
Reta sengaja menginjak kaki Bobby. "Percuma ngasih tau ada jalan pintas kalau ujung-ujungnya gak bisa di lewatin ****" gerutu Reta dengan nada yang ketus. "Coba ingat-ingat lagi dimana kamu menaruh kuncinya" sahut Melvin.
"Aku sudah sangat lama tidak melewati pintu itu kak, terakhir kali kalau gak salah waktu masih SMA deh" jawab Bobby. "Ya sudah kita pulang saja dulu kak, biar kakak ipar menginap di sini dulu untuk sementara" nasehat Reta pada sang kakak. Melvin mengiyakan ucapan sang adik angkatnya itu dan kembali kerumah bersama.
Dirumah, Alfan sudah mondar mandir menunggu Melvin pulang. Melihat mobil Melvin datang Alfan segera berlari menghampiri sang adik. "Bagaimana vin?" tanya Alfan. "Gagal kak" Melvin menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa bisa barengan gitu pulangnya sama Reta?" tanya Alfan. "Biasa" Melvin melirik sang adik. Seketika Alfan langsung menjewer telinga Reta seraya berkata "bagus kamu ya, semenjak magang sama Bobby hobinya kluyuran gak jelas terus jarang pulang kerumah lagi".
Reta mengaduh kesakitan. Padahal tidak sakit sama sekali. "Iya kak ampun, Bobby yang ngajakin duluan. Aku cuma ikut-ikutan aja kak. Lagian aku cuma mampir kerumahnya Bobby kok buat ngajarin adiknya belajar" Reta mengusap telinganya. "Alasan saja" ucap Alfan dengan nada ketus.
"Cepat masuk" perintah Alfan pada Reta. Tapi yang masuk malahan Melvin. Dia menjadi muram karena dipisahkan dengan sang istri. Alfan mengejar adiknya dan menepuk bahunya. "Mau vodka, wisky, atau wine?" tanya Alfan sudah seperti bartender di sebuah cafe. Melvin hanya menengok dengan wajah malasnya. "Kakak gak lihat mataku sudah kaya apa?" Melvin berkata dengan tidak bersemangat. "Bener nih gak mau?" tawaran Alfan pun di tolak oleh Melvin. Namun beberapa menit kemudian di terima juga oleh Melvin. "Kamu ini plin-plan ya" Alfan tersenyum sambil mengacak-acak rambut sang adik.
"Apaan sih kak" Melvin menampis tangan Alfan yang ada di kepalanya. "Sebentar kakak ambilkan di tempat penyimpanan bawah tanah dulu ya" Alfan bergegas pergi. Melvin menuju dapur untuk mengambil dua buah gelas. Kebetulan didapur sedang ada kepala pelayannya. "Tuan muda lapar?" tanya pak Mimin yang mengira Melvin mencari makanan. "Enggak pak, cuma mau ambil gelas" Melvin mengambil gelas di lemari teratas.
__ADS_1
Melihat hal tersebut pak Mimin sudah menduga pasti anak majikannya itu akan meminum alkohol. "Tuan muda apa mau saya temani?" tanya pak Mimin. Melvin hanya tersenyum dan menggeleng. "Sudah sama kak Alfan pak" ucap Melvin sambil berjalan. Langkahnya menuju ke balkon utama di lantai atas. Tempat biasanya dia dan sang kakak menenangkan diri.
"Mana?" tanya Melvin. Alfan menunjukan sebuah botol kaca yang cukup besar. Melvin mendekat dan merebut botol kaca berisi wine yang sudah di fermentasi sangat lama. "Kak ini punya ayah, emang gak dimarahin kalau kita meminumnya" ucap Melvin.
Alfan menggendikan kedua bahunya. Tanpa di aba-aba dia langsung membuka penutupnya dan menuangkan wine kedalam gelasnya. Alfan tersenyum tipis melihat tingkah laku adik angkatnya. "Kamu ini masih sama saja seperti dulu" Alfan mendudukan dirinya.
Pak Mimin ikut bergabung bersama kedua kakak beradik itu. Tapi karena sudah berumur pak Mimin tidak di izinkan ikut meminum alkohol. "Tuan muda minumnya pelan-pelan nanti kesedak" pak Mimin mencoba menasehati Melvin. Tapi Melvin tak menggubrisnya.
