. Melvin mencium kening Dinka dan mengelus perutnya.
Sebuah tendangan dari sikecil dirasakannya. Melvin pun tersenyum sambil mengelus kembali perut sang istri dengan antusias. "Selamat tidur sayang" ucap Melvin.
__ADS_1