
Dinka mengerjapkan matanya karena merasa silau. Sinar matahari begitu semangat menyinari bumi. Dilihatnya samping ranjang. Dia kira Melvin akan tidur disebelahnya. Tapi tidak ada sosok tubuh sang suami.
'Apa dia kerumah sakit lagi? Tapi sudah ada kak Alfan dan ayah kan yang jaga' gumam Dinka dalam hati.
Dinka berjalan ke kamar mandi. Tidak berselang lama Melvin masuk kedalam kamar. Malam tadi dirinya tidur di kamar tamu. Melvin menguap karena masih mengantuk. Dirinya tidak bisa tidur karena otaknya sibuk berpikir.
Dia harus mencari suatu cara agar sang istri mau memaafkannya. Agar rasa bersalah yang menghantuinya segera hilang. Terdengar suara deburan air dari kamar mandi. Karena rasa kantuknya lebih besar Melvin melanjutkan tidurnya kembali.
Selesai mandi Dinka kaget melihat suami sudah ada didalam kamar. Tangannya segera mengeratkan handuk yang dipakai. Takut-takut kalau sang suami tiba-tiba menerkam. Karena Melvin terkadang suka menerkam seperti singa.
Dinka menoleh kearah suaminya. Melvin sengaja tidur dengan posisi tengkurap dan menggunakan bantal sebagai tutupan kepala.
'Apa tidak pengap kepalanya ditutupi seperti itu?' batin Dinka. Kedua alisnya menyatu. 'Kenapa juga aku peduli, terserah dia mau apa bukan urusanku' lanjutnya.
Sarapan sudah disiapkan dan semuanya sudah berada di kursi masing-masing kecuali Melvin. Alfan dan Arya pulang pagi buta. "Ayah sama kak Alfan pulang, yang jaga bunda siapa?" tanya Reta.
"Asisten ayah" jawab Arya. "Dinka mana suami mu?" tanya Arya. "Masih tidur yah" jawab Dinka.
"Karena kondisi bunda sudah baik kalian bisa pulang ke indo. Lagian Dinka dan Reta kan harus kuliah" sambung Arya. "Masih betah yah kita disini, lagian kan bunda masih di rumah sakit" sahut Reta.
Setelah semua selesai sarapan Arya dan Alfan kembali ke rumah sakit. Melvin keluar dari kamar dan turun untuk membuat kopi.
__ADS_1
Sikembar melihatnya didapur. Dengan segera menawarkan untuk membuatkan kopi. "Dinka dimana?" tanya Melvin. "Tadi di taman belakang rumah tuan bersama non Reta" jawab Alini.
Di hari ini juga dia harus bisa menyelesaikan masalahnya dengan sang istri. Rencana yang matang sudah tersusun rapih oleh Melvin.
"Kembar bisa kalian bantu aku?" tanya Melvin. "Membantu apa ya tuan?" tanya Arini. Sikembar mendekat pada Melvin dan di bicarakan ide yang terlintas. Ditengah pembicaraan Reta datang ke dapur.
"Kak Melvin lagi main bisik-bisik apa sama kembar?" tanya Reta sembari berkacak pinggang. "Kebetulan kamu nongol sini kakak beri tau" sahut Melvin. Reta kembali ke taman setelah tau rencana yang di buat sang kakak.
Melvin menyusul istri dan adik angkatnya. Terlihat Dinka asik bermain bersama Reta. Dari kejauhan nampak senyuman dibibir sang istri. Senyuman itu sudah cukup lama tidak Melvin dapatkan oleh Dinka.
Tidak selang lama si kembar mengajak nona mudanya untuk pergi jalan-jalan ke sebuah mall. Sebenarnya Dinka sedang tidak mood tapi pelayan kembarnya memaksa. Mau tidak mau Dinka menurutinya.
Ditengah kebosanan menunggu si kembar ada badut mickey mouse yang datang dan mengajak Dinka pergi. Awalnya Dinka menolak tapi karena dia suka karakter kartun itu akhirnya Dinka mau mengikuti badut tersebut.
Si badut mengajak Dinka ke sebuah restoran mewah di dalam mall. Di pintu masuk ada badut minnie mouse. Diputar lah musik romantis dan kedua badut itu saling berdansa satu sama lain.
Kedua badut menunjukan sebuah tulisan menyuruh Dinka masuk ke restoran mewah tersebut. Namun Dinka ragu karena dirinya sedang menunggu pelayan kembarnya. Badut pun memaksa Dinka untuk masuk.
Di dalam restoran itu tidak ada satu pun pengunjung. Dinka mulai curiga dan takut ada sesuatu yang tidak beres. Segera dia melarikan diri dari dalam restoran. Tapi di cegat oleh kedua badut itu.
Dinka terus berusaha melepaskan diri dari kedua badut itu. Kakinya dia gunakan untuk menendang badut. Dan dengan sekuat mungkin Dinka mendorong badut yang satunya sampai terjungkal.
__ADS_1
Disaat itulah Dinka memanfaatkan situasi untuk berlari. Tangannya sembari memegangi perut. Orang yang lalu lalang hanya memandangi Dinka.
Karena memakai kostum kedua badut itu kesulitan berdiri. Alhasil rencana itu pasti gagal. Datanglah Reta dan Melvin ke restoran itu. Reta segera menolong sikembar yang masih berusaha berdiri. Namun sangat disayangkan Dinka sudah kabur lebih dulu.
"Kembar kalian tidak apa-apa?" tanya Reta. Alini membuka penutup kepala sembari berkata "maaf non Dinka nya kabur tuan".
"Tuh kan kakak si terlalu lama milih bunga nya, jadi kabur deh kaka ipar" gerutu Reta. "Ya habisnya aku kan gak tau Dinka suka bunga apa" ujar Melvin. Reta hanya meliriki sang kakak.
"Terus Dinka kemana?" tanya Melvin. Sikembar menggeleng tidak tau. "Ya sudah kalian kembali ketempat tadi ya atau engga nunggu di parkiran mobil" kata Melvin. Reta dan Melvin berpencar untuk mencari Dinka.
Dinka pun kembali ke tempat semula. "Si kembar mana si kenapa gak dateng juga" keluh Dinka pada diri sendiri. Dinka mengelus perutnya. Untung saja kandungannya ini termasuk kuat walaupun dibawa lari.
Dinka mulai kebingungan karena dirinya tidak membawa dompet. Dan dirinya juga belum membeli ponsel baru. Bahasa inggris pun dirinya tidak pintar.
Reta akhirnya menemukan Dinka yang sedang duduk disebuah kursi. "Kaka ipar" panggil Reta. Dinka menoleh kesana kemari mencari suara Reta.
"Reta aku takut, tadi ada yang gak beres. Aku lagi nunggu kembar disini terus ada badut yang ngajakin aku pergi. Dan...aku takut..mereka sepertinya mau menculik ku" Dinka segera memeluk Reta dengan erat. Air matanya tidak bisa dibendung lagi.
Reta pura-pura tidak tau apa yang terjadi. "Gak ada yang mau culik loe ka, lagian kenapa juga ngikutin orang gak dikenal" ucap Reta sembari memeluk Dinka. "Kamu kemana aja si? Kembar juga katanya mau beli sesuatu tapi tidak nongol-nongol, aku nungguin mereka" keluh Dinka.
"Tadi aku ada urusan sebentar" jawab Reta. Dia pun mengajak Dinka untuk pulang.
__ADS_1