"Biarkan saja pak, lagian dia sudah sangat lama tidak melampiaskan semua unek-uneknya yang ada didalam hati. Biarkan semaunya dia saja untuk malam ini" ungkap Alfan. Pak Mimin dengan telaten menemani Alfan dan Melvin. Tapi Alfan minum tidak sampai mabuk. Hanya Melvin yang minun sampai mabuk dan mengigau memanggil nama istrinya.
Pak Mimin sedari tadi menahan tertawanya melihat tingkah konyol Melvin. Mungkin saking bingung dan gundah gulana menjadikan Melvin seperti itu. "Astaga tuan muda" gumam pak Mimin lirih sambil geleng-geleng.
Alfan menuruti sang adik dan ikut bernyanyi walau dia tidak mabuk. "Oh Enzi ku sayang kenapa kau memutuskan untuk berpisah dengan ku" ucap Alfan tidak memakai nada. "Adinka..ohhhhhhh Adinka" sahut Melvin dengan suara yang keras. Mereka bernyanyi tanpa musik. Bila di dengar orang luar kesannya malahan seperti orang gila.
__ADS_1
Bagi Alfan meluapkan segala unek-unek dalam hati itu termasuk penting. Agar hati dan pikiran bisa lega. Selama ini memang banyak masalah yang di pendamnya sendiri. Apalagi ketika sang pujaan hati minta berpisah. Ibarat mendengar suara petir yang menggelegar di siang bolong. "Aku sangat mencintaimu...ohhh Enziku kembalilah" Alfan menarik tangan sang adik. Seperti membayangkan bahwa Melvin adalah Enzi. Begitu pula Melvin yang mengira Alfan adalah Dinka.
Spontan Melvin yang sedang mabuk mencium pipi Alfan. Akan berlanjut pada mulut tapi Alfan sudah menutupi bibir Melvin dengan tangannya. Pak Mimin sudah tak bisa menahan gelak tawanya. Dia tertawa terbahak-bahak sampai keluar air mata.
"Tuan muda sama-sama tidak waras" ucap pak Mimin. Alfan sedikit kesal karena sang adik hampir menciumnya di bibir. Walaupun pipinya sudah terkena ciuman maut dari Melvin tetap saja itu memalukan. "Kakak masih normal vin" gerutu Alfan sambil mengelus secara kasar pipi yang di cium adiknya itu. Melvin melanjutkan bernyanyinya kembali dengan nama Adinka yang selalu diulang-ulang.
Setelah lelah akhirnya Melvin mendudukan pantatnya di kursi dan meletakkan kepalanya di meja. Matanya terpejam, ada sedikit bulir airmata di ujung matanya. Alfan mengira mungkin sang adik sedang menangis di dalam tidurnya.
Alfan dibantu oleh pak Mimin mengangkat tubuh eightpack Melvin. Karena postur tubuh sang adik lebih besar dan lebih tinggi dari Alfan membuatnya kewalahan. Akhirnya Alfan meminta bantuan pengawalnya untuk ikut mengangkat sang adik. "Astaga berat sekali sih kamu vin" keluh Alfan. Yang lainnya juga merasa berat namun hanya bisa diam. Takut Alfan memarahi mereka.
Sampai di dalam kamar Melvin. Alfan melepaskan jaket dan kaos kaki adiknya itu. Melvin kembali terbangun namun setengah sadar. "Sayang jangan tinggalkan aku" Melvin sontak memeluk Alfan yang dikiranya adalah Dinka. Disetiap nada yang di ucapkan Melvin terdengar miris terdapat luka yang dalam. Alfan menenangkan sang adik dengan membalas pelukannya.
Kini Melvin sudah tenang. Tapi seketika sebuah semburan maut dari Melvin membuat Alfan tercengang. Belum juga melepaskan pelukannya tapi sang adik sudah muntah di tubuh Alfan. Alfan mengedipkan matanya secara cepat dan berulang-ulang. Sambil menelan ludahnya sendiri.
__ADS_1
"Vin kamu tega banget sih muntahin kakak" Alfan melepaskan pelukan dari Melvin dan melihat bagian belakang tubuhnya yang penuh minuman alkohol yang di muntahkan oleh Melvin. Kemeja yang berwarna biru muda menjadi sedikit ke ungu-unguan.