
Alfan membawa setumpuk berkas kedalam ruang kerjanya di bantu oleh Silma. Banyak berkas dan dokumen yang harus di kerjakan. Otaknya tidak fokus bekerja karena kejadian kemarin. Dia tidak menyangka hal yang begitu menakutkan terjadi. Yaitu kehilangan bunda terkasih.
Alfan sama sekali tidak bisa membayangkan secepat itu ibundanya pergi. Apalagi Melvin dan sang ayah pasti sangat terpuruk karena kepergian orang tercinta. Itu yang ada di otak Alfan.
Melihat Alfan yang tidak fokus, Silma menawarkan diri untuk membantu. "Pak biar saya bantu memilah berkasnya ya" ucapan dari Silma tidak terdengar oleh Alfan. Karena Alfan sedang tenggelam dengan pikirannya sendiri.
Silma mengetuk meja kerja bosnya itu. "Pak Alfan" Silma berkata sedikit keras. Tetap saja Alfan tidak merespon.
"Pak Alfan ada yang bisa saya bantu" ucapan yang keras dari Silma kali ini berhasil membuat Alfan kaget. "Oh...iya" Alfan sedikit terbata.
"Ada apa?" tanya Alfan yang bingung. "Pak Alfan apa butuh bantuan" jawab Silma. "Tidak ada" Alfan kembali fokus pada lembaran kertas didepannya. "Buatkan kopi saja" perintah Alfan.
"Tapi sudah ada kopi pak" Silma menunjukan dengan tangan. "Itu sudah dingin. Buatkan lagi" Alfan segera beranjak dari kursi duduknya. Untuk sekedar meluruskan badan. "Baik pak" dengan cepat Silma keluar dari ruang kerja bosnya.
"Kenapa aku sama sekali tidak bisa fokus" Alfan berkata sendiri. Matanya tertuju pada gedung-gedung yang menjulang tinggi di sebelah gedung perusahaannya. ******* nafasnya terasa berat. Apalagi memikirkan bagaimana kondisi kedua adiknya yang terguncang.
Sore itu Alfan pergi kerumah sakit tempat adik dan ayahnya dirawat. Sebelumnya mampir terlebih dahulu ke sebuah toko bunga. Sebuah buket bunga yang cantik berada di tangan Alfan.
Sampai di rumah sakit Alfan mampir ke ruang rawat Reta terlebih dulu. Tapi dia terkejut karena ruangan yang di tempati adiknya kosong. Kebetulan ada seorang perawat yang sedang lewat. "Sus kenapa ruangan ini kosong?" tanya Alfan.
Si suster menengok ke dalam. "Oh itu pasiennya sudah pulang tadi" jawab suster. "Jam berapa?" tanya Alfan kembali.
"Mungkin sekitar sejam yang lalu pak" sahut perawat. Alfan segera bergegas menghubungi pelayan rumah untuk memastikan Reta baik-baik saja.
"Halo tuan Alfan" jawab salah seorang pelayan. "Apa adikku sudah pulang?" tanya Alfan dengan cepat. "Siapa ya tuan?" pelayannya merasa bingung.
__ADS_1
"Reta, kenapa malah bingung bi" Alfan berkata dengan sedikit nada tinggi. "Nona bukannya masih dirawat di rumah sakit ya tuan" jawaban dari pelayan membuat Alfan memutuskan sambungan telepon.
Kini dia begitu panik karena Reta tidak pulang kerumah. Dia segera mengambil kunci mobil dari saku dan bergegas menuju parkiran mobil. "Astaga kemana sih kamu dek" gerutu Alfan.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Alfan benar-benar sangat khawatir pada adik perempuannya itu. Karena mental Reta sedang tidak baik-baik saja.
Disela menyetir mobil. Alfan menghubungi kekasih adiknya. Justru Bobby malah lebih terkejut dari Alfan. Karena Bobby belum lama pulang dari rumah sakit menjaga Reta. Bobby langsung ikut mencari sang kekasih.
Alfan langsung melacak Reta lewat gps ponsel. Tapi ponsel itu ternyata tidak aktif. Suasana menjadi kalang kabut. Beberapa bodyguard sang ayah juga ikut mencari tuan putri tomboi itu.
Melvin sengaja tidak di beritahu oleh Dinka. Karena mental suaminya juga masih down. "Kemana kamu Reta" Dinka tidak bisa berbuat apa-apa selain banyak berdoa.
