Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
159. Kemesraan suami istri


__ADS_3

Alfan mencubit lengan sang adik karena sudah mengejeknya. Bukan mengejek lebih tepatnya meledek. "Kakak juga masih normal" ungkap Alfan.


Pandangan kedua lelaki tampan itu kompak beralih pada sang adik. "Kenapa sama baju mu itu dek?" tanya Alfan. "Disiram sama temen sekantor kak, mereka kira hari ini aku ulang tahun, jadi basah kuyup semua" keluh Reta. Melvin tertawa kecil sambil melihat sang adik. "Kok bisa salah gitu sih" Melvin melanjutkan tertawanya. "Kak Melvin malah ketawa bukannya prihatin sama adik sendiri lagi tersiksa" gerutu Reta sembari memasang wajah memelas.


"Terus Bobby mana? Gak antar kamu pulang?" tanya Alfan. "Dia lebih parah kak karena mau menolongku dia yang kena tepung sama telor pokoknya udah kaya adonan roti deh. Jadi aku suruh pulang langsung kerumahnya" Reta berjalan menghampiri kedua kakaknya. "Eh..eh ngapain malah mendekat" gerutu Melvin.


"Jadi yang menghalangi itu Bobby" ucap Alfan. Reta mengangguk dengan cepat. "Ya udah mandi sana, baju udah basah gitu ntar sakit lagi" saran Melvin. Kini giliran Reta yang mengendus bau tubuh Melvin. "Kak Melvin parfumnya menyengat banget sih" gerutu Reta.


Melvin sedikit menjauh. "Apaan sih enggak kok" ucap Melvin. "Sana mandi" timpal Alfan dengan suara yang sedikit keras. Seketika Reta langsung berjalan menuju kamarnya.


Melihat sang istri membawa salad buah membuat Melvin teringat dengan tujuannya. "Lah ngapain coba aku duduk disini, bukannya aku mau cari Dinka" Melvin berbicara sendiri. "Ya kamu yang ngapain tadi duduk disini" ucap Alfan.


"Kak Alfan sih ngajakin ngobrol" gerutu Melvin. "Siapa juga yang ngajak kamu ngobrol" Alfan membela diri sendiri. "Ada yang mau salad buah?" tanya Dinka pada kedua lelaki yang tengah duduk. "Itu salad kok gak ada kejunya sayang?" tanya Melvin.

__ADS_1


"Iya karena aku gak suka keju jadi cuma pake coklat yang di cairkan sama susu kental manis. Ini juga udah enak kok" jawab Dinka. "Itu namanya bukan salad sayang" sahut Melvin. "Biarin terserah aku mau namain makanan ini apa" gerutu Dinka. Alfan sedari tadi melihat Melvin dan Dinka secara bergilir. Ketimbang mendengar ocehan dari pasangan suami istri itu lebih baik dirinya menghindar.


Alfan mengambil sendok yang ada di mangkok berisi salad milik Dinka. Dan mencicipinya dengan cepat. "Begini juga enak" Alfan mengembalikan sendok ketempat semula dan berjalan pergi. "Kak Alfan kenapa malah ikut makan" keluh Dinka sembari melihat pada kakak iparnya. Giliran Melvin yang ikut merebut salad buah ditangan sang istri dan meletakkannya di meja. "Ayo sayang kita lanjutkan kemesraan yang tadi sempat tertunda" Melvin menggendong sang istri ala bride style. Langkahnya menuju ke dalam kamar. "Kamu sedikit berat ya sayang" ucap Melvin. "Siapa suruh menggendongku" Dinka mengalungkan tangannya pada Melvin. "Mungkin karena lagi hamil jadi berat" ledek Melvin.


Melvin meletakkan sang istri di ranjang empuknya dengan lembut. Ibu jarinya mengelus bibir ranum Dinka. Sebuah kecupan mendarat di bibir Dinka. "Aku mau mandi dulu" ucapan Dinka membuat Melvin menghela nafas. "Kenapa dari tadi engga sayang, aku kan sudah semangat banget nih" sahut Melvin.


"Sabar dong belum juga makan malam, aku laper banget, males kalau melakukannya saat sedang lapar. Bisa-bisa perutku bunyi sewaktu kita sedang melakukannya" jelas Dinka. "Aku gak mau tau" gerutu Melvin yang tidak sabaran.


