Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
179. What the hell #3


__ADS_3

Semua berkumpul di ruang keluarga kecuali Bella dan suaminya. Alfan sedari tadi menggendong keponakannya itu. "Nak Alfan kalau sudah pengen punya kenapa tidak menikah saja" celetuk Siti. Ucapan Siti membuat Alfan tersenyum kecut. "Bagaimana hubungan mu dengan Clarisa?" suara besar sang ayah terdengar bertanya. Mendengar Arya bertanya demikian membuat Melvin jadi ingin tau. "Iya kak gimana?" tanya Melvin juga.


"Aku tidak punya hubungan yang spesial dengan Clarisa yah" jawab Alfan sedikit ragu. "Memangnya Bima tidak berbicara apapun padamu?" tanya Arya lagi. "Mengenai itu..." Alfan tidak melanjutkan perkataannya.


"Aku sudah bilang ingin berbesanan dengannya, dia meminta sendiri. Berhubung ada kerjasama bisnis kenapa tidak sekalian saja ada pernikahan aliansi. Bukannya itu menguntungkan bagi keluarga kita" saran Arya. Setau Melvin sang kakak cukup menyukai Clarisa. Namun setelah mendengar kata pernikahan aliansi membuatnya gusar. "Maksud ayah ingin menjodohkan kak Alfan dengan Clarisa?" tanya Melvin.


"Iya bukannya ini hal baik, kalian saling menyukai satu sama lain kan" ungkap Arya. "Aku sama sekali tidak pernah menyukai Clarisa yah" jawab Alfan dengan lugas. "Tapi Clarisa bilang kalian mempunyai hubungan spesial. Lalu mana yang benar?" Arya bingung sendiri.


"Ayah aku gak pernah bilang suka sama Clarisa" Alfan mencoba menjelaskan agar tidak terjadi salah paham. Suara rengekan si kecil terdengar. Dinka beranjak menghampiri Alfan dan menggendong si kecil untuk di susui.


"Aku mau ke kamar dulu, sepertinya dede mau menyusu" ucap Dinka. Alfan menyerahkan bayinya pada Dinka. Melvin berpindah posisi duduk di sebelah kakaknya. "Kak bukannya kakak tertarik pada Clarisa. Apa selama ini aku salah mengira" Melvin menepuk bahu Alfan dengan pelan.


"Kamu yang sok tau saja" Alfan menoel jidat Melvin. "Suka atau tidak kamu harus tetap menikah dengan Clarisa itu keputusan ayah" Arya berkata dengan tegas. Mengingat kondisi sang bunda yang sudah membaik membuat Alfan mengurungkan niatnya untuk membantah ucapan Arya. Dia hanya bisa diam membisu. "Ayah jangan seperti itu dong, kenapa harus memaksakan kehendak" ucap Sarah. Melihat wajah muram anak sulungnya membuat Sarah membela sang anak.

__ADS_1


"Tapi ayah sudah terlanjur menjanjikan hal itu bunda, dan akomodasi untuk Alfan juga sudah ada. Ayah akan memberikan anak cabang perusahaan pada Alfan kalau dia sudah menikah. Kebetulan Bima juga akan menyatukan kedua perusahaan tersebut" Arya menjelaskan detail rencananya. Baginya keputusannya itu bagus untuk masa depan Alfan. Tapi bukan semua itu yang Alfan mau. Baginya dia tidak butuh materil ataupun kekuasaan. Yang dia butuhkan keluarga yang bahagia dan harmonis.


Menikahi Clarisa yang tidak di cintainya pasti akan membuatnya terpojokan. "Ayah aku..." Alfan ingin komplain namun tidak jadi. Melihat sang kakak yang tidak berani berbicara, kini Melvin yang angkat bicara. "Ayah kakak sudah mencintai wanita lain" ungkap Melvin dengan tegas. Situasi semakin memanas dan runyam. Rama menyuruh istrinya untuk beristirahat lebih dulu. Tanpa berpamitan pada yang lain. Dia tidak ingin ikut campur masalah keluarga itu.


Kini tersisa kakak beradik dan orang tuanya. "Kamu tidak usah ikut campur lagi" sahut Arya sedikit menaikan nada bicaranya. "Ayah" Sarah segera menampik ucapan Arya. Melvin menghela nafasnya dengan panjang.


"Kalau bunda boleh tau memangnya siapa yang di cintai kamu fan?" tanya Sarah dengan nada lembutnya. Alfan yang sedari tadi menunduk pun mengangkat kepalanya. "Sekretaris aku bun" jawab Melvin dengan cepat. Alfan kalah cepat dengan sang adik.


