
Alfan sudah bersiap untuk pergi ke rumah Clarisa. Tubuhnya di balut dengan pakaian kasual namun terkesan rapih. Clarisa tidak ada bosennya melihat Alfan. Dia selalu terpesona dengan penampilan Alfan. "Duh tampan banget sih" puji Clarisa sembari tersenyum manis. Alfan hanya tersenyum tipis.
Dengan santainya Clarisa menggandeng tangan Alfan. Tapi Alfan segera melepaskan tangan Clarisa. "Ayo jalan" ajak Alfan. Clarisa membuntutinya di belakang sambil mencoba menggandeng kembali tangan Alfan. "Kamu ini kenapa sih?" Alfan menghentikan langkahnya kakinya. "Aku cuma pengen menggandeng kamu fan, gak boleh ya" Clarisa memasang wajah sedih. "Ayo" Alfan mengajak Clarisa.
Sampai dirumah Clarisa lumayan ramai. 'Bukannya hanya makan malam biasa kenapa harus ramai seperti ini' gumam Alfan dalam hati. Dia merasa ada yang tidak beres. "Ramai sekali, katamu hanya makan malam biasa" ucap Alfan. "Udah ayo kita sapa kedua orangtuaku dulu" Clarisa menarik tangan Alfan dan membawanya menemui orangtua.
"Papih mamih" panggil Clarisa. "Wah calon menantu sudah datang ya" ucap Ranti ibu Clarisa. Alfan tercengang mendengar perkataan dari ibunya Clarisa. "Maksud tante?" tanya Alfan secara langsung. "Eh memang kamu belum tau?" tanya Ranti balik. Alfan menatap ke arah Clarisa dan wajahnya menunjukan penuh tanda tanya. Clarisa hanya menanggapi dengan tersenyum lembut.
"Hari ini hari ulang tahunnya papihnya Clarisa sekaligus acara peresmian hubungan kalian" lanjut Ranti. Alfan mengernyit saking terherannya. Bima dan istrinya kompak melihat satu sama lain. "Memangnya ayah kamu belum memberi tau mu?" tanya Bima yang melihat wajah Alfan kebingungan.
"Ayah gak ngomong apapun padaku om" jawab Alfan dengan cepat. "Hanya pengumuman peresmian saja bukan acara tunangan kok, kamu tidak usah tegang seperti itu" Bima menepuk pundak Alfan perlahan.
"Mari acaranya akan segera dimulai" ajak Bima pada anak dan istrinya. Alfan tidak melangkahkan kakinya. Dia masih bingung dengan situasinya. Clarisa yang sudah berjalan didepan duluan, menengok lagi ke belakang. "Alfan ayo" ucap Clarisa. Alfan masih diam di tempat. Dia hanya memandangi Clarisa dengan serius.
Clarisa kembali mensejajari Alfan dan menggandeng tangan Alfan. "Tunggu ini kayanya ada miskomunikasi deh. Ayah tidak bilang apapun padaku. Tapi kenapa papih kamu bilang kalau kita..." Alfan tidak melanjutkan ucapannya. "Waktu kemaren-kemaren tuh papih aku sama ayah kamu telponan, bicara tentang bisnis. Namun papih juga menginginkan kamu jadi menantunya lalu ayah kamu menyetujuinya" jelas Clarisa secara singkat. Alfan tertegun dengan penjelasan Clarisa yang tidak masuk akal. "Bukannya yang memegang kendali kerjasamanya itu Melvin bukan ayah" sahut Alfan.
__ADS_1
Alfan mencoba menghindar dari masalahnya sekarang. Dia tidak ingin di jodohkan dengan Clarisa. Karena hatinya masih tertulis nama Enzi. Dan ingin memperjuangkan kembali hubungannya dengan sang pujaan hati.
"Maaf aku tidak bisa" Alfan menggeleng dengan cepat. Langkahnya segera menuju ke jalan keluar. "Alfan apa maksud kamu" Clarisa mencoba mengejar Alfan. Tapi Alfan mempercepat langkah kakinya. 'Ayah kenapa harus melakukan semua ini. Apa dia ingin aku menjadi seperti Melvin yang akan melampiaskan kemarahan pada istriku suatu hari nanti karena perjodohan' batin Alfan. Clarisa tidak lagi mengejar langkah Alfan. Untung saja Alfan berhasil kabur dari jeratan Clarisa.
"Tidak. Aku tidak mau seperti itu. Aku hanya ingin menikah dan bahagia dengan orang yang ku cintai" Alfan berbicara sendiri. Ponselnya berbunyi tanda ada sebuah pesan masuk dari sang adik. 'Kak cepat pulang' . Setelah membuka isi pesan Alfan pun segera pulang kerumah.
Sampai didepan rumah ada sekitar lima mobil milik sang ayah terparkir rapih. Alfan terkejut melihat barisan mobil. "Tumben mobil ayah dikeluarkan" Alfan berjalan santai sembari melihat ke barisan mobil.