Dinka tidak menggubris sang suami dan melangkah menuju kamar mandi. Melvin yang sudah tak kuasa menahan birahinya pun mengikuti sang istri ke dalam kamar mandi. "Kamu mau ngapain" Dinka mencegahnya agar tidak masuk. "Ikut mandi lagi lah, masa mau karate di kamar mandi" keluh Melvin.


Dinka yang mendengarnya pun langsung membuka pintunya kembali. "Mana sayang, mana yang keluar darah" Dinka panik. Tangannya dengan cepat membolak-balikan wajah suaminya. "Ini" tunjuk Melvin pada hidungnya yang baik-baik saja. "Mana darahnya, katanya mimisan" keluh Dinka.


Melvin pun langsung mencium bibir Dinka dengan buas dan menuntut. Semakin dalam ciumannya membuat Dinka semakin mabuk kepayang. Tanpa sadar dirinya merespon ciuman sang suami. Merasa Dinka menanggapi ciumannya, Melvin segera menggendong sang istri. Dan melanjutkannya di atas ranjang empuknya.

__ADS_1


Melvin melepaskan tautan bibirnya di bibir sang istri untuk mengambil nafas. Begitu juga dengan Dinka. Kini ciuman Melvin beralih pada leher jenjang nan mulus milik Dinka.


Satu persatu pakaian yang dipakai Dinka di lepas oleh Melvin. Tangannya menarik selimut untuk menutupi tubuh sang istri. Melvin melancarkan aksinya dengan lembut dan berhati-hati mengingat ada janin di perut sang istri. Mereka melakukannya cukup lama. Dinka yang tengah hamil besar merasa lelah, namun berbeda dengan Melvin yang masih bersemangat berada di atas tubuh istrinya.


"Vin cukup, sakit" keluh Dinka dengan suara yang lirih karena ngos-ngosan. "Sebentar sayang punya ku belum keluar" sahut Melvin. "Udah" Dinka pun menangis karena sudah tidak bisa menahan rasa yang cukup perih di area bagian bawah tubuhnya. "Sebentar sayang" Melvin masih belum mau menghentikan gerakannya. Dinka menutup mulutnya dengan kedua tangan agar desahannya tidak semakin keras.


Melvin terus saja menghujamkan kejantanannya di **** ***** sang istri dengan cepat. Dinka terus menahan rasa perih karena sudah cukup lama tidak di sentuh oleh suaminya.


Terdengar suara ketukan pintu. "Siapa?" tanya Melvin. "Maaf tuan muda, makan malamnya sudah siap" ucap bi Nah dari luar pintu. "Iya" jawab Melvin dengan singkat. "Tuan Alfan dan non Reta sudah menunggu tuan dan nona sedari tadi" kata bi Nah.


Melvin tidak merespon lagi ucapan bi Nah karena larut dengan tubuh sang istri. Akhirnya Melvin mengeluarkannya dengan cepat menurutnya. Sedangkan bagi Dinka itu sangatlah lama. "Lama banget sih keluarnya punya kamu" keluh Dinka. "Maaf sayang, sengaja" sahut Melvin cengengesan. Dinka memukul dada bidang sang suami dengan keras. Tapi itu tidak membuat Melvin sakit. "Aww sakit sayang" ledek Melvin berpura-pura. Dinka pun mencubit paha suaminya. "Ahhhh...yang ini baru sakit beneran sayang, sudah cukup" keluh Melvin dengan sedikit teriakan. "Lebih sakit aku dari pada cubitan ini" Dinka menghentikan cubitannya.


"Maaf sayang dan makasih" Melvin mengakhirinya dengan ciuman di kening Dinka. Melvin berguling kesamping Dinka. "Ambilin bajuku" Dinka menunjuk daster yang di pakai tadi. "Langsung makan aja jangan mandi" ucap Melvin sembari mengambil baju istrinya. "Bau sayang, seharian belum mandi" ungkap Dinka.

__ADS_1


"Pantesan ada rasa asinnya" ledek Melvin. "Bodoamat" sahut Dinka.


__ADS_2