
Melvin menghadang langkah istrinya. Airmata Dinka terus keluar. "Sayang please dengerin dulu ya aku ngomong, kamu itu salah paham" ucap Melvin. Melihat sang istri menangis membuat Melvin serba salah.
"Aku gak butuh penjelasan dari kamu" Dinka melangkah lagi meninggalkan suaminya. Melvin masih terus mencegat Dinka. "Biarin aku pergi" bentak Dinka. Tangannya memegangi perut sambil berlari. Di lobby kantor Alfan melihat Dinka yang berjalan sambil menangis. Terlihat juga Melvin sedang mengejarnya. Orang-orang yang berada didalam gedung kantor pun melihat pemandangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Sayang please" ucap Melvin dengan keras. Dia tidak peduli lagi dengan reputasinya di hadapan bawahannya. Yang penting sang istri mau mendengarkannya. Alfan mengingatkan kepada semua orang yang menyaksikan kejadian langka itu. "Jangan sampai ada yang bergosip di kantor ini paham" ucap Alfan dengan lantang.
Alfan ikut menyusul sang adik kedepan gedung kantor. Dinka menyetop taksi dan menaikinya. Sedangkan Melvin berdiri sambil melihat kepergian sang istri. Airmatanya mengambang dipelupuk mata. Melvin menghela nafasnya berulang kali.
"Vin ada apa?" tanya Alfan. Melvin geleng-geleng kepala. Melihat sang kakak memegang kunci mobil langsung direbut oleh Melvin. Alfan hanya memandangi Melvin tanpa tau yang terjadi.
Dirinya pun masuk kembali kedalam kantor. Ada satpam yang memegangi Serin untuk dibawa keluar dari kantor. Barulah Alfan sadar apa yang sudah terjadi. Pasti semua itu karena Serin. Bibir Serin tersenyum melihat Alfan. Enzi yang mengikuti dari belakang melihat bosnya. "Pak Alfan" panggil Enzi.
Raut wajah Alfan meminta penjelasan pada Enzi. Tangan Alfan pun menarik tangan Enzi untuk dibawa ke ruangannya. Pipi Enzi menjadi merah karena di genggam tangannya oleh atasannya.
Alfan menutup dengan rapat pintu ruang kerjanya. Dan menyuruh Enzi untuk duduk. "Apa yang sudah terjadi?" tanya Alfan. Pipi Enzi masih merona dan matanya tidak berhenti menatap wajah Alfan.
Alfan jadi merasa bingung dengan tingkah sekretaris adiknya. Alfan menggerakkan tangannya di depan wajah Enzi. "Pipi kamu kenapa merah?" tanya Alfan. Enzi belum sadar dari lamunannya.
__ADS_1
Alfan pun menepuk pundak Enzi sedikit keras. Barulah Enzi tersadar. "Kamu itu kenapa sih ditanya malah bengong" gerutu Alfan. "Maaf pak" sahut Enzi cengengesan. "Apa yang terjadi antara Melvin dan istrinya?" tanya Alfan.
"Itu pak tadi ada wanita yang namanya Serin datang kesini, saya tidak tau awal mulanya. Setelah saya dari toilet pak bos langsung menyuruh saya untuk mengusir Serin itu pak" ungkap Enzi. "Memangnya Silma kemana kok Serin bisa sampai masuk ke ruangannya Melvin?" tanya Alfan lagi.
"Silma kan lagi cuti pak hari ini" jawab Enzi. "Apa saja yang dikatakan Serin?" tanya Alfan. Enzi sedikit ragu mengungkapnya apa yang didengarnya tadi. "Tapi pak Alfan jangan marah ya, tadi yang saya dengar bahwa pak Alfan selingkuh dengan istrinya pak Melvin itu yang saya dengar dari wanita tadi" Enzi menjelaskan dengan hati-hati.
Alfan terdiam mendengar perkataan si sekretaris. 'Apa mungkin Serin sengaja datang kesini untuk mencoba mengadu domba antara aku dan Melvin' batin Alfan.
