
Arya dan sang istri bersiap untuk penerbangannya ke Singapura. Reta dan Dinka ikut mengantarkan ke bandara. Melvin datang lebih dulu dari Alfan dan Serin.
"Melvin Dinka kemarilah" ucap Sarah dengan lemah. Wajahnya terlihat pucat. Namun dia mencoba untuk tersenyum pada mereka.
Melvin dan Dinka berjalan mendekat. "Iya bunda" jawab Dinka dengan lembut. "Bunda ingin kamu cepat mengandung anak dari Melvin" Sarah memegang tangan Dinka.
Dinka tersenyum dan mengangguk. "Kamu jaga baik-baik istrimu ya selama bunda dan ayah ke Singapura jangan sakiti dia" pesan Sarah pada anak laki-lakinya.
"Baik bunda" ucap Melvin tersenyum. "Bunda harus cepat sembuh ya jangan sakit-sakit lagi" sahut Dinka. Sarah mengangguk seraya berkata "Baiklah asalkan bunda dapet cucu dari kalian". Arya hanya tersenyum mendengar ucapan sang istri. Sebenarnya dia juga sudah ingin menimang cucu dari Melvin.
Untuk sementara pernikahan Alfan dan Serin di undur menjadi tahun depan. Karena Sarah harus berobat ke luar negeri.
"Alfan kamu jaga adik-adikmu ya dan jaga tunangan mu dengan baik" pesan sang ayah. "Baik yah" jawab Alfan.
"Untuk perusahaan ayah percayakan pada mu vin" ucap Arya pada Melvin. Arya mendorong kursi roda istrinya masuk kedalam pesawat pribadi. Dibelakang paman Jay diikuti beberapa pengawal. Mereka memang diikut sertakan oleh Arya ke Singapura.
Sepulang dari bandara Melvin mengajak ke sebuah restoran mewah untuk makan malam. Melvin duduk disebelah istrinya berhadapan dengan sang kaka. Serin bersebelahan dengan Reta dan Alfan. Mereka menikmati hidangan makan malam. Dinka pergi sejenak ke toilet.
Bruuuk
Dinka tidak sengaja menabrak seorang pria. "Maaf" ucap Dinka sambil menunduk. Pemuda yang di tabrak mengenali wajah Dinka. "Kamu bukannya yang di toko buku kan?" tanya si pemuda.
Dinka menatap pemuda didepannya. Namun tidak ingat dengan pemuda yang ditemuinya di toko buku. "Kamu gak inget aku?" tanya si pemuda lagi.
__ADS_1
"Maaf" Dinka berjalan kearah toilet. Karena si pemuda merasa tertarik pada Dinka dia meraih tangan Dinka. Dinka tersentak kaget tangannya di pegang. Dia langsung mengibaskan tangan si pemuda.
"Maaf aku hanya ingin berbicara saja" ucap si pemuda. Dinka tidak menggubrisnya dan mempercepat langkah kakinya.
'Sejak dari awal pria itu memang terlihat aneh' gumam Dinka dalam hati. Dinka mencuci tangannya di wastafel. Serin tiba-tiba saja di sebelahnya.
"Beruntungnya ya bisa menikah sama Melvin" ucap Serin sambil mengoleskan lipstik kemulutnya.
Dinka hanya tersenyum melihat Serin lewat cermin didepannya. "Jaga dia baik-baik jangan sampai lolos" celetuk Serin sambil mengedipkan matanya sebelah.
Dinka hanya menatap punggung Serin yang sudah berjalan keluar dari toilet. "Apa maksudnya?" Dinka bertanya sendiri.
Setelah sampai rumah Melvin langsung masuk kedalam ruang kerja. Meneruskan kembali rutinitas malam sebelum tidur. Pekerjaannya akan mulai menumpuk setelah sang ayah pergi.
Pak Mimin mengetok pintu sambil membawakan cemilan dan kopi untuk majikannya. "Tuan muda ini saya letakkan dimeja" ucap pak Mimin. "Apa Alfan sudah kembali?" tanya Melvin.
