
Alfan turun kelantai bawah karena merasa perutnya keroncongan. Dia memang tidak di ijinkan untuk pergi ke kantor. Dilihatnya pelayan kembar adik iparnya melintas. "Kembar sini deh" Alfan menggerakan tangannya menyuruh si kembar mendekat. "Ada apa tuan?" tanya Alini. "Kalian tau ada apa sama Dinka?" tanya Alfan. Alini dan Arini saling berpandangan.
"Memang tuan muda belum tau?" tanya Alini balik. Alfan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Apa aku ketinggalan berita?" Alfan kembali bertanya.
"Non Dinka akhirnya tau siapa ayah kandungnya tuan dan itu adalah ayah tirinya tuan Bobby" jawab Arini. Alfan ternganga mendengar jawaban Arini.
"Serius?" tanya Alfan dengan cepat. "Iya tuan kami hanya tau itu" jawab Alini. "Kita permisi dulu tuan" ucap kembar kompak.
Alfan melihat kearah atas dimana tempat Dinka tadi mondar mandir. "Pantas saja wajahnya terlihat ada masalah" ucap Alfan pada diri sendiri. Langkahnya kembali menuju dapur untuk mencari makan.
Arya datang ke kantor tempat Melvin bekerja. Sebenarnya perusahaan itu sudah di alihkan untuk Melvin namun dia masih ingin meninjau kantor. Karena sudah cukup lama tidak mendatangi kantor itu. Asisten pribadinya memberitahukan pada beberapa direktur di kantor Melvin. Atas kedatangan Arya kesana.
Arya disambut oleh petinggi perusahaan dan staff. Tapi tidak dengan Melvin yang justru menghindar. Melvin sengaja pergi ke suatu tempat agar tidak kena marah sang ayah dikantor. Bisa sangat memalukan bila bawahannya melihatnya dimarahi sang ayah.
Kedatangan Arya bukan cuma meninjau keadaan perusahaannya. Namun dibalik itu semua fokusnya pada sekretaris Melvin yang sedang dekat dengan Alfan. Enzi memang berangkat kerja walaupun terlambat akibat kejadian yang menimpanya.
Paman Jay sudah menelurusi tentang kehidupan dari wanita yang dekat dengan Alfan. Dia menunjukan wanita yang dicari Arya. "Tuan besar itu wanita yang dekat dengan tuan muda" paman Jay menunjuk dengan kelima jari tangannya.
__ADS_1
Arya menghampiri meja sekretaris diikuti paman Jay. Kedua sekretaris Melvin dengan segera bangun dan menyapa bigbosnya. Jantung Enzi sontak berdebar kencang karena kedatangan ayah dari Alfan. "Siang pak" sapa Silma dengan ramah dan tersenyum. "Si.. siang pak" Enzi terbata-bata saat menyapa Arya.
"Kamu yang namanya Enzi?" tanya Arya. Enzi menunduk tanpa berani menatap Arya. "Iy.. iya pak" jawab Enzi. Tangannya di remas karena gemetar saking takutnya. Baru kali ini dia melihat secara gamblang wajah bigbosnya. Benar kata staff dan karyawan yang lain wajahnya sama persis menakutkannya dengan Melvin. Tapi kali ini bagi Enzi wajah Arya terlihat lebih menyeramkan.
Silma melihat situasi yang mencekam disini. Dia ikut panik dan merasa ada sesuatu yang mengganjal. Tangannya menyiku badan Enzi. Arya masuk kedalam ruang kerja sang anak. Melihat ruangan yang kosong membuatnya bertanya-tanya.
Paman Jay menyuruh Enzi masuk kedalam ruangan kerja Melvin. Pasti dia bakal disidang oleh ayah Alfan. Itu membuatnya merasa was-was dan takut. Silma tidak tau apapun yang terjadi. "Cepet sana masuk" Silma mendorong Enzi yang berdiri mematung.
"Melvin kemana ini?" tanya Arya pada paman Jay. "Mungkin tuan muda sedang ada rapat diluar kantor tuan" jawab paman Jay.
