
Alfan mondar mandir di dalam rumah karena resah. Sang adik yang ijin ingin menemui sang istri belum juga kembali sampai larut malam. Dia sudah mencoba menghubungi Melvin namun nomornya tidak aktif. Begitu pula dengan si bungsu yang belum pulang dan tak ada kabar.
Pak Mimin berjalan terburu-buru menghampiri Alfan. Sebuah bisikan mendarat di telinga Alfan. Pak Mimin memberitahukan bahwa istri majikannya akan segera melahirkan. "Apa Dinka akan melahirkan pak" Alfan berkata dengan keras. "Iya tuan" sahut pak Mimin lirih. "Namun di sana ada tuan Armand, saya pikir nyonya Siti jangan di bawa kesana dulu tuan" ungkap pak Mimin.
Rama ikut khawatir karena anak tiri kesayangannya dan menantu kesayangan belum juga ada kabar. Dia mendengar percakapan Alfan dan pak Mimin. Melihat wajah Alfan yang sedang panik, Rama pun bertanya "nak Alfan apa yang terjadi?".
Alfan dan pak Mimin menoleh secara bersamaan. "Ah itu anu..." Alfan melirik pada pak Mimin. Karena merasa tidak enak Alfan menyembunyikan tentang kabar kelahiran Dinka. Karena Armand sudah berada di rumah sakit terlebih dulu. Alfan dan pak Mimin tidak mau ada keributan lagi antara Siti dan Armand. Jadi belum memberitahukan pada keluarga Rama.
"Ada apa? Kenapa sepertinya ada yang di sembunyikan?" Rama terus menerus bertanya agar Alfan mau berbicara. "Maaf tuan ini menyangkut nona muda" jawab pak Mimin. Alfan hanya bisa diam. Dia menunggu pak Mimin untuk memberitahukannya. "Nona Dinka sudah berada di rumah sakit sepertinya mau melahirkan. Tapi di sana ada tuan Armand" jelas pak Mimin. "Apa? Dinka mau melahirkan?" Rama sontak mendekat pada pak Mimin. "Dimana rumah sakitnya?" tanya Rama lagi.
"Bila anda ingin datang sebaiknya menunggu tuan Armand tidak ada di rumah sakit terlebih dulu, saya takut kejadian seperti dulu terulang bila nyonya Siti dan tuan Armand bertemu. Saya hanya tidak mau kejadian itu terulang kembali" jelas pak Mimin. "Baiklah saya akan menunggu. Apa nak Melvin sudah bersama anakku?" tanya Rama. "Iya tuan" sahut pak Mimin. Alfan sedari tadi hanya diam melihat kearah pak Mimin dan Rama.
"Baiklah aku akan kesana dulu, bapak tunggu kabar dari ku. Setelah om Armand tidak ada aku akan menjemput bapak sama ibu untuk pergi kerumah sakit" timpal Alfan. Rama manggut-manggut menyetujuinya.
__ADS_1
Alfan bersiap untuk pergi bersama pak Mimin. Tepat dengan kepulangan Reta dari rumah sakit juga. "Kak Alfan sudah dapat kabar kalau kakak ipar mau melahirkan" Reta segera menghampiri kakaknya. "Kamu kenapa baru pulang? Bagaimana keadaannya disana?" tanya Alfan. "Aku belum tau kak,tadi siang aku menyusul Bobby kerumah sakit mamahnya juga masuk rumah sakit. Eh gak berselang lama kakak ipar juga di bawa kesana" Reta menjelaskan rinciannya agar tidak di marahi oleh Alfan. "Jadi kamu nemenin Bobby di rumah sakit?" tanya Alfan.
"Iya kak, aku sama Bobby dan kak Melvin barengan sama om Armand nemenin kakak ipar" sahut Reta.
"Bukannya mereka sedang berselisih paham?" tanya Alfan lagi. "Aduh kak itu gak penting. Om Armand langsung pergi ke ruang persalinan setelah mendengar kabar bahwa kakak ipar akan segera melahirkan. Istrinya aja di tinggal gitu aja yang lagi sakit" jelas Reta.
"Ya sudah kakak mau kesana dengan pak Mimin" Alfan berjalan kearah luar. "Hati-hati kak" Reta berkata sedikit keras. Rama pun ikut mengantar sampai depan rumah. "Lah bapak belum tidur?" tanya Reta. "Bagaimana bapak bisa tidur cah ayu, bapak lagi khawatir dengan kondisi anak bapak" jawab Rama. "Bapak tenang saja, tadi sewaktu aku mau pulang kakak ipar belum melahirkan. Kita berdoa saja semoga persalinannya lancar ya pak" sahut Reta.
