
Melvin belum selesai dengan ciumannya. Tapi Dinka sudah melepaskan tautan bibirnya dari bibir Melvin. Sejenak Dinka menunduk untuk menghapus air matanya. Dan plakkk suara tamparan terdengar memenuhi seisi kamar mandi. Pipi Melvin memerah membentuk sebuah tangan. "Cukup vin" ucap Dinka dengan nada halus dan tersakiti terdengar menyayat hati. Airmata Dinka kembali jatuh membasahi pipi mulusnya.
Melvin tidak berkutik ataupun bergerak dari tempatnya berdiri. Airmata yang semula hanya setetes kini turun begitu deras. Bagaikan air hujan yang datang keroyokan. Dia benar-benar merasa bingung dan terpuruk atas apa yang di lakukan Dinka. Sudah tidak tau apa yang harus dilakukannya untuk meminta maaf pada sang istri.
Dinka memakai bajunya dan pergi ke halaman belakang rumah untuk menghindari Melvin. Saat melihat mobil Melvin telah pergi baru dirinya kembali ke dalam kamar.
Di balkon atas Betty melihat Melvin pergi dengan wajah yang suram. Namun dirinya tidak bisa berbuat apapun karena itu bukan urusannya. "Kasihan Melvin" ucapnya sendiri.
Melvin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Cuaca pun sedang mendung dan akan turun hujan. Kilat dan petir saling menyapa. Melvin memberhentikan mobilnya di dekat jembatan. Otaknya sudah kosong dan tidak bisa berpikir jernih.
Langkahnya turun dari mobil dan membuang kunci mobil ke sembarang tempat. Mobil sport limited edition yang merupakan hadiah dari ayahnya itu dibiarkan begitu saja oleh Melvin. Kakinya berlutut di atas jembatan dan berteriak. "Mengapa begini" teriak Melvin dengan lantang dan jelas. Hujan pun turun dengan derasnya. Tubuh Melvin sudah basah kuyup tertimpa air hujan.
Alfan sudah berada di rumah sedari tadi. "Sepertinya akan turun hujan" Alfan memandang ke langit yang mendung. Perasaannya merasa tidak enak dan mendadak memikirkan sang adik. Sejak pagi Melvin tidak menghubunginya. Langkah kaki Alfan menuju ke lantai bawah untuk menanyakan pada pak Mimin tentang keberadaan Melvin.
"Pak Mimin Melvin pergi kemana?" tanya Alfan. "Tuan muda pergi ke rumah sakit sejak pagi tuan dan belum kembali sampai sore ini" jawab pak Mimin yang sedang bersantai sambil menyeruput kopi. "Wah kopinya enak tuh" Alfan beralih melihat kearah secangkir kopi di meja. "Apa tuan muda mau, biar saya buatkan" sahut pak Mimin. "Boleh pak" pak Mimin berdiri berjalan menuju dapur.
__ADS_1
Alfan memandangi hujan yang turun begitu derasnya. Dia pun segera menelpon ponsel milik sang adik. Tapi tak kunjung ada jawaban dari Melvin. "Angkat dong vin jangan buat kakak cemas" Alfan berbicara sendiri. Wajah Alfan sudah mulai panik karena ponsel sang adik yang tadinya tersambung kini tidak aktif.
Melvin memang membuang ponselnya ke sungai yang berada di bawahnya. Air sungai yang mengalir begitu deras. "Untuk apa aku hidup kalau istriku saja tidak percaya lagi padaku" ucap Melvin pada diri sendiri. Semua bayangan ketika dirinya menyakiti sang istri kembali muncul di pikirannya. Semua diputar satu persatu didalam otaknya. Itu membuat Melvin menjadi semakin merasa bersalah pada Dinka. Ketika wajah sang istri yang terlihat begitu memelas saat disiksa pun ikut terbayang.
Dulu memang tidak pernah terpikirkan oleh Melvin bahwa dirinya bisa jatuh cinta yang amat dalam pada Dinka seperti sekarang ini.
"Aku sudah keterlaluan padanya" Melvin memukul kepalanya dengan kedua tangannya sendiri karena merasa bersalah. "Bodoh..bodoh..bodoh" teriak Melvin. Tiba-tiba pandangannya buram melihat kesekitar. Tubuhnya jatuh ke aspal dan pingsan. Kebetulan ada sebuah mobil yang melintas dan melihat Melvin. Dengan segera orang yang ada didalam mobil tersebut keluar untuk menolongnya. Terlihat wanita cantik yang mengenakan dress berwarna merah.