Enzi duduk di sofa dengan muka masih menunduk. Dia sama sekali tidak berani menatap wajah Arya. "Kamu butuh berapa?" tanya Arya. Enzi bingung dengan maksud pertanyaan yang di lontarkan ayah Alfan.
"Maksudnya pak?" tanya Enzi. Tangannya masih diremas-remas karena gugup dan takut. Arya tersenyum setengah melihat ekspresi takut pada Enzi. Sepertinya wanita yang ada dihadapannya itu belum pernah digertak.
"Kamu mendekati anak saya karena kamu butuh uangkan? Berapa pun yang kamu mau akan saya berikan" perkataan dari Arya membuat mata Enzi berkaca-kaca. Airmatanya pun terjatuh keatas pangkuannya karena sedang menunduk.
Sebuah kalimat yang sudah sangat menusuk hatinya. Biarpun dia bukan tergolong dari keluarga kaya namun dia tidak akan menjual diri pada pria kaya. "Maaf pak bukan maksud saya seperti itu" jawab Enzi dengan suara serak karena menangis.
__ADS_1
Silma mencoba menguping pembicaraan dari depan pintu ruang kerja. Tapi dirinya tidak mendengar suara apapun. "Lalu apa alasan kamu mendekati Alfan?" tanya Arya lagi. Enzi tidak berani menjawab. Tangannya menghapus airmata yang membasahi pipinya.
"Kalau kamu tidak ada maksud apapun untuk mendekati Alfan segera jauhi dia" Arya mengucapkan dengan tegas. "Baik pak saya akan menjauhi pak Alfan" jawab Enzi.
"Kamu tau apa resikonya kan bila kamu tidak mematuhi ucapan saya. Lagi pula kamu itu tidak cocok dengan Alfan, kamu harus sadar diri" Arya kembali berucap dan kalimat itu berhasil menusuk hati Enzi. Karena merasa tidak ada percakapan lagi Enzi pamit undur diri. "Kalau begitu saya permisi pak" ucap Enzi.
Melvin memutuskan kembali ke kantor. Dia melihat Enzi keluar dari ruang kerjanya dan menangis. Enzi berlari menuju ke toilet kantor sembari mengusap airmatanya. "Ada apa?" Melvin menahan sekretarisnya. Enzi hanya geleng-geleng kepala sambil menutup wajahnya.
Melvin juga melihat sang ayah keluar dari ruangannya yang di ikuti paman Jay. Terlihat bibir Arya yang tersenyum setengah pada Melvin. Paman Jay menyapa Melvin. Namun sang ayah tetap berjalan lurus kedepan.
Melvin bertanya pada Silma namun Silma pun menggeleng tidak tau. "Kamu coba ajak bicara Enzi" pinta Melvin. "Baik pak" jawab Silma. Melvin masuk kedalam ruangannya. Tangan kanannya mengelus dagunya. 'Apa yang terjadi? Pasti ayah yang sudah membuat Enzi menangis. Apa itu alasan kedatangan ayah kekantor' gumam Melvin dalam hati.
Didalam toilet Enzi menangis sejadinya. Untuk meluapkan rasa kekesalannya dan sakit hatinya atas ucapan dari ayah Alfan. Sama sekali Enzi tidak menyangka dirinya sangat buruk dimata Arya. Dari luar Silma mengetuk pintu toilet. Tapi tetap saja Enzi tidak membukannya.
Yang didengar Silma hanyalah suara tangisan dari Enzi. "En kamu baik-baik sajakan?" tanya Silma. Enzi menyudahi tangisannya dan keluar dari dalam toilet. Airmatanya dihapus menggunakan tisu.
"Kamu kenapa?" tanya Silma. Enzi tidak menjawab tapi balik bertanya pada Silma. "Apakah pak Melvin sudah kembali kekantor?" tanya Enzi. Silma mengangguk dengan cepat. Enzi melangkahkan kakinya menuju ruangan Melvin.
__ADS_1