Dirumah sakit Melvin selalu setia mendampingi sang istri. Melihat Dinka kesakitan menahan kontraksi, membuat Melvin meneteskan keringat bercampur airmata. Armand menunggu diluar ruangan. Tangan Melvin tak ada hentinya mengusap lembut pinggang Dinka yang sedari tadi mengeluh sakit. Tangan yang satunya memegangi perut sang istri.
"Mel...vin" Dinka sedari tadi merintih dan terus memanggil nama suaminya. Dengan suara yang parau dan terdengar kesakitan. "Sayang banyakin istighfar ya, kamu pasti bisa. Kamu berjuang ya semangat" jawab Melvin dengan nada yang lembut dan halus. Sang dokter datang untuk mengecek dan memeriksa Dinka.
"Pembukaannya sudah mendekati sempurna, ayo sang ibu siapkan tenaga untuk mengejan ya" ucap dokter Mirna. Mendengar hal tersebut semakin membuat jantung Melvin berdegub kencang tidak karuan. "Suaminya memberi semangat ya untuk sang istri" saran dokter Mirna. "Siap dok" jawab Melvin. Keringat bercucuran dari kening Melvin. Membasahi seluruh wajah tampannya. Semakin terlihat cool wajah tampan Melvin.
__ADS_1
"Sayang ayo semangat ya demi anak kita, kamu pasti bisa" ucap Melvin memberikan semangat pada istrinya. Dokter Mirna didampingi oleh asisten dokter dan perawat dua orang.
"Ayo sudah waktunya mengejan" ucap dokter Mirna. Dinka mencoba sekuat tenaga mengejan. Namun kepala bayi masih belum terlihat. "Ayo bu semangat, ambil nafas dalam-dalam lalu mengejanlah sekuat mungkin" dokter Mirna memberi arahan pada Dinka. Melvin memegang erat tangan Dinka. Sekuat tenaga Dinka mengejan untuk terakhir kalinya. Melvin yang melihatnya pun ikut mengejan. Karena reflek melihat sang istri.
Dan sebuah kehidupan baru telah datang. Lahirlah seorang bayi mungil laki-laki. "Wah sangat tampan persis seperti ayahnya" dokter Mirna mengemban bayi dan menyerahkan pada Dinka. Diletakkannya di dada Dinka. "Dipeluk dulu ya, untuk stimulasi asi dan menjalin ikatan batin antara bayi dan ibunya menjadi kuat" ungkap sang dokter.
Seketika Melvin menangis sejadi-jadinya. Dia tersenyum lega setelah melihat buah hatinya telah lahir. Bruuukk terdengar suara orang jatuh. Para perawat yang sedang melakukan pekerjaannya masing-masing melihat ke sumber suara. Dan sang dokter pun ikut melihatnya. Melvin jatuh pingsan karena syok melihat banyak darah yang keluar dari tubuh sang istri. "Astaga, cepat panggil yang lain untuk mengangkat pak Melvin" perintah dokter Mirna.
Kebetulan yang berjaga pada malam itu hanya perawat dan dokter wanita. Hanya ada satu dokter pria itupun sedang menangani pasien yang lain. "Maaf dok yang berjaga semua wanita, apa tidak sebaiknya minta tolong yang lain saja" sahut si perawat. "Seadanya saja" sahut dokter Mirna.
Melvin sengaja menyewa beberapa bagian di rumah sakit tersebut agar tidak terdapat banyak orang. Dan itu dapat mengganggu persalinan sang istri. Perawat dan dokter pun memang sengaja menyewa yang wanita namun disarankan oleh dokter Mirna agar ada dokter laki-laki satu orang. Itu pun dokter ahli bedah. Untuk berjaga-jaga apabila nantinya Dinka tidak bisa melahirkan secara normal.
Dinka tersenyum tipis mendengar Melvin pingsan. Baginya itu sebuah hiburan tersendiri. Si bayi segera diambil lagi oleh dokter Mirna untuk dibersihkan. "Melvin pingsan dok?" tanya Dinka dengan suara yang masih lemas. "Iya bu suaminya pingsan. Mungkin karena tidak tahan lihat darah yang banyak" jawab sang dokter.
__ADS_1
Dari luar ruangan Armand melihat Melvin pingsan. Dia menawarkan diri untuk ikut mengangkat menantunya. Ada sekitar 5 orang yang mengangkat Melvin namun tidak ada yang kuat. Tapi Armand tidak kehabisan akal. Dan menyeret tubuh atletis Melvin secara perlahan. Membawanya keluar dari ruang persalinan.
"Duh menyusahkan saja anak ini" gerutu Armand sambil mengusap keringatnya. Ada satpam yang lewat di depan ruang persalinan dan ikut menawarkan mengangkat tubuh Melvin.