Dirumah Alfan menunggu sang adik sampai malam tiba. Namun Melvin belum juga pulang kerumah. "Apa yang terjadi kenapa Melvin belum pulang juga" Alfan mondar mandir tidak karuan.
"Bagaimana pak apa sudah menghubungi bi Nah?" tanya Alfan. "Tuan muda kata istri saya dia sedang berada dirumah tuan Armand bersama nona, tapi disana tidak ada tuan Melvin" ungkap pak Mimin.
Alfan merasa aneh kenapa tiba-tiba Dinka pulang kerumah ayahnya kandungnya. Padahal setau dia Dinka dan Armand tidak berhubungan dengan baik. "Baiklah aku akan kerumah om Armand" Alfan segera pergi mengambil kunci mobil.
Di lain tempat Bobby mengajak Reta untuk mampir terlebih dulu kerumahnya sebelum mengantarkan kekasihnya itu pulang. Kebetulan mereka kembali saat makan malam tiba. Reta dan Bobby terkejut melihat wanita yang berada didepannya. Reta penasaran mengapa Dinka bisa berada dirumah Bobby. "Kakak ipar" panggil Reta. Bobby pun tak kalah penasarannya. "Kakak ipar kenapa bisa disini mah?" tanya Bobby pada mamahnya.
__ADS_1
"Kakak ipar dari mananya kamu dan dia itu lebih tua kamu harusnya dia itu menjadi adikmu dan kamu memanggil dia itu dengan namanya" ungkap Betty. "Tapi sebentar lagikan aku akan menikah dengan Reta jadi aku harus memanggil kakak ipar juga seperti Reta" gerutu Bobby. Perutnya di cubit oleh sang mamah. "Aduh mah sakit" Bobby mengusap perutnya.
"Makanya kalau ngomong jangan asal cemplong" gerutu Betty mamah Bobby. Reta terdiam menunggu jawaban Dinka. "Iya tadi bapak jemput aku kerumah sakit jadi aku memutuskan untuk tinggal di sini sementara waktu" jawab Dinka. Tatapan mata Reta mencari keberadaan sang kakak angkatnya. "Terus kak Melvin dimana?" tanya Reta lagi. Kali ini Dinka tidak menjawabnya.
'Apa kakak ipar sengaja tinggal disini untuk menghindari kak Melvin' gumam Reta dalam hati.
"Kalian sudah pulang cepat duduk dan kita makan malam bersama" ucap Armand. Kini keluarganya terlihat sangat lengkap dengan kehadiran Dinka di tengah-tangah mereka. Semua duduk di kursi masing-masing. Vera adik dari dari Bobby melihat takjub pada Dinka yang cantik. "Kak Dinka ini anaknya papah sama istrinya yang terdahulu ya?" tanya Vera penasaran. Seketika semua orang yang berada disana diam sejenak. Armand berdehem agar tidak ada yang berbicara saat makan.
Mendengar sang ayah berdehem membuat Vera tak melanjutkan perkataannya. "Iya" jawab Dinka mencoba tersenyum manis.
Suara mobil terdengar masuk kehalaman rumah Armand. Tidak lama kemudian pelayan memberitahukan pada Armand bahwa ada tamu yang ingin bertemu dengannya. Armand pun berjalan menuju ruang tamu untuk menemui tamunya.
"Nak Alfan" sapa Armand. "Om Armand apa Melvin ada disini?" tanya Alfan langsung to the point. "Melvin? Dia tidak disini hanya ada Dinka dan bi Nah" jawab Armand. Alfan bertambah khawatir pada sang adik.
"Memangnya dia belum pulang kerumah?" tanya Armand. "Belum om" Alfan menggelengkan kepala. Bobby ikut ke ruang tamu di buntuti oleh Reta. "Kak Alfan, memangnya kak Melvin pergi kemana?" tanya Reta ikut panik. "Kakak juga belum tau, sudah kakak hubungi namun ponselnya gak aktif" jawab Alfan.
__ADS_1
"Sebaiknya kita cari kak Melvin saja" saran Bobby. "Baru pernah Melvin tidak ada kabar seharian ini, ponselnya juga tidak aktif" lanjut Alfan.
Mereka bertiga berinisiatif mencari Melvin bersama.