+++
Pagi yang indah mentari menyinari dunia dengan terangnya. Bertenggerlah mobil sport merah di parkir halaman kampus. Seketika orang disekitar dan para wanita pun menatap kearah sosok pemuda yang turun dari mobil tersebut.
Pemuda itu memakai kemeja dan celana jeans sobek di bagian lutut. Matanya ditutupi dengan kacamata hitam. Sepatu sneakers warna hitam juga melengkapi penampilannya yang terlihat rupawan.
"Wah siapa tuh" ucap para wanita. "Sepertinya mahasiswa baru" sahut wanita yang lain. Terlihat lesung pipit dari senyuman pemuda itu. Dia menatap kearah perempuan yang berdiri di bawah pohon dekat halaman kampus.
__ADS_1
Pemuda itu menghampiri si wanita yang sudah pernah ditemuinya. "Sepertinya dia kuliah disini" ucapnya pada diri sendiri. Dia berjalan mendekati siwanita sambil memegang tas gendongnya.
"Hai" sapanya pada si wanita. Dinka menoleh kearah pemuda yang menyapanya. Si pemuda menampilkan senyum manisnya. "Kita udah ketemu ketiga kali nih tapi belum kenalan" goda si pemuda.
"Nama ku Bobby, nama kamu siapa?" tanya si pemuda. Pas dengan si pemuda mengatakan namanya Reta langsung memanggil Dinka.
"Kakak ipar" teriak Reta. Dinka menoleh kearah Reta. Dia menghampiri Dinka. Terlihat ada seorang pria yang mendekatinya. Reta menggandeng tangan Dinka.
"Kaka ipar?" tanya si pemuda yang bernama Bobby. "Iya benar dia kaka ipar gue" jawab Reta dengan ketus. Bobby tertawa kecil sambil memegang hidup mancungnya. "Tapi gue gak percaya tuh" ungkap Bobby.
"Oiya kamu belum kasih tau nama kamu siapa" tunjuk Bobby pada Dinka. Dinka sama sekali tidak merespon pria dihadapannya.
Karena Reta memakai bahasa informal Bobby juga akan berbicara dengan menggunakan bahasa informal pada Reta. Namun pada Dinka dia akan berbicara dengan bahasa yang lebih sopan.
Reta mendelik menatap pria didepannya. "Kenapa loe deketin dia?" tanya Reta dengan ketus. "Sudah ayo kita pergi" ucap Dinka lirih. Dinka mengajak Reta pergi untuk tidak meladeni pria yang tidak dikenal.
Bobby masuk di fakultas yang sama dengan Dinka dan Reta. Dosen datang diekori oleh beberapa mahasiswa yang lain.
Dikantin kampus Sinta dan antek-anteknya berbincang ria sambil menikmati cemilannya. "Loe lihat gak tadi pagi ada cowok keren" ucap Berta. "Dimana?" tanya Rani. "Makanya kalo mau lihat awalan kek kekampusnya" jawab Berta. Sinta duduk menikmati minuman softdrink nya.
Reta dan Dinka menuju kekantin berbarengan dengan Bobby. Karena sedari tadi memang Bobby selalu mengekor Dinka. Reta menghentikan langkahnya di depan kantin.
"Loe gak cape apa ngikutin kita mulu?" tanya Reta sambil berkacak pinggang. Bobby menggeleng dan tersenyum. "Gue belum lama pindah kesini dan gue gak kenal siapapun disini, jadi gue ngikutin kalian berdua" jelas Bobby. Tapi sebenarnya itu hanya modus agar bisa berdekatan dengan Dinka.
__ADS_1
Reta melihat Bobby dari bawah sampai atas. Kelihatan pria baik-baik dan sedikit polos pikirnya. "Apa gue bisa gabung sama kalian? gue sama sekali belum punya temen" ujar Bobby tersenyum lagi.
Reta manggut-manggut dan bertanya "gak ada motif lain kan?". Bobby menggeleng dengan cepat dan kembali mengumbar senyumnya.