Yang Arya tau sekretaris Melvin hanya tinggal Silma saja. Tapi dia bersikukuh untuk menjodohkan Alfan dengan Clarisa. "Siapa namanya?" tanya Sarah lagi. Kini Arya tidak berbicara karena Sarah. "Namanya Enzi bunda" Melvin menjawab lagi pertanyaan Sarah. Alfan menengok sang adik yang berada di sebelahnya. Melvin yang ditatap menampilkan barisan gigi putihnya. Seolah bangga sudah berhasil menyelamatkan dan membela kakak angkatnya itu.


"Iya bunda pernah bertemu dengan seorang wanita. Bahkan dia sering menjenguk bunda saat dirumah sakit. Dia membawakan buket bunga untuk bunda. Iya kalau tidak salah dia memperkenalkan dirinya dengan nama Enzi sewaktu bunda sedang berjalan-jalan di taman rumah sakit. Bunda ingat betul akan hal itu" jelas Sarah. Arya sedikit terkejut mendengar penjelasan istrinya. Dia tidak tau menahu tentang pertemuan Enzi dengan sang istri.


"Bunda kapan bertemu dengan wanita itu?" tanya Arya penasaran. Melvin dan Alfan menatap dengan serius sang ibunda. "Bunda juga lupa kapan bertemunya, pokoknya sewaktu bunda sering pergi ke taman di rumah sakit kami sering jumpa disana. Lalu yang namanya Enzi itu menghampiri bunda. Dia juga terlihat sedang hamil. Perutnya buncit" Sarah kembali menjelaskan.

__ADS_1


Mendengar hal itu Alfan membulatkan kedua bola matanya. "Bunda tidak salah lihat?" tanya Alfan. "Iya mana mungkin bunda salah lihat, sangat jelas kalau wanita itu sedang hamil. Bunda belum linglung kok, bunda belum tua-tua amat kan" Sarah memegang kedua pipinya.


"Wajah bunda juga belum banyak keriput. Mana mungkin bunda lupa" imbuh Sarah. Arya juga tidak tau kalau Enzi dalam keadaan hamil pada saat di suruh pindah ke singapura. Karena kehamilan Enzi baru menginjak usia satu bulan saat di perintahkan untuk pindah. Bahkan dia di pekerjakan menjadi babysiter. Sungguh kebetulan majikan tempat Enzi bekerja sangat baik dan memperlakukan Enzi seperti anggota keluarga.


"Kakak" Melvin menengok kesampingnya dan menatap dengan ekspresi penuh tanda tanya. 'Apa mungkin ini ada kaitannya dengan kejadian waktu kakak dan Enzi kabur. Jangan-jangan kakak sudah menyentuh Enzi dan menghamilinya' gumam Melvin dalam hati.


Alfan mengira Enzi tidak hamil. Karena sewaktu dia bertemu dengan Enzi untuk yang terakhir kalinya di singapura. Enzi mengatakan sendiri bahwa dia tidak hamil dan perut Enzi saat itu masih kecil. Belum sebuncit saat bertemu dengan Sarah. "Berarti aku sudah di bohongi" Alfan tiba-tiba berkata demikian. Membuat yang lainnya bingung.


"Mau Enzi hamil atau tidak itu bukan urusan kita, bisa sajakan dia hamil dengan pria lainnya. Apalagi banyak bule di singapura. Kalian tau sendiri kalau bule itu suka **** bebas" sahut Arya. Dia mencoba menjelek-jelekan Enzi.


"Ayah diam deh" ucapan Sarah membuat Arya menciut. Arya segera bergegas masuk kedalam kamar lebih dulu. Karena takut sang istri akan memarahinya. Itu bukan berarti dirinya suami yang takut terhadap istri. Melainkan lebih menjaga emosional sang istri agar tidak terjadi hal buruk.


"Bunda akan dukung kamu dengan wanita yang kamu cintai, untuk masalah ayah biar bunda yang urus. Melvin kamu bantu kakak kamu ya" pinta Sarah.

__ADS_1


"Siap bunda" Melvin berkata dengan antusias. Alfan merenungi ucapan Sarah. Mengingat kehamilan Enzi membuatnya menyesal. Kenapa dia tidak tau dan tidak peka terhadap kehamilan pujaan hatinya. Dia yakin anak yang di kandung Enzi adalah hasil buah cintanya dengan Enzi.


__ADS_2