Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
115. Hampir saja


__ADS_3

Sikembar bernafas lega karena mereka cepat tanggap. "Kalau tadi yang ditabrak non pasti kita yang bakal disalahin sama tuan Melvin" keluh Arini. "Iya non" sahut Alini. Kini mereka naik taksi menuju ke perusahaan Melvin. Mereka duduk bertiga di jok belakang. Posisi Dinka berada ditengah. Penjagaan ketat dilakukan oleh sikembar.


"Kayanya aku merasa gak asing deh dengan wanita yang membawa mobil tadi" ungkap Dinka. Sontak sikembar langsung menatap Dinka. "Apa non ingat wajah wanita itu?" tanya Alini. Dinka mengangguk sambil berkata "ingat sih tapi gak terlalu jelas".


Sikembar masih menunggu ucapan Dinka. Terlihat raut wajah si kembar yang masih sedikit syok. "Sudah lah yang penting aku kan gak papa sekarang" Dinka menampakan barisan giginya.


Akhirnya mereka sampai juga ditempat tujuan. Dinka berjalan lebih dulu. Namun sikembar mencoba mensejajarkan langkahnya dan memegangi tangan Dinka. "Kembar kenapa juga kalian menuntun ku" gerutu Dinka sambil melepaskan tangannya. "Kita hanya mau..." ucapan Alini terpotong oleh Dinka. "Aku bisa jalan sendiri kalian gak perlu menuntun ku" timpal Dinka.


Dinka kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam gedung perusahaan. Di ikuti oleh pelayannya dari belakang. Terlihat Melvin keluar dari pintu lift dan berjalan bersama beberapa orang. Mungkin itu klien dari suaminya. Arya juga terlihat berbincang bersama dengan yang lain.


Mata Melvin berbinar melihat sang istri berada dikantornya. Bibirnya tersenyum sembari melihat Dinka. Setelah mengantar kliennya di depan lobby Melvin langsung menghampiri Dinka. "Wah sayang kamu mau buat kejutan untukku" ucap Melvin.


Seperti biasa tangannya langsung meraih pinggang Dinka. Tanpa rasa malu sedikitpun padahal kondisinya berada di kantor. Banyak pasang mata yang melihat kemesraan bos mereka. Itu membuat Dinka risih. "Lepas vin" ucap Dinka lirih. Tangannya mencoba melepaskan tangan Melvin.

__ADS_1


Melvin sama sekali tidak peduli terhadap orang-orang disekitar yang sedang melihatnya. Arya pun hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya itu. "Kamu datang" Arya mendekati sang anak dan menantunya. "Iya nih yah mau nganterin ponselnya mas Melvin" sapa Dinka sembari tersenyum.


Melvin mengajak sang istri ke ruang kerjanya. Sikembar disuruh pulang terlebih dulu dan membiarkan Dinka tetap berada di kantor. Ditutupnya tirai dan pintu rapat-rapat. "Bila ada keperluan temui saya nanti siang, saya tidak bisa diganggu dulu" jelas Melvin pada sekretarisnya. "Baik pak" jawab Silma.


Silma mengeluh karena Enzi belum juga berangkat kerja. Itu membuat pekerjaannya menjadi dua kali lipat. Biasa Enzi yang mengerjakan hampir semua berkas namun kini harus dikerjakan oleh Silma. Terkadang rapat pun Enzi yang hadir. Dan sekedar menulis notulen pun dilakukan oleh Enzi. Silma hanya bersantai ria di ruang sekretaris.


Didalam ruang kerja Melvin membujuk rayu sang istri agar mau bermesraan. Dinka didudukan disofa. Tangan kiri Melvin masuk kedalam baju dress milik sang istri. Dinka berusaha menghalangi namun satu tangannya Melvin sudah cukup bisa memegangi kedua tangan Dinka.


"Vin kamu ini mau apasih" gerutu Dinka. Melvin tidak merespon ucapan istrinya. Bibirnya mendekati bibir sang istri. Dengan cepat Dinka memalingkan wajahnya. Tangan Melvin yang berada didalam baju pun beralih memegang dagu Dinka dan mencium bibirnya. Dilepaskan lah pegangan tangan Dinka. Melvin memegang ceruk leher Dinka agar ciumannya bertambah rekat. Dinka mau tidak mau menuruti suaminya.


Melvin melepaskan ciumannya dan tersenyum sambil melihat sang istri. "Ambil nafas dulu sayang" goda Melvin. Mata Dinka masih tertutup. Wajah mereka sangat dekat hanya ada jarak sedikit saja.


Dinka membuka matanya dan menarik nafas dalam-dalam. Saat itulah Melvin memulai aksinya lagi. Namun kali ini mereka tidak sampai berperang. Karena sudah dirasa cukup pagi hari tadi.

__ADS_1


"Kak Alfan telpon tapi pake ponselnya Bobby" ucap Dinka. Melvin mengecek panggilan yang masuk dan keluar. Ada juga beberapa panggilan tidak terjawab dari yang lain. "Aku nyuruh Bobby untuk menemui kak Alfan, kalau aku yang datang sendiri itu tidak mungkin. Pasti ayah nyuruh anak buahnya buat ngawasin aku" sahut Melvin.


"Kenapa ayah marah sekali sama kak Alfan?" tanya Dinka. "Ayah kalau kemauannya tidak dituruti ya begitulah. Apalagi kakak belum pernah sampai sebandel ini" jelas Melvin.


Dengan begitu Dinka jadi tau sifat asli sang ayah mertua yang sangat dan sungguh keras kepala. Melvin juga sama saja seperti sang ayah. Dinka mengelus perutnya sambil berucap "semoga saja kamu gak kaya papah mu ya de jangan keras kepala".


Melvin menoleh pada sang istri. "Aku gak keras kepala kok sayang. Siapa juga yang bilang aku keras kepala, gak ada kan" Melvin protes karena tidak terima. "Kata bunda sifat kamu sama persis kaya ayah, iya sih emang bener. Kamu juga orangnya kasar" Dinka menjelaskan sambil bersungut.


"Kapan aku kasar sama kamu? jangan bilang waktu awal kita nikah ya" sahut Melvin. "Nah tuh kamu tau" timpal Dinka dengan cepat. Melvin memegang pipi Dinka yang chubby. "Sayang itu kan waktu dulu emang aku belum cinta sama kamu, dan semenjak aku cinta sama kamu kan aku gak pernah kasar" Melvin berkata dengan bangganya.


Dinka menepis tangan Melvin. "Berarti kalau kamu gak cinta sama aku sampai sekarang pasti aku bakal di siksa terus gitu" gerutu Dinka. Melvin menggeleng dengan cepat sambil mengulas senyuman yang manis.


"Gak juga sih karena ada anak aku dikandungan kamu, mana tega aku nyiksa kamu sayang" ujar Melvin dengan antusias. Dari luar ruangan Silma mengetuk pintu. "Kenapa?" tanya Melvin sedikit berteriak. "Ini pak saya hanya memberitahukan bahwa sebentar lagi anda akan ada meeting" jawab Silma dari luar.

__ADS_1


Melvin merapihkan dasinya dan kembali memakai jasnya. "Sayang tunggu disini ya aku mau rapat dulu. Kalau lapar atau butuh sesuatu minta tolong Silma aja" jelas Melvin. Dinka mengangguk. Melvin mencium sekilas bibir Dinka.


Karena bosan didalam ruang kerja suaminya, Dinka pun keluar dan mengajak Silma berbincang. Karena Silma yang cerewet dalam waktu singkat mereka bisa langsung akrab. Seperti sudah saling kenal lama.


__ADS_2