Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
142. Kejutan yang mengejutkan #2


__ADS_3

Silma memberikan beberapa pekerjaan pada sekretaris baru. "Kamu ketik dokumen ini ya, lalu berikan padaku sebelum menyerahkan pada pak bos" pinta Silma. "Baiklah" ucap Serin. Silma tersenyum mencoba bersikap ramah pada teman sejawatnya. "Hanya ini saja?" tanya Serin. "Karena hari ini pertama kamu kerja jadi kamu cukup mengerjakan pekerjaan yang mudah dulu" sahut Silma. "Kamu baik banget sih, kalau ada pekerjaan yang lain juga saya sudah siap" ucap Serin dengan manis.


Melvin sibuk meneliti laporan keuangan akhir bulan. Wajahnya terlihat serius menatap satu peesatu berkas di depannya. Tangan kanannya memainkan pena. Silma masuk untuk memberitahukan bahwa akan ada pertemuan dengan klien.


"Permisi pak" ucap Silma sambil berjalan masuk kedalam. Tangannya memegang tab yang berisi schedule kerja Melvin. "Sebentar lagi akan ada pertemuan dengan klien pak di sebuah restoran yang dipesan oleh klien kita" Silma meng-scroll tab itu.


"Baiklah" sahut Melvin. "Saya dan sekretaris baru akan mendampingi anda pak" ucap Silma lagi.


Melvin mengambil jasnya yang di gantung dan memakainya kembali. Langkah kakinya berjalan keluar ruang kerja di ikuti oleh Silma. Sembari merapihkan dasinya, matanya terbelalak melihat wanita yang berdiri didepannya. Seperti melihat setan di siang bolong. Senyuman khas dari bibir sang sekretaris baru pun di tampilkan semanis mungkin.


"Kamu ngapain disini" ucap Melvin dengan cepat. Langkahnya berhenti tepat didepan pintu. Membuat Silma tak sengaja menabrak punggung Melvin. Silma mengelus kepalanya yang merasa sedikit sakit. Kepalanya pun melongok melihat ketegangan yang terjadi didepannya. "Saya bekerja disini" ujar Serin dengan lembut di sertai senyuman. "Kamu sekretaris baru aku?" tanya Melvin bingung.


"Benar sekali pak Melvin" jawab Serin. Melvin berbalik menatap pada Silma. "Jadi ini sekretaris barunya" raut wajah Melvin mulai merah. "Iya pak memang ada yang salah ya" jawab Silma gugup takut akan disalahkan. Karena pertemuannya dengan klien lebih penting jadi Melvin belum mau ribet dengan urusan sekretaris baru itu.

__ADS_1


"Yang ikut dengan saya hanya kamu saja" Melvin menunjuk pada Silma. "Tapi sekretaris barunya juga harus ikut pak" saran Silma. "Yang bos di sini itu siapa, saya atau kamu" ucap Melvin dengan ketus. "Hehe anda pak" jawab Silma cengengesan. Melvin langsung beranjak pergi dari hadapan Serin.


Dengan senyum liciknya Serin senang sudah membuat Melvin kesal. "Lihat saja kamu bakalan jatuh kepelukan aku lagi vin" gumam Serin. Silma tertinggal lumayan jauh dari Melvin. Langkah kaki Melvin lebar dan cepat membuat Silma sampai berlari kecil untuk mengejar bos tampannya. "Pak Melvin kenapa sih? Apa ada yang salah denganku?" Silma bertanya-tanya sendiri. Dia bingung apa kesalahannya.


Melvin menengok kebelakang namun Silma tidak terlihat. "Mana lagi ini sekretaris satu, jalannya aja leletnya kaya siput" gerutu Melvin. Sopirnya sudah membukakan pintu mobil dan Melvin pun masuk kedalam. Silma dengan cepat berlari menuju mobil milik bosnya. "Maaf pak ketinggalan" Silma memakai sabuk pengaman. Dia duduk di samping sopir. Melvin sudah kembali membuka laptopnya dan di letakkan di pangkuan.


"Makanya kalau jalan tuh yang cepat jangan lelet kaya siput" ucap Melvin dengan sedikit nada tinggi. "Maaf pak langkah anda yang terlalu cepat" jawab Silma lirih. Tapi suaranya bisa di dengar oleh Melvin. "Kamunya aja yang lelet" gerutu Melvin. Silma tidak berani untuk menjawab ucapan sang bos lagi.