"Bener-bener gak bisa dibiarin" ucapan dari Alfan membuat Enzi kaget. Karena penasaran Enzi memberanikan diri bertanya pada Alfan. "Apa benar pak Alfan berselingkuh dengan istrinya pak Melvin?" tanya Enzi dengan hati-hati.
Enzi dengan segera melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerja Alfan. Karena Melvin pulang cepat Alfan membatalkan janji temu sang adik dengan klien.
Waktu pulang kerja tiba. Alfan masih terlihat sibuk bekerja diruangannya. Enzi melongok kekaca ruang kerja Alfan. Tangannya pun mengetuk pintu ruangan atasannya. Pintu sedikit dibuka oleh Enzi hanya kepalanya saja yang masuk kedalam. "Pak Alfan sudah waktunya pulang" ucap Enzi.
Alfan mendongak melihat Enzi sambil berkata "kamu pulang dulu saja saya akan lembur disini". Karena merasa tidak tega Enzi ikut lembur malam ini.
Terdengar ketukan diluar pintu. "Pak Alfan ini saya, saya membawakan teh hangat untuk anda" ucap Enzi. "Masuklah" sahut Alfan. Dengan anggun Enzi melangkah masuk kedalam. Enzi meletakkan cangkir berisi teh dan sebuah kunci mobil. "Ini tadi ada yang menitipkan kunci mobil pada saya pak. Saya taruh disini ya" sambung Enzi.
__ADS_1
"Kenapa belum pulang?" tanya Alfan. "Karena anda juga belum pulang jadi saya putuskan nanti saja pulangnya pak" ucap Enzi dengan lembut. Alfan mengernyit sambil berkata "bilang saja kamu ingin mendapat gajih tambahan". Enzi pun cengengesan. "Tau saja pak Alfan" ungkapnya.
Waktu sudah menujukan pukul 07.00 pm. Alfan keluar dari ruangannya melihat Enzi tertidur sambil duduk membuat bibir Alfan tersenyum.
Alfan pun membangunkan sang sekretaris. "Enzi bangun" ucap Alfan sambil mengetuk meja. Enzi terkejut dan celingukan tidak jelas. "Iya pak siap" jawab Enzi dengan cepat. Alfan tertawa melihat ekspresi lucu dari wajah Enzi.
"Ayo pulang biar aku antar" ajak Alfan. Enzi mengambil tas dan jaketnya di kursi. Langkahnya mengekori Alfan dari belakang. Diluar kantor hujan turun dengan derasnya. Alfan membuka jasnya dipakai untuk menutupi kepalanya agar tidak basah kuyup. "Kita lari sama-sama ya" kata Alfan. Enzi pun hanya mengangguk sambil melongo.
Sampailah disebuah kontrakan yang terlihat sederhana bagi Alfan. "Kamu tinggal disini?" tanya Alfan. "Iya pak" jawab Enzi dengan tersenyum.
Senyuman itu memikat Alfan tanpa sadar. Dirinya memandangi wajah Enzi dengan intens. Wajah sekretaris adiknya ini memang terlihat biasa saja. Tapi bila dilihat dari dekat ada manisnya juga. Enzi pun terdiam ditatap oleh Alfan. Mereka berdua jadi saling bertatapan.
Suara hujan menambah romantis suasananya. Alfan tidak sadar mendekati bibir Enzi dan mengecupnya sekilas. Wajah mereka kini menjadi sangat dekat. Mata Enzi membulat karena bibirnya dikecup oleh Alfan. Bunyi suara ponsel Enzi memecahkan keheningan.
Sontak membuat keduanya terkejut. Alfan menjauhkan wajahnya dari Enzi. Dan Enzi pun jadi salah tingkah. "Terimakasih pak atas tumpangannya, saya permisi" ucap Enzi sambil bergegas keluar dari dalam mobil.
Alfan pun melajukan mobilnya untuk pulang. Enzi melihat siapa yang sudah mengganggu suasana romantisnya bersama Alfan. Ternyata yang menelpon ialah Silma.
__ADS_1