
Dinka masuk kedalam kamar mandi dan mengunci pintunya agar Melvin tidak dapat masuk kedalam. Setelah mandi Dinka berjalan keluar dari kamar. Dia tidak mendapati sang suami didalam kamar.
Dinka berjalan ke dapur dan mengambil satu ranjang buah didalam kulkas. Bi Nah menawarkan teh hangat pada Dinka. "Mau bibi buatkan teh nona?" tanya Bi Nah.
"Gak usah bi" jawab Dinka. Suaranya terdengar lesu. Dinka berjalan kearah rumah para pelayan yang tidak jauh dari rumah utama. Tangannya membawa seranjang buah dan tidak ketinggalan dua botol madu.
Dinka membuka pintu kamar pelayan kembarnya. Hanya Alini yang ada didalam kamar. "Nona butuh sesuatu?" tanya Alini. "Biarkan aku disini malam ini jangan katakan pada Melvin" jawab Dinka. Alini melihat wajah Dinka yang lesu dan parau.
Dinka merebahkan tubuhnya ditempat tidur sikembar. Tangannya sembari memasukan buah kedalam mulut. Satu ranjang buah habis dimakannya. Dinka meraih selimut untuk menutupi seluruh badannya sampai kewajah. Lalu terpejam karena matanya sembab.
Si kembar hanya melihat tingkah majikannya tanpa bertanya apapun. Arini masuk kedalam kamarnya. Seketika Alini menyuruh kembarannya untuk diam. "Ada apa?" tanya Arini dengan berbisik. "Sepertinya ada yang terjadi antara tuan Melvin dan nona" jawab Alini. Mereka berdua kompak melihat kearah Dinka.
Melvin berjalan kesana kemari didalam kamar. Dia tidak tau sang istri berada dimana. Karena Melvin takut Dinka akan kabur dari rumah. Melvin berjalan ke lantai bawah kebetulan ada pak Mimin. "Mana kembar?" tanya Melvin. "Sepertinya dikamarnya tuan" jawab pak Mimin.
Melvin melangkahkan kakinya menuju rumah para pelayan dan berpapasan dengan bi Nah. "Tuan mau kemana?" tanya bi Nah. "Apa Dinka bersama sikembar?" tanya Melvin balik.
"Iya bibi tadi melihat nona masuk kedalam kamarnya si kembar tuan" jawab bi Nah. Melvin bernafas lega telah mengetahui keberadaan sang istri. Dia pun kembali berjalan. "Oiya bawakan kopi keruang kerja ya bi" pinta Melvin. "Baik tuan" jawab bi Nah.
Alfan mendengar dari kejauhan. Sesuatu pasti telah terjadi diantara Dinka dan Melvin. Karena penasaran Alfan mendatangi ruang kerja sang adik. "Vin boleh kaka masuk?" tanya Alfan dari balik pintu.
__ADS_1
"Masuk saja" jawab Melvin. Alfan berjalan dengan pelan masuk kedalam ruang kerja. "Apa kau banyak pekerjaan?" tanya Alfan.
"Lumayan" jawab Melvin tanpa menatap sang kaka. Matanya menatap kearah kertas yang dipegang. Melihat wajah Melvin yang begitu serius membuat Alfan ragu untuk bertanya.
Karena terlalu lama diam Melvin bertanya "ada perlu sesuatu ka?". Alfan hanya tersenyum dan berkata "tidak ada". Langkah kakinya pun keluar dari ruang kerja sang adik. Alfan menutup pintu dengan pelan.
"Besok saja aku tanyakan" ucapnya pada diri sendiri.
Didalam kamar si kembar Dinka sudah tidur nyenyak. Mereka tidur saling berhimpitan tiga orang dalam satu ranjang. Tempat tidur yang harusnya untuk dua orang menjadi sempit.
Melvin menyelesaikan pekerjaannya sampai tengah malam. Dia berjalan kekamar sambil meregangkan otot. Matanya tidak melihat sang istri.