"Kamu bawa kontraknya kan?" tanya Melvin. "Sudah saya siapkan semuanya pak" jawab Silma. Melvin kembali disibukan dengan pekerjaan yang ada di laptopnya.


Dinka berjalan menuruni tangga dengan langkah malas. "Ngapain ya enaknya Reta belum pulang dari kampus, Melvin masih kerja" gerutu Dinka.


Terdengar suara mobil diluar rumah. Dinka berjalan keluar dan melihat siapa yang datang. Pintu mobil di buka oleh si sopir. "Itu sopirnya kak Alfan kan" ucap Dinka pada diri sendiri.

__ADS_1


Keluarlah Alfan dari dalam mobil dengan menggendong tas ransel. Dinka segera menghampiri kakak iparnya. "Kak Alfan kok pulang?" tanya Dinka bingung. "Iya karena kondisi bunda udah mendingan jadi aku disuruh pulang sama ayah" jawab Alfan. "Syukurlah bunda udah mendingan kak, tapi kok kak Alfan pulang gak kabarin aku atau Melvin dulu" ucap Dinka.


Alfan tersenyum dan berkata "kenapa? kakak gak boleh pulang gitu". Dinka hanya cengengesan. "Engga gitu kak, Melvin lagi coba cariin Enzi di singapura. Dia nyuruh temennya" ungkap Dinka.


"Percuma kakak udah ketemu sama dia" Alfan berjalan masuk kedalam rumah. Diikuti oleh sang adik ipar. "Maksud kak Alfan?" tanya Dinka penasaran sambil berjalan melangkahi sang kakak ipar.


"Semenjak disana aku juga coba cari Enzi, dan aku berhasil menuin dia" jelas Alfan. Dinka masih terdiam mendengarkan Alfan bicara. Alfan mendudukan pantatnya di sofa ruang keluarga. Sembari melepaskan tas ransel dan kaos kakinya. "Percuma hubungin kita gak bisa diteruskan lagi karena..." ucap Alfan sembari menunduk. Dinka masih terdiam mendengarkan.


"Kakak mau istirahat dulu ya" Alfan kemudian beranjak pergi dan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Dinka hanya melihat kakak iparnya yang berjalan menjauh. "Apa yang terjadi antara kak Alfan dan Enzi, apa ayah masih ikut campur" gumam Dinka. Karena merasa lapar dia pun menuju kedapur untuk mencari cemilan.


Melvin sudah kembali ke perusahaan namun Silma di tinggal untuk mengurusi keperluan yang lain. Serin menyambutnya dengan tersenyum manis. Melvin hanya melirik sepintas pada Serin dan masuk kedalam ruang kerjanya.


Sejak tadi Melvin merasa janggal dengan kedatangan Serin di perusahaannya. Dia jadi penasaran apa yang Serin incar dengan cara bekerja sebagai sekretaris. "Aku harus segera memecat Serin, kalau sampai Dinka tau dia bisa marah banget sama aku" gumam Melvin.

__ADS_1


Melvin pun mencari cara untuk mengeluarkan Serin dari perusahaannya. Dia harus punya alasan yang tepat agar Serin tidak curiga. Tanpa disuruh Serin masuk kedalam ruang kerja Melvin. Melihat pemandangan didepannya yang sudah lama tidak ada membuat Serin lebih berani. "Ada perlu apa kamu masuk?" tanya Melvin dengan dingin. "Apa kabar mantan kekasih?" tanya Serin. Melvin diam dan hanya menatap tajam pada Serin. "Biasa aja lagi gak usah serius gitu, aku tau kok kamu kangen sama aku" imbuh Serin dengan percaya diri. "Keluar" bentak Melvin. Serin terkejut dan segera berjalan keluar ruangan.


Silma datang dengan bercucuran keringat karena habis berjalan dibawah teriknya matahari. Dompetnya ketinggalan sehingga dia harus berjalan cukup jauh. "Apa pak Melvin sudah kembali?" tanya Silma dengan suara tersendat-sendat. "Sudah sejak tadi" jawab Serin.


__ADS_2