Di ruang tamu duduklah seorang wanita yang sangat dikasihinya. "Bunda" Alfan menghamburkan dirinya ke pelukan Sarah. "Anak sulung bunda dari mana ini?" tanya Sarah sambil mengelus pundak Alfan.
"Bunda kapan pulang, kenapa tidak memberitahuku?" tanya Alfan tidak sabaran. "Bunda sengaja tidak memberitahu kalian tentang kepulangan kami, bunda ingin membuat surprise untuk kalian" jawab Sarah. Mata Alfan berkaca-kaca melihat ibunda angkatnya yang telah kembali sehat seperti sediakala. "Lalu dimana ayah?" tanya Alfan sambil melihat kesekitar. "Ayah kamu pulang langsung tidur. Sepertinya dia lelah" jawab Sarah.
"Tapi bukannya Melvin sudah tau kepulangan bunda dan ayah?" tanya Alfan. "Bunda juga tidak tau" jawab Sarah sambil menggelengkan kepalanya. "Tapi Melvin mengirimi pesan singkat untuk menyuruh ku pulang" ungkap Alfan.
"Mungkin saja ayah mu atau Jay yang memberitahu pada Melvin " timpal Sarah. "Tapi kalau Melvin tau bunda dan ayah pulang pasti dia juga akan langsung pulang kan" Alfan mengernyit.
__ADS_1
"Bunda juga tidak melihat Reta, dimana dia?" tanya Sarah mengalihkan pembicaraan. "Reta? Tadi sore sewaktu aku di rumah dia juga di rumah bun. Sepertinya dia pergi dengan Bobby" jawab Alfan.
"Wah anak bunda semuanya sudah pada sibuk ya karena punya pasangan masing-masing" ucapan dari Sarah membuat Alfan tersenyum kecut. "Kenapa dengan ekspresi wajahmu ini sayang?" tanya Sarah. Tangannya memegang pipi Alfan. "Tidak bun, hanya saja ada sedikit kesulitan" jawab Alfan sambil tersenyum kembali.
Pak Mimin muncul dengan tiba-tiba. "Maaf saya mengganggu tuan muda dan nyonya" ucap pak Mimin. "Ada apa pak?" tanya Sarah. "Tuan Melvin bilang kalau dia akan pulang malam ini juga" ungkap pak Mimin.
"Bukannya kata dokter Dinka belum di perbolehkan pulang pak" sahut Alfan dengan cepat. "Saya hanya disuruh memberitahukan pada nyonya dan tuan muda" ucap pak Mimin. "Wah itu berarti cucuku juga akan pulang ya" Sarah sangat sumringah.
Tidak lama kemudian Melvin dan sang istri sampai dirumah. Melvin menggendong buah hatinya. Dan Dinka berjalan sambil di tuntun oleh bi Nah. Anggota keluarga sudah menyambut kedatangan seorang malaikat kecil diteras rumah. "Bunda" Melvin hampir berlari menghampiri sang bunda. Namun dia cepat sadar sedang menggendong si kecil. Laju kakinya dipercepat. "Kamu jangan lari dong, kasian anak kamu" Sarah menasihati.
"Maaf bunda reflek" ujar Melvin. "Sini bunda mau menggendongnya" Sarah mengambil alih cucunya dari tangan Melvin. "Selamat datang cucu ku. Tampan sekali kamu" ucap Sarah.
Kelembutan suara Sarah membuat Melvin begitu rindu dengan bundanya. Melvin mencuri pelukan pada sang bunda. "Kamu ini kaya anak kecil deh, minggir bunda lagi menggendong cucu kesayangan nih" gerutu Sarah.
"Bunda apa kabar?" Dinka menyalami mertuanya. "Baik menantuku" jawab Sarah dengan suara lembutnya. Tidak lupa Dinka dan Melvin juga menyalami Rama dan Siti. Mereka semua berjalan masuk kedalam rumah. "Kebetulan sekali semuanya sedang berkumpul disini. Alfan sayang kamu panggilkan ayah kesini ya" perintah Sarah. "Siap bunda" Alfan segera beranjak pergi untuk memanggil Arya yang sedang tidur.
__ADS_1
"Sepertinya sangat mirip dengan Melvin waktu kecil ya, sama sekali tidak ada bedanya. Aku masih ingat betul dengan wajah Melvin sewaktu bayi" ungkap Sarah menatap si kecil. "Iya bayinya tampan seperti nak Melvin" sahut Siti.
Mendengar ucapan dari sang mertua membuat Dinka cemberut. "Padahal aku yang mengandung selama sembilan bulan lebih, aku yang melahirkannya kenapa malah mirip Melvin semua" Dinka memanyunkan bibirnya. Seketika semua yang ada di ruang keluarga tertawa bersama.