Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
Taman hiburan


__ADS_3

Dinka menghampiri kedua temannya didepan kelas. "Hai nona manis" sapa Bobby. Reta mencubit perut Bobby. "Gak usah genit" ucap Reta ketus. Bobby meringis sambil mengelus perutnya. "Dianter sama kak Melvin?" tanya Reta. "Iya" jawab Dinka. Suaranya terdengar tidak bersemangat.


"Ada masalah?" tanya Reta sambil merangkul Dinka. Dinka mengangguk. Mereka masuk kedalam kelas. Bobby ikut merangkul Dinka. Kesempatan mumpung Reta tidak menyadari.


"Tugas yang harus dikumpulkan hari ini hilang" Dinka melirik ke Reta. "Wah hari ini loe bakal dibunuh sama dosen killer itu ka" sahut Reta.


"Emang ada tugas yang harus dikumpulkan hari ini?" tanya Bobby. Reta menyadari tangan Bobby ikut merangkul sang kaka ipar. "Eh tuh tangan turunin gak" Reta melotot pada Bobby.


Bobby tersenyum dan menurunkan tangannya dari Dinka. Dinka duduk diantara Bobby dan Reta. Kabar gembira untuk para mahasiswa karena dosen yang mengajar tidak datang. Yang datang yakni asisten dosen.


Dinka menghela nafas lega karena tugasnya tidak dikumpulkan hari ini juga. Setelah jam kuliah pagi selesai tidak ada jam kuliah lagi. Bobby mengajak mereka ke taman hiburan.


"Eh ketaman hiburan yuks cari segeran" ucap Bobby sambil memainkan alisnya. "Ngapain kaya anak kecil aja" celetuk Reta. Menurut Dinka itu ide yang bagus.


"Ayo aku juga lagi butuh hiburan nih" sahut Dinka antusias. Reta terbengong melihat Dinka.


Tanpa menunggu lama Bobby menarik tangan Dinka dan Reta. "Udah ayo gue jamin loe pasti gak bakal nyesel deh" ujar Bobby menatap Reta.


Mau tidak mau Reta menuruti kemauan Bobby. Kalau Dinka sih dengan senang hati. Mereka menikmati perjalanan. Atap mobil sengaja dibuka oleh Bobby untuk mendapatkan angin.


Rambut panjang Dinka yang digerai berlari kesana kemari. Sesekali Bobby melirik Dinka yang duduk disebelahnya. Rasa tertariknya menjadi rasa suka. Terlihat Dinka seperti gadis yang selama ini dia cari.

__ADS_1


Gadis yang anggun dan apa adanya. Bobby tersenyum sambil menatap Dinka. "Woi nyetir yang bener mata loe pake tuh buat lihat kedepan" Reta sedikit berteriak pada Bobby. Dia tidak terima bila matanya jelalatan melihat Dinka.


Reta tau bahwa Bobby merasa tertarik pada Dinka. Sudah menjadi tugasnya menjaga kaka iparnya dari rayuan para buaya darat. Dinka terbilang wanita yang polos dan gampang ditipu oleh kaum adam. Mungkin termasuk di tipu oleh kakaknya sendiri.


Sampai di parkiran mobil Bobby turun dan membukakan pintu untuk Dinka. Reta meliriknya dengan tajam. Bobby hanya cengengesan. Bobby tau wajah Dinka terlihat gundah gulana dan butuh untuk dihibur.


Bobby menggandeng kedua wanita itu. "Ayo anak-anak jangan sampai pada hilang ya sebab suasana disini cukup ramai" ledek Bobby. "Loe kira gue anak kecil" Reta melepaskan gandengan tangan Bobby.


Dinka tersenyum senang. Dia akan naik banyak wahana di taman hiburan tersebut. Mereka mulai mengantre dibagian komedi putar.


Dinka teringat ketika dia kecil sering menaiki permainan ini ketika ada pasar malam didesanya. Ketika kecil dia pergi bersama ayah kandung dan ibunya. Senyum bahagia menghiasi wajahnya. Karena dulu keluarga kecilnya begitu bahagia. Sebelum sang ayah pergi entah kemana.


Dinka tau bahwa Reta pasti akan menolak. "Baiklah kita naik wahana lain saja" ucap Dinka. "Masa belum mencoba udah takut sih payah loe" ledek Bobby.


"Berisik loe mau gue tonjok" Reta mengangkat tangannya yang sudah terkepal. "Ya udah gue mau kok" Reta pun mengalah.


Antrian cukup panjang. Kini giliran mereka untuk naik. Pengaman sudah dipasang. Belum juga jalan namun Reta sudah menutup matanya. Bobby tertawa terbahak-bahak.


Seusai menaiki roller coaster Reta mencari tempat untuk muntah karena perutnya sangat mual. Bobby menertawakannya tiada henti. Reta memukul lengan Bobby agar berhenti tertawa.


Kini tinggal mengantre naik wahana biang lala. Sampai di ketinggian mereka mengambil beberapa jepretan gambar. Dinka meminta untuk difoto sendiri.

__ADS_1


Cukup untuk mereka naik tiga wahana karena perut sudah keroncongan. Bobby menarik tangan Dinka ke tempat penjual eskrim. Reta mengikuti dari belakang. Dia merebut eskrim yang ada ditangan Bobby padahal dia sendiri sudah mendapat satu.


"Ya eskrim gue tuh" gerutu Bobby. "Loe beli lagi sanah gak cukup kalo cuma makan satu" sahut Reta. Dinka berjalan kesebuah tempat duduk dibawah pohon. Reta mengekori.


"Habis ini kemana? Jalan-jalan kemall mau gak?" tanya Bobby. "Cari makan dulu gue udah laper" pinta Reta.


Mereka keluar dari taman hiburan dan mencari sebuah restoran. Sesampainya direstoran Dinka pergi ke toilet. Bobby dan Reta memesan makanan.


Reta melihat sang kaka ke restoran itu juga. Namun kedatangannya bersama Serin. Reta langsung menghampiri kakaknya yang akan masuk ke ruang pribadi restoran.


"Kak Melvin" Reta memanggil kakanya. Melvin terkejut melihat Reta tapi wajahnya masih terlihat dingin seperti biasa. Melvin menduga sudah pasti ada Dinka juga. "Hai Reta apa kabar?" tanya Serin dengan suara lembutnya.


Mata tajam Reta menatap kearah kakaknya. Seolah sudah memergoki kakaknya berselingkuh. Namun bukan Melvin namanya bila tidak bisa mengelak. "Ngapain kakak makan berdua sama Serin?" tanya Reta curiga.


"Kaka ada ketemu klien disini" jawab Melvin dengan tenangnya. "Ketemu klien tapi kenapa kak Alfan tidak ikut?" tanya Reta. "Sejak kapan kamu ikut campur urusan bisnis kaka?" tanya Melvin balik.


Reta bersungut geram atas pertanyaan kakaknya. Dia tidak melanjutkan lagi mengintrogasinya.


Di lain sisi Bobby sedang kelimpungan mencari teman tomboynya yang tetiba menghilang entah kemana. Reta kembali menghampiri Bobby. "Loe kemana aja?" tanya Bobby. Reta mendudukan dirinya kekursi dan menenggak minuman milik Bobby.


"Itu minuman gue" ucap Bobby. Reta tidak menggubris ucapan Bobby. Dinka melihat ke sekeliling restoran mencari temannya. Dia menghampiri kedua temannya.

__ADS_1


__ADS_2