
Dinka mendorong kopernya yang besar. Dia akan tinggal di rumah utama bersama sang suami dan mertuanya. Setelah mengucap perpisahan pada Reta dia menunggu jemputan dari sopir pribadinya Melvin.
"Maaf nona saya sedikit terlambat" ucap si sopir. Dia menaruh koper milik Dinka dibagasi. Dan kemudian membuka pintu mobil untuk nona mudanya. "Silahkan nona".
Disepanjang jalan Dinka kembali merenung. Pandangan matanya melihat kearah jalan. Sopir pribadi Melvin melihat raut wajah Dinka yang terlihat sedih.
"Non sedih ya karena tidak tinggal diasrama lagi?" tanya pak Iwan yang merupakan sopir pribadi Melvin. "Bukan begitu pak hanya saja... " ucap Dinka tidak meneruskan.
"Hanya saja apa non?" tanya pak Iwan lagi. "Hanya saja tidak bisa membeli makanan yang enak-enak pak disekitar asrama banyak penjual keliling yang menjual berbagai makanan lezat dan murah pastinya" Dinka menjelaskan.
Pak Iwan geleng-geleng kepala mendengar perkataan Dinka yang seperti anak kecil yang suka jajan.
Sampailah dirumah megah keluarga Tama. Jarak antara gerbang utama dengan rumah cukup jauh. 'Wah kalo pulang kuliah jalan kaki bisa gempor nih kaki' gumam Dinka dalam hati. Dia melihat ke sekeliling taman banyak pohon berjajar rapih dan bunga yang tumbuh.
Rumah dengan lantai bertingkat lima. Terdiri dari tiga bangunan yang menjadi satu. "Wah" Dinka dibuat takjub dengan rumah mewah milik mertuanya. Di sepanjang jalan menuju ruang keluarga Dinka disuguhkan dengan berbagai macam lukisan di dinding.
Banyak pengawal yang hilir mudik kesana kemari. Dinka sebenarnya agak takut melihat tampang yang sangar dan berbadan besar itu.
Rumah tersebut sangat besar baginya bagaikan istana. Kepala pelayan dirumah tersebut ada dua yakni pria dan wanita. Kepala pelayan wanita mengantarkan Dinka menuju kamar Melvin.
Pelayan tersebut membuka kamarnya Melvin. Dan menaruh koper milik Dinka didalam. "Saya akan mempersiapkan air hangat untuk mandi nona" ucap sang pelayan. Dinka melihat sekeliling kamar. Terdapat banyak pajangan robot dan ada sofa didalam. "Jadi kamar Melvin seperti ini" ucap Dinka lirih.
__ADS_1
Dinka berjalan ke ranjang yang besar dan mencoba duduk diatasnya. Kelihatan sangat norak sekali. Tapi siapa yang berani mengatakan hal tersebut padanya. Kepala pelayan melihat tingkah aneh Dinka yang sedang melompat-lompat diatas ranjang itu.
Dinka langsung turun kebawah setelah dilihat oleh pelayannya. Dia tersenyum cengengesan. "Air sudah siap nona silahkan mandi" ucap sang pelayan.
"Bagaimana kalau mandinya nanti aja mba, saya mau jalan-jalan melihat keliling rumah ini" ucapnya. "Anda bisa memanggil saya bi Nah" jelas sang kepala pelayan.
"Baiklah bi Nah" Dinka tersenyum. "Sebentar lagi akan ada pelayan yang memang ditugaskan untuk melayani nona. Sebelum itu saya pamit untuk undur diri" jelas bi Nah.
"Silahkan anda beristirahat terlebih dahulu sebelum pelayan datang nona" imbuh bi Nah.
Dinka melihat-lihat kembali kesekeliling kamar. Melihat foto yang dipajang. "Ini pasti fotonya Melvin waktu kecil" Dinka tersenyum dan mengambil bingkai foto.
Dia juga mengambil salah satu robot yang dipajang dikamar itu. "Apakah si raja es itu sangat suka mengoleksi robot seperti ini" ucapnya sendiri. Dinka tidak sengaja menjatuhkan robot milik suaminya.
Dua pelayan yang bertugas mengurus Dinka mengetok pintu kamar. Dinka kemudian membukanya. Dia menguap lebar didepan dua pelayannya itu. Dinka terkaget melihat dua orang dengan wajah yang sama persis. "Kalian kembar?" tanya Dinka. "Iya nona" jawab mereka kompak. Dinka mengajak dua pelayan tersebut berkeliling disekitar taman rumah.
+++
Melvin pulang kerumahnya. Dia disambut oleh pak Mimin yang merupakan kepala pelayan juga. Dia suami dari bi Nah. Mereka berdua sudah sangat lama bekerja pada keluarga Tama. Terdapat beberapa pelayan yang mengurus semua pekerjaan dirumah tersebut.
"Hari ini tuan besar sudah memindahkan nyonya kerumah sakit biasa tuan" jelas pak Mimin. "Nona muda juga sudah datang tadi pagi, sekarang sedang berjalan-jalan di taman depan rumah" imbuhnya.
__ADS_1
Melvin mengangguk. Dia masuk kedalam kamar mandi untuk berendam air hangat. Melepaskan rasa lelahnya setelah seharian dikantor. Pekerjaannya menjadi dua kali lipat bila sang ayah menunggu bundanya dirumah sakit.
Malam ini akan menjadi gilirannya berjaga dengan ayahnya. Bergantian dengan Alfan.
Dinka kembali dari taman. Dia disuruh langsung masuk kedalam kamar Melvin. Dinka membuka pintu kamar melihat Melvin tidak ada didalam.
Dinka mengganti bajunya dikamar karena bajunya sedikit kotor. Melvin keluar dari kamar mandi mendapati Dinka tanpa mengenakan pakaian.
"Aaaaaaaahhh" Dinka kaget dan segera menarik selimut. "Kamu kapan datang" tanya Dinka yang sangat malu.
"Sudah pernah lihat dan merasakannya kenapa ditutupi segala" ucap Melvin dengan santainya. Dia berjalan keruangan sebelah kamar untuk memakai baju.
"Malam ini aku akan jaga bunda dirumah sakit" ucap Melvin. "Aku ingin pergi melihat bunda" ucap Dinka.
Melvin mengemudikan mobil mewahnya yang lain. Karena sangat ribet bila membawa mobil sport kerumah sakit.
Reta menghubungi ponsel Melvin setelah tau mereka akan pergi kerumah sakit.
"Kak jemput" ucap Reta dari seberang telpon.
"Iya" ucap Melvin.
__ADS_1
Tiba didepan asrama Reta langsung naik kedalam mobil kakaknya. Tidak lupa dia berpelukan dengan kakak iparnya. Padahal baru tadi pagi Dinka pindah namun Reta sudah merasakan kesepian.
Sampailah mereka dirumah sakit milik keluarga Tama. Banyak memang bisnis milik keluarga itu.