Melvin berjalan kearah kamar si kembar dan mengetuk pintu kamar. Alini membukakan pintu. "Ada apa ya tuan?" tanya Alini. Melvin melongok kedalam kamar sikembar. Melihat tubuh istrinya terbaring disana.
Melvin merebahkan badan sang istri dan menyelimutinya. Tidak lupa memberi kecupan dikening. Lalu beranjak mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur. Dibawah cahaya remang-remang Melvin melihat wajah sang istri. Diusapnya pipi Dinka dan tangan satunya mengusap perut.
Melvin menghela nafasnya panjang. Dan membaringkan tubuhnya dengan satu tangan sebagi bantalan.
Sinar matahari pagi masuk lewat gorden yang sudah dibuka oleh Melvin. Sinar itu membuat Dinka terbangun dari tidurnya. Dinka mengerjapkan matanya. Dia melihat kearah langit-langit kamar. 'Bukankah ini kamar ku' batinnya diselingi dengan menguap.
__ADS_1
Dinka kemudian duduk. 'Bukankah semalam aku tidur dikamarnya kembar ya kenapa malah disini, apa aku tidur sambil berjalan' gumamnya lagi. Dinka duduk sejenak untuk mengumpulkan nyawanya.
Melvin keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk saja. Terlihat bulir air turun dari dada bidang Melvin kebawah. Sengaja Melvin tidak memakai jubah handuknya. Dinka melihat postur tubuh sixpack milik sang suami.
Dia langsung membuang pandangannya kearah lain. Melvin tersenyum melihat sang istri dan mendekatinya. "Kenapa kau mengalihkan tatapan matamu padahal kau sudah sering merasakan tubuh inikan" ledek Melvin.
Dinka terdiam tidak menjawab suaminya. Dia melangkahkan kaki masuk kedalam kamar mandi. Setelah selesai dengan ritual mandinya, Dinka melongok keluar pintu. Untuk memastikan bahwa suaminya sudah tidak ada dalam kamar. Namun Melvin masih duduk disofa.
Sudah tidak ada persediaan handuk didalam kamar mandi. Melvin sengaja menyingkirkan beberapa handuk dan menyisahkan satu untuk dipakainya tadi. Melvin melihat Dinka yang mengintip dari balik pintu kamar mandi.
Rencananya berhasil. "Kau butuh handuk?" tanya Melvin. Dengan cepat Dinka mengangguk. Itu salah satu cara agar Dinka mau berbicara kembali dengannya.
Melvin memberikan handuk yang dipakainya tadi. "Ini" tangannya memberikan pada Dinka. Dinka langsung merebut handuk ditangan sang suami. Dan membungkus tubuh indahnya dengan handuk.
Dinka sedikit berlari masuk kedalam ruangan disebelah kamar dan mencari pakaian. Melvin tiba-tiba memeluk sang istri dari belakang. "Apa kau masih marah padaku?" tanya Melvin dengan lembut.
Dinka melepaskan tangan Melvin. Namun handuknya juga ikut terlepas. Seketika Dinka langsung mengambilnya. Namun tangan besar Melvin meraih handuk dengan cepat dan membuangnya.
"Kau sengaja memancingku" ucap Melvin sambil mengusap bibir Dinka. Melvin mengecup bibir Dinka perlahan dan tangan nakalnya melalang buana keanggota tubuh yang lain. Dinka mencoba menghentikan aksi suaminya tapi gagal.
__ADS_1
Kegiatan suami istripun terjadi. Sebenarnya Dinka sudah tidak sudi melayani Melvin. Tapi karena tenaga Melvin lebih kuat Dinka tidak bisa berkutik ataupun melawan.
Melvin mengancingkan kemejanya kembali. Terlihat Dinka memanyunkan bibirnya. Belum ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Dinka. Banyak tato merah menghiasi tubuh Dinka.