Sampai malam tiba Reta belum juga di ketemukan. Alfan mengajak Bobby untuk bertemu dan melakukan pencarian dimana kira-kira tempat yang akan Reta kunjungi disaat sedih.
"Oiya ka Alfan aku ingat, Reta pernah bilang dia kalau sedang badmood pasti pergi ke tempat yang ada pantainya" Bobby baru ingat. Kebetulan juga dia pernah pergi ketempat itu bersamanya.
"Mana Mobil kak Alfan? mana udah gak kelihatan lagi" gerutu Bobby sembari mengemudi. Mobil di pacu lebih cepat.
Sebelum sampai di tempat yang dituju, sialnya ban mobil Bobby kempes. "Wah kepalang tanggung nih padahal sudah mau dekat" lagi-lagi Bobby merasa kesal sendiri.
"Disaat keadaan genting kaya gini kenapa malah ban mobilnya kempes" Bobby menendang ban mobilnya yang kempes. "Aduh....sial kaki gue sakit banget!!!" tanganya dengan cepat mengelus kakinya yang pegal.
Mata Bobby melihat ke sekitaran. Hanya ada pohon kelapa dan rumput. Sama sekali tidak ada warung atau bangunan seperti rumah. Sontak dirinya merasa merinding. Disini Bobby jadi takut sendiri mengingat dia memang seorang lelaki yang penakut.
"Duh ka Alfan mana sih, sama sekali tidak ada penerangan apa ya. Gelap banget lagi disini" Bobby sejak tadi memanyunkan bibirnya. Tiada hentinya menggerutu. Tapi rasa khawatirnya begitu besar pada Reta. Jadi rasa takut pun akan kalah dengan rasa khawatirnya. "Demi ayang bebeb walopun gelap begini akan ku lalui" ucap Bobby memberikan semangat pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Langkah kakinya berjalan menuju kedepan untuk menyusuri jalanan yang tidak terlihat ujungnya. Karena terlalu gelap. Bahkan sinar dari bintang malam tidak terlalu jelas.
Sepanjang jalan hanya terlihat pepohonan kelapa dan beberapa pepohonan lainnya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan manusia membuat bulukuduk Bobby meremang. Yang menemani hanya lampu senter dari ponselnya. Itu pun baterai ponselnya sudah hampir habis.
Terdapat peringatan tanda merah di ponselnya. Membuat Bobby jadi tambah kesal. "Ini hp kenapa juga ikut-ikutan sih" ucap Bobby dengan nada kesal.
Dia tetap memberanikan diri terus berjalan kedepan. Baru beberapa meter terdengar suara tangisan. Yang sontak membuat Bobby terkejut. Dia mencoba mencari suara tangisan itu berasal.
"Aduh siapa yang nangis malam-malam begini mana gelap lagi" kata Bobby dengan lirih. Takut kalau suaranya terdengar si makhluk yang menangis.
Selang beberapa menit tangisan itu menjadi sebuah jeritan. Yang membuat Bobby sampai mengelus dadanya karena kaget. Karena jeritan tersebut Bobby merasa tidak asing dengan suaranya. Dia kini yakin untuk mencari sumber suara.
Untung saja suara itu kian terdengar makin jelas. Mata Bobby segera melihat kearah sekelilingnya. Ada bayangan seorang wanita yang sedang terduduk.
Kini Bobby yakin orang yang dicarinya ada didepan mata. "Reta" Bobby segera berlari untuk memeluk kekasihnya itu.
Tak terasa airmata Bobby mengalir karena saking lega nya sudah berhasil menemukan tambatan hati. "Sayang" Bobby memeluk Reta dengan erat.
Reta membalas pelukan dari kekasihnya itu. "Bunda kenapa bunda tega ninggalin aku beb" suara Reta yang sudah serak membuat Bobby makin sedih.
"Apa bunda tidak sayang lagi padaku, kenapa dia begitu cepat perginya" Reta menangis sampai sesenggukan. "Jawab beb, kenapa bunda pergi secepat itu" tangan Reta memukul punggung Bobby.
Bobby hanya bisa menenangkan Reta dengan mengelus puncak kepalanya. "Sayang tenang kendalikan dirimu" ucap Bobby dengan nada yang penuh kelembutan.
"Aku gak bisa terima bunda pergi begitu cepat. Kenapa beb....kenapa...." rengekan Reta berhasil membuat dada Bobby menjadi sesak karena ikut merasakan kepedihan yang Reta rasakan.
__ADS_1
Rasa duka yang amat dalam membuat Reta